Konten dari Pengguna

Jejak dan Langkah Nuruddin bin Ali Ar-Raniri

Berita Update

Berita Update

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi jejak dan langkah Nuruddin bin Ali Ar-Raniri, sumber foto: unsplash.com/Misqal Novio Reeza
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi jejak dan langkah Nuruddin bin Ali Ar-Raniri, sumber foto: unsplash.com/Misqal Novio Reeza

Nuruddin bin Ali Ar-Raniri adalah seorang ulama, cendekiawan, dan penulis yang berasal dari Ranir, sebuah kota di Gujarat, India. Jejak dan langkah Nuruddin bin Ali Ar-Raniri paling banyak ada di Pulau Sumatera.

Nuruddin bin Ali Ar-Raniri pertama kali datang ke Indonesia adalah di tanah Aceh. Akan tetapi kedatangannya tidak langsung mendapatkan sambutan dari penguasa di daerah tersebut.

Jejak dan Langkah Nuruddin bin Ali Ar-Raniri di Indonesia

Ilustrasi jejak dan langkah Nuruddin bin Ali Ar-Raniri, sumber foto: unsplash.com/inlovew photography

Dikutip dari buku Biografi Ulama Nusantara: Disertai Pemikiran dan Pengaruh Mereka, Rizem Aizid, (2016), ulama Nuruddin bin Ali Ar-Raniri lahir pada akhir abad ke-16 dan wafat pada 21 September 1658.

Jejak dan langkah Nuruddin bin Ali Ar-Raniri di Indonesia sebenarnya tidak berjalan mulus pada awalnya. Seperti sudah disinggung di awal bahwa ulama ini sempat mendapatkan penolakan dari pimpinan Aceh saat itu.

Penolakan tersebut karena ajaran yang dibawanya dianggap tidak sesuai dengan paham wujudiyah yang berkembang di Aceh pada saat itu.

Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, ulama yang sangat berpengaruh yaitu Syeikh Samsudin Sumatrani yang merupakan orang kedua setelah Sultan yang bertindak sebagai penasehat dan Mufti kerajaan.

Kondisi tersebut membuat ulama yang kerap dipanggil Ar-Raniry tersebut tidak bisa berbuat banyak. Setelah Syeikh Samsudin wafat, Ar-Raniri kembali ke Aceh dan menetap di Aceh serta mendapatkan perlindungan langsung dari Sultan yang menjabat.

Kemudian Ar-Raniri berhasil menjadi penasehat Kesultanan Aceh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Tsani (Iskandar II) dari tahun 1637 hingga 1644.

Nuruddin Ar-Raniri dikenal sebagai ulama yang memiliki pengetahuan yang luas di berbagai bidang ilmu, seperti fikih, kalam, hadis, sejarah, filsafat, dan sastra. Ia menulis sekitar 29 kitab dalam bahasa Arab dan Melayu, yang paling terkenal adalah Bustanus al-Salatin.

Kitab tersebut adalah sebuah kitab sejarah yang mengisahkan tentang asal-usul dan silsilah para raja-raja Melayu. Kitab ini juga mengandung nasihat-nasihat politik dan moral bagi para penguasa dan rakyat.

Nuruddin Ar-Raniri juga berperan dalam menyebarkan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar ilmu agama Islam di Asia Tenggara. Ia mengajarkan bahasa Melayu kepada para ulama dan murid-muridnya di Aceh dan Malaka.

Nuruddin Ar-Raniri adalah salah satu ulama yang berjasa dalam mengembangkan Islam di Nusantara. Ia membawa tradisi Islam yang bersumber dari Al-Quran, As-Sunnah, dan pemahaman ulama salaf.

Ia juga mengkritik dan menolak tradisi lokal yang bertentangan dengan syariat Islam. Ia berusaha menghubungkan tradisi Islam di Timur Tengah dengan tradisi Islam Nusantara dengan cara yang harmonis dan moderat.

Baca juga: Lirik Mars Fatayat Lengkap dalam Nahdlatul Ulama

Itulah penjelasan mengenai jejak dan langkah Nuruddin bin Ali Ar-Raniri di Indonesia, khususnya di Aceh. Informasi ini semoga menjadi pengetahuan yang berguna. (WWN)