Manfaat Peristiwa Rengasdengklok bagi Rakyat Indonesia

ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Peristiwa rengasdengklok memberikan manfaat yaitu disepakatinya pelaksanaan proklamasi kemerdekaan.
Mengutip buku Pasti Bisa Sejarah Indonesia untuk SMA/MA Kelas XI (2019), Rengasdengklok adalah suatu peristiwa yang melekat di sepanjang sejarah Indonesia. Rengasdengklok merupakan peristiwa penculikan Soekarno dan Hatta yang terjadi pada 16 Agustus 1945.
Peristiwa Rengasdengklok mempunyai makna yang mendalam atas terselenggaranya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Rengasdengklok tidak hanya sebuah nama tempat, tetapi menjadi saksi bisu kebebasan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan.
Peristiwa ini terjadi karena adanya perbedaan opini antara golongan tua dengan golongan muda tentang waktu proklamasi kemerdekaan.
Latar Belakang Rengasdengklok
Rengasdengklok merupakan peristiwa yang berkaitan dengan pelaksanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.
Pada masa itu, Indonesia diduduki oleh bangsa Jepang yang ingin membangun kerajaan Asia Timur Raya di masa Perang Dunia II.
Jepang mengalami kekalahan yang rupanya berdampak besar terhadap Indonesia. Sejak saat itu, golongan tua dan golongan muda sering bertentangan pendapat, termasuk pada saat ingin melangsungkan proklamasi.
Namun, berkat kegigihan dan kesungguhan para pemuda, Indonesia bisa memproklamasikan kemerdekaan.
Sutan Syahrir yang mendengarkan berita tentang kekalahan Jepang melalui saluran radio gelap akhirnya mendesak Soekarno-Hatta untuk lekas memproklamirkan kemerdekaan.
Namun, Soekarno-Hatta ingin agar proklamasi dilaksanakan melalui PPKI yang merupakan badan organisasi bentukan Jepang. Para golongan muda yang merasa tidak puas dengan jawaban tersebut akhirnya menculik Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok untuk menyadarkan mereka agar tidak terlalu bergantung pada Jepang.
Manfaat Peristiwa Rengasdengklok
Disadari atau tidak, peristiwa penculikan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok ini membawa pengaruh besar terhadap perkembangan bangsa Indonesia. Bayangkan jika para golongan muda tidak lekas menculik golongan tua, lalu apakah proklamasi bisa dikumandangkan secepat itu?
Golongan tua selaku pihak yang memegang jabatan tinggi memang cenderung lebih berhati-hati dan selektif dalam menentukan pergerakan arah. Hal ini bisa jadi karena beban yang mereka bawa sudah terlalu besar, sehingga jika sampai salah langkah, maka bisa jadi rakyat biasa yang menjadi korbannya. Oleh karena itu, golongan tua lebih waspada dalam memilih hari proklamasi kemerdekaan.
Sementara itu, golongan muda dinilai lebih tanggap dalam merespon situasi. Mereka yang masih memiliki semangat dan jiwa muda seakan tidak takut dalam mengambil berbagai risiko, termasuk dalam menjalankan proklamasi kemerdekaan.
Peristiwa Rengasdengklok pada akhirnya mempercepat terselenggaranya proklamasi kemerdekaan Indonesia. Hal ini juga tidak bisa lepas dari kebijakan golongan tua yang setuju dengan pelaksanaan proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.
Barangkali, jika tidak ada peristiwa Rengasdengklok, belum tentu proklamasi kemerdekaan dapat terwujud. Mengingat, kesempatan tidak selalu datang dua kali, sehingga 17 Agustus 1945 adalah momen terbaik untuk memproklamasikan kemerdekaan.
(DLA)
