Kumpulan Puisi Taufiq Ismail yang Populer Sepanjang Masa

·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Taufiq Ismail merupakan penyair Indonesia yang dikenal luas sebagai tokoh sastrawan Angkatan ’66 yang lahir di Bukittinggi, 25 Juni 1935. Dikutip dari buku Think Smart Bahasa Indonesia untuk Kelas XI SMA/MA Program Bahasa yang ditulis oleh Ismail Kusmayadi, dkk (2008: 139), angkatan ’66 ditandai dengan terbitnya majalah sastra Horison. Pelopornya adalah Taufiq Ismail sendiri yang dikenal dengan puisi-puisi demonstrasi. Adapun konsep dari angkatan ’66 adalah “Manifes Kebudayaan”, yang mana semangat avant-garde sangat menonjol pada angkatan ini.
Dikutip dari buku Cendekia Berbahasa: Bahasa dan Sastra Indonesia yang ditulis oleh Erwan Juhara, dkk (2005: 159), angkatan ’66 muncul setelah peristiwa aksi yang dilancarkan gerakan pemuda dan seniman pada tahun 1966. Aksi tersebut memprotes kesewenang-wenangan penguasa saat itu. Oleh karena itu, angkatan ’66 banyak menyuarakan suara protes, kebangsaan, dan situasi pada saat itu.
Ada banyak karya sastra yang sangat beragam dalam aliran sastra. Adapun Penerbit Pustaka Jaya juga sangat membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa angkatan ’66.
Nah, artikel kali ini akan membahas lebih lanjut mengenai kumpulan puisi Taufiq Ismail yang populer sepanjang masa.
Kumpulan Puisi Taufiq Ismail
Berikut adalah kumpulan puisi Taufiq Ismail yang populer sepanjang masa:
Karangan Bunga
Tiga anak kecil
Dalam langkah malu-malu
Datang ke salemba
Sore itu.
“Ini dari kami bertiga
Pita hitam pada karangan bunga
Sebab kami ikut berduka
Bagi kakak yang ditembak mati
Siang tadi
Dengan Puisi, Aku
Dengan puisi aku bernyanyi
Sampai senja umurku nanti
Dengan puisi aku bercinta
Berbatas cakrawala
Dengan puisi aku mengenang
Keabadian Yang Akan Datang
Dengan puisi aku menangis
Jarum waktu bila kejam mengiris
Dengan puisi aku mengutuk
Nafas zaman yang busuk
Dengan puisi aku berdoa
Perkenankanlah kiranya
Kerendahan Hati
Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
Yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
Yang tumbuh di tepi danau
Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
Memperkuat tanggul pinggiran jalan
Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air
Tidaklah semua menjadi kapten
Tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
Rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri
Semoga informasi ini bermanfaat! (CHL)
