Keunikan Bahtsul Masail sebagai Tradisi Musyawarah dalam Islam

Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu mendengar istilah Bahtsul Masail dalam agama Islam? Mengutip pendapat KH Sahal Mahfudh, disebutkan bahwa bahtsul masail tak jauh beda dengan istinbath (pengambilan hukum) atau ijtihad. Kedua istilah ini cenderung luar biasa di lingkungan pesantren NU, maka kemudian digunakan istilah bahstul masail.
Dalam buku Tradisi Intelektual NU: Lajnah Bahtsul Masail 1926-1999 (67:2004), Bahtsul Masail merupakan sebuah forum resmi yang memiliki kewenangan menjawab segala permasalahan keagamaan yang dialami oleh Nahdliyyin. Di forum ini, berbagai macam persoalan keagamaan yang belum ada hukumnya, dalam forum ini pula kemungkinan adanya pencetusan ide-ide baru.
Keunikan Bahtsul Masail dalam Agama Islam
Bahtsul masail ini memiliki lima keunikan atau kekhasan tersendiri. Berikut beberapa keunikan yang dimiliki oleh Bahtsul Masail yang perlu diketahui umat muslim.
Pertama, selalu menyertakan kutipan teks bahasa Arab. Dalam forum ini hanya mengutip kitab-kitab yang berbahasa Arab. Sedangkan ulama NU banyak yang menulis menggunakan bahasa Indonesia dan pegon. Sehingga karya non bahasa Arab tersebut tak diikutkan dalam kutipan. Padahal isinya pun tak kalah dengan kitab Arab.
Kedua, tidak langsung mengutip hadits dan Alquran. Hal yang sangat berbahaya jika langsung merujuk pada Alquran. Hal ini dikarenakan Alquran memiliki makna dan tafsiran yang banyak sekali. Kalau langsung mengutip Alquran, maka dikhawatirkan akan merujuk arti yang satu yaitu arti terjemahan.
Ketiga, anggotanya forum ini tidak tetap. Para anggota yang bersidang di sebuah forum bahtsul masail selalu melakukan pergantian. Namun yang pasti, anggota yang ikut dalam sidang forum bahtsul masail memiliki kecakapan dalam bidang keilmuan Islam.
Keempat, adanya konsep bersama-sama (jama’i). Forum ini diselenggarakan di lingkungan NU dan pasti melibatkan banyak orang dari berbagai macam disiplin ilmu seperti ushul fiqih, fiqih, hadist, dan lainnya. Di sini, sebuah persoalan dilihat dan ditinjau secara komprehensif.
Kelima, mengutip pendapat ulama secara qouliyah. Di forum-forum NU ini, para peserta seringkali merujuk kepada pendapat ulama terdahulu dalam menyikapi sebuah masalah. Biasanya mereka ‘menarik pendapat terdahulu dengan persoalan yang sedang terjadi saat ini.
Demikianlah ulasan mengenai keunikan yang terdapat dalam Bahtsul Masail. Semoga bermanfaat! (ANG)
