Konten dari Pengguna

Nama Ayah Nabi Muhammad SAW yang Hampir Dikorbankan Kakeknya

Berita Update

Berita Update

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kisah ayah Nabi Muhammad SAW. Foto: unsplash.com/esh3rwy
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kisah ayah Nabi Muhammad SAW. Foto: unsplash.com/esh3rwy

Sebagai umat Islam, mengetahui sejarah Nabi Muhammad SAW menjadi sebuah kewajiban. Pasalnya dalam kisah-kisah perjalanan hidup sang pemimpin umat Islam pasti ada pesan yang dapat dipetik. Salah satunya adalah kisah kelahiran dari sang nabi terakhir. Sebagaimana yang diketahui, Nabi Muhammad terlahir sebagai kaum Quraisy yang sangat terhormat.

Keluarganya memiliki karakter yang sangat baik, menghormati adat, agama, dan aturan para leluhur, terutama sang ayah. Sosok ayah Nabi Muhammad bernama Abdullah bin Abdul Muthalib. Untuk mengetahui kisah hidupnya, simak penjelasan singkat berikut.

Nama Ayah Nabi Muhammad SAW yang Hampir Dikorbankan Kakeknya

Dikutip dari buku Sejarah Terlengkap Nabi Muhammad SAW: Dari Sebelum Masa Kenabian hingga Sesudahnya karya Abdurrahman bin Abdul Karim (2016:94), ayah Nabi Muhammad SAW bernama Abdullah bin Syaibah atau yang dikenal dengan Abdullah bin Abdul Muthalib. Ia meninggal dalam usia muda saat perjalanan kafilah antara Makkah dan Madinah.

Semasa hidupnya, ia merupakan seorang pedagang di Makkah. Abdullah dikenal sebagai pria yang tanpan dan banyak dikagumi wanita. Pada akhirnya, ia menikah dengan Aminah binti Wahb bin Abdu Manaf.

Ilustrasi kisah ayah Nabi Muhammad SAW, Abdullah bin Abdul Muthalib. Foto: unsplash.com/hellocolor

Hampir Dikorbankan

Pada zaman dahulu, Abdullah hambir disembelih. Hal tersebut karena Abdul Muthalib pernah menggali zam-zam, namun banyak suku Quraisy yang berusaha merebut atau meminta agar dimiliki bersama. Namun Abdul Muthalib tidak bersedia. Akan tetapi ia tidak memiliki keturunan laki-laki. Pada akhirnya ia bernadzar jika memiliki 10 anak laki-laki, maka salah satunya akan ia sembeli.

Ketika sudah memiliki 10 anak laki-laki, ia pun melaksanakan nadzarnya. Abdul Muthalib menyampaikan maksud kepada seluruh anaknya dan mereka pun menaatinya. Kemudian diadakan undian dan keluarlah nama Abdullah.

Abdul Muthalib berbisik kepada Abdullah menuju Kabah dengan membawa sebilah pisau untuk menyembelihnya. Banyak orang yang melarangnya, terutama paman-pamannya hingga saudaranya Abu Thalib.

Kemudian seorang dukun perempuan menyarankannya untuk menulis nama Abdullah dan 10 unta dan melakukan undian.

Lalu dia pun mengambil dan nama Abdullah yang keluar. Kemudian diundi lagi hingga 10 kali dan akhirnya keluar 10 unta. Sejak saat itu, Abdul Muthalib mengganti nadzarnya dengan 100 untu.

Sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas,

Dulu Abdul Muthalib pernah bernadzar, jika dia memiliki 10 anak lelaki maka akan menyembelih salah satunya. Ketika Abdul Muthalib memiliki 10 anak lelaki, dia mengundi siapa anaknya yang akan disembelih. Ternyata yang keluar nama Abdullah. Sementara Abdullah adalah anaknya yang paling dia cintai. Kemudian Abdul Muthalib mengatakan, “Ya Allah, Abdullah atau 100 ekor onta.” Kemudian dia mengundi antara Abdullah dan 100 onta. Lalu keluar 100 ekor onta.” (Tarikh at-Thabari, 1/497)

Dari kisah di atas menggambarkan betapa taatnya sang kakek dan ayah Nabi Muhammad SAW walaupun harus mengorbankan hal yang dicintainya. (MZM)