Konten dari Pengguna

Makna Bahtsul Masail dalam Organisasi Agama Islam Nahdlatul Ulama

Berita Update

Berita Update

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi makna bahtsul masail dalam organisasi Nahdlatul Ulama. Foto: unsplash.com/raimondklavins
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi makna bahtsul masail dalam organisasi Nahdlatul Ulama. Foto: unsplash.com/raimondklavins

Dalam memecahkan sebuah permasalah baru antara umat bergama Islam, salah satu caranya adalah dengan melaksanakan pembahasan para orang-orang yang memiliki pemahaman tinggi dalam keilmuan agama Islam. Penjelasan tersebut adalah bahtsul masail. Berbeda dengan keputusan lainnya, keputusan bahtsul masail dilakukan di lingkungan Nahdlatul Ulama saja. Untuk mengetahui lebih jelasnya, berikut makna bahtsul masail dalam menyelesaikan sebuah masalah.

Makna Bahtsul Masail dalam Organisasi Agama Islam Nahdlatul Ulama

Dikutip dari buku Tradisi Intelektual NU; Lajnah Bahtsul Masail 1926-1999 karya Ahmad Zahro (2004:67), secara harfiyah, bahtsul masail merupakan cabang ilmu utama yang dipelajari para santri di sebuah pesantren.

Sementara realitas, bahtsul masail merupakan pengkajian terhadap masalah-masalah agama yang tidak ada dalam penjelasan sumber hukum agama Islam, seperti Al-Quran, hadits, hingga ijma yang tidak sampai ke pengambilan hukum atau ijtihad.

Pada dasarnya, bahtsul masail digunakan pada lingkungan Nahdlatul Ulama, atau pondok pensantren dalam menjawab permasalahan keagamaan yang diahadaipi masyarakat. Akan tetapi kegiatan ini juga dilaksanakan dalam ruang lingkup nasional.

Ilustrasi bahtsul masail untuk menjawab permasalahan yang tidak ada dalam organisasi Nahdlatul Ulama. Foto: unsplash.com/andrewlancaster

Meski demikian, terdapat beberapa hal unik dari kegiatan yang satu ini. Seperti yang dilansir dari laman nu.or.id yakni:

  1. Konsep bersama-sama (jama’i). Forum bahtsul masail yang diselenggarakan di lingkungan NU pasti melibatkan banyak orang dari berbagai macam disiplin ilmu seperti fiqih, ushul fiqih, hadist, dan lainnya. Di sini, sebuah persoalan dilihat dan ditinjau secara komprehensif.

  2. Tidak mengutip langsung Al-Qur’an dan hadist. Mengapa? Al-Qur’an itu memiliki makna dan tafsiran yang banyak sekali. Kalau langsung mengutip Al-Qur’an, maka dikhawatirkan akan merujuk arti yang satu yaitu arti terjemahan.

  3. Mengutip pendapat ulama secara qouliyah. Di forum-forum bahtsul masail, para peserta seringkali merujuk kepada pendapat ulama terdahulu dalam menyikapi sebuah masalah. Biasanya mereka menarik pendapat terdahulu dengan persoalan yang sedang terjadi saat ini.

  4. Selalu mengutip teks-teks berbahasa Arab. Hal ini adalah sesuatu yang problematis karena yang dikutip dalam bahtsul masail hanya kitab-kitab yang berbahasa Arab.

  5. Para anggota yang bersidang di sebuah forum bahtsul masail tidak lah tetap. Biasanya mereka berganti-ganti. Namun yang pasti, anggota yang ikut bersidang dalam bahtsul masail memiliki kecakapan dalam bidang keilmuan Islam.

Di kepengurusan besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tidaklah memiliki lembaga bahtsul masail. Meski demikian, mereka hanya bertugas sebagai panitia penyelenggara. Sedangakan pesertanya terdiri dari kyai-kyai di seluruh pesantren NU. (MZM)