Konten dari Pengguna

Kapan dan di Mana Istilah Bhineka Tunggal Ika Ditemukan? Ini Asal-usulnya

Berita Update

Berita Update

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Foto: Unsplash

Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan nasional Indonesia yang berarti "Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu". Semboyan ini tertulis di pita yang dicengkeram oleh burung Garuda Pancasila, lambang negara Indonesia.

Semboyan ini menggambarkan semangat persatuan dalam keberagaman yang menjadi identitas bangsa. Namun, kapan dan di mana istilah Bhinneka Tunggal Ika pertama kali ditemukan? Simak jawabannya di bawah ini.

Asal-Usul Istilah Bhineka Tunggal Ika

Ilustrasi semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Foto: Unsplash

Mengutip buku Indonesiaku Bhinneka Tunggal Ika oleh Isra Widya Ningsih, dkk., istilah Bhineka Tunggal Ika pertama kali muncul pada abad ke-14, yaitu pada masa Kerajaan Majapahit.

Semboyan Bhineka Tunggal Ika dapat ditemukan dalam karya sastra kuno berjudul "Kakawin Sutasoma", yang ditulis oleh Mpu Tantular pada abad XIV di masa Kerajaan Majapahit.

Pada masa itu, pusat kerajaan berada di Trowulan, Jawa Timur. Trowulan dikenal sebagai pusat kebudayaan dan pemerintahan Majapahit, tempat banyak karya sastra dan seni budaya diciptakan.

Sebagai informasi, Kakawin Sutasoma adalah sebuah puisi epik berbahasa Jawa Kuno yang memuat ajaran moral, nilai-nilai kebajikan, dan pesan persatuan.

Baca Juga: 7 Cara Mempromosikan Semboyan Bhinneka Tunggal Ika

Makna Istilah Bhineka Tunggal Ika

Ilustrasi semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Foto: Pixabay

Secara harfiah, Bhineka Tunggal Ika berarti "Berbeda-beda tetapi tetap satu". Dengan makna "Berbeda-beda tetapi tetap satu", semboyan ini menjadi dasar persatuan bangsa Indonesia.

Bhineka Tunggal Ika mencerminkan gagasan bahwa meskipun masyarakat Majapahit terdiri dari berbagai suku, agama, dan budaya, mereka tetap dapat hidup berdampingan dalam harmoni.

Dr. Laros Tuhuteru, M.Pd menerangkan dalam buku Pendidikan Pancasila Perguruan Tinggi, semboyan Bhineka Tunggal Ika dalam Kakawin Sutasoma merujuk pada ajaran toleransi antaragama, khususnya antara Hindu dan Buddha.

Mpu Tantular menekankan bahwa perbedaan keyakinan tidak seharusnya menjadi alasan untuk konflik, melainkan menjadi kekuatan untuk bersatu.

Relevansi Bhineka Tunggal Ika di Era Modern

Bhineka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan, tetapi juga warisan budaya dan sejarah yang mengajarkan pentingnya persatuan. Oleh karena itu, semboyan ini masih tetap relevan meski zaman sudah semakin modern. Relevansi tersebut mulai dari:

1. Sebagai Semboyan Negara

Istilah Bhineka Tunggal Ika diabadikan sebagai semboyan resmi negara Indonesia dan tercantum dalam lambang negara, Garuda Pancasila. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya nilai persatuan dalam keberagaman bagi bangsa Indonesia.

2. Pilar Persatuan Bangsa

Indonesia adalah negara yang terdiri dari lebih dari 17.000 pulau, 1.300 suku, dan 700 bahasa daerah. Dalam keberagaman ini, semboyan Bhineka Tunggal Ika menjadi pengingat bahwa perbedaan adalah kekayaan yang harus dirayakan, bukan dijadikan alasan untuk perpecahan.

3. Inspirasi dalam Kehidupan Sehari-Hari

Nilai Bhineka Tunggal Ika juga relevan dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam interaksi sosial, pendidikan, dan politik. Semangat toleransi yang diajarkan oleh Mpu Tantular tetap menjadi pedoman dalam menjaga harmoni di tengah perbedaan.

(NDA)