Konten dari Pengguna

Makna dari Wasilah dan Tabarruk Bagi Aswaja dalam Mencari Keberkahan dalam Islam

Berita Update

Berita Update

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi wasilah dan tabarruk bagi aswaja dalam mencari keberkahan dari Allah SWT. Foto: unsplash.com/masjidmaba
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi wasilah dan tabarruk bagi aswaja dalam mencari keberkahan dari Allah SWT. Foto: unsplash.com/masjidmaba

Doa merupakan sebuah kewajiban manusia kepada Sang Pencipta. Doa juga merupakan bentuk merendah dan memahami berapa lemahnya manusia apabila tanpa bantuan Allah SWT. Sebagai seorang yang aswaja, agar doa yang dipanjatkan mendapat keberkahan dari Allah SWT, berwasilah dan tabarruk menjadi hal yang harus dilakukan. Lantas apa makna dari wasilah dan tabarruk bagi aswaja dalam rangka mencari keberkahan dalam Islam?

Makna dari Wasilah dan Tabarruk Bagi Aswaja dalam Mencari Keberkahan dalam Islam

Muhammad Ropi’i dalam buku Hujjah Amaliyah Ahlusunnah Waljama’ah (2022), menjelaskan:

Wasilah

Secara bahasa, wasilah berasal dari kata al-qasilah yang artinya segala hal yang dapat menyampaikan serta dapat mendekatkan kepada sesuatu. Selain itu, wasilah juga mempunyai makna sebagai kedudukan raja, derajat, dan kedekatan.

Sementara secara istilah, wasilah adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT berupa ketaatan.

Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al-Maidah: 35)

Tabarruk

Tabaruk secara bahasa memiliki arti mengharap keberkahan. Sementara secara istilah diartikan sebagai menjadikan seseorang, tempat, atau sesuatu yang diharapkan keberkahannya sebagai perantara menuju Allah SWT.

Misalnya adalah pada tempat yang memiliki keberkahan seperti Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsa. Bahkan seorang umat Islam yang beribadah di Masjidil Haram akan mendapatkan 100 ribu, Masjid Nabawi 10 ribu, dan Masjidil Aqsa seribu.

Ilustrasu wasilah dan tabaruk. Foto: unsplash.com/mufidpwt

Tabarruk merupakan salah satu bentuk praktik dari wasilah. Sebagaimana yang pernah dicontohkan dalam sebuah hadits dari Anas bin Malik ra,

Pernah terjadi musim kemarau pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hari Jum’at. Tiba-tiba berdirilah seorang Arab Badui, ia berkata: ‘Wahai Rasulullah, telah musnah harta dan telah kelaparan keluarga.’ Lalu Rasulullah mengangkat kedua tangannya seraya berdo’a: ‘Ya Allah turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami.” Tidak lama kemudian turunlah hujan.” (HR. Al-Bukhari no. 932)

Namun yang perlu digaris bawahi dalam hal wasilah dan tabarruk adalah segala sesuatu, baik itu manusia, tempat, atau hal-hal lainnya tidak dapat mendatangkan maslahat namun malah mendatangkan mafsadat. Contohnya adalah meminta doa kepada orang yang sudah meninggal, menyembah berhala, dan lainnya.

Wallahu a’lam. (MZM)