Konten dari Pengguna

Nonton Film R Rated Bareng Anak? Big No No!

Berita Update

Berita Update

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Unsplash

Nonton film bareng sekeluarga tentu menjadi acara yang mengasyikkan, terutama di akhir pekan. Namun, jika ada yang masih ada anak-anak dalam keluarga Anda, maka sebaiknya Anda memilih film yang memang diperuntukkan bagi semua umur untuk ditonton.

Mengapa harus begitu? Karena anak-anak pada usia dini seperti ini memang belum saatnya dipertontonkan berbagai adegan film yang bisa mengganggu psikisnya, seperti dalam film-film dengan rating R, atau R rated. Karenanya sebelum mulai acara nonton film bareng sekeluarga, ada baiknya Anda mencari dulu informasi mengenai rating film yang bersangkutan.

Agar Anda lebih paham soal rating film ini, berikut adalah beberapa pedoman mengenai tontonan seperti apa yang sesuai dengan usia anak-anak, seperti yang dilansir oleh situs Common Sense Media.

Panduan Nonton Film Bersama Anak

  • Anak-anak berusia 2-4 tahun, masih boleh melihat cartoon violence, atau adegan "kekerasan" dalam film kartun. Tapi jauhkan mereka dari apa pun yang menunjukkan agresi fisik sebagai alat resolusi konflik, karena mereka akan meniru apa yang mereka lihat.

  • Anak usia 5-7 tahun, sudah bisa menerima dengan baik adegan kekerasan kartun yang sedikit lebih kasar, ketegangan, dan kekerasan fantasi. Namun, adegan kekerasan yang bisa mengakibatkan kematian atau cedera serius sebaiknya masih dihindarkan.

  • Anak-anak usia 8-10 tahun dapat menangani adegan pertempuran yang melibatkan pedang, atau aksi tembak-menembak selama tidak ada adegan gore atau adegan berdarah-darah.

  • Anak usia 11-12 tahun, sudah bisa memahami dengan baik adegan pertempuran yang terjadi dalam sejarah (pernah benar-benar terjadi), dan pertempuran fantasi. Namun, pastikan tidak ada adegan penuh darah yang terlalu detail, apalagi yang juga melibatkan seksualitas atau nudity, dan rasis.

  • Anak-anak usia 13-17 tahun sudah lebih paham akan adegan tembak menembak, ledakan, dan kekerasan yang dipoles dengan efek berteknologi tinggi. Juga sudah mengerti mengenai adegan kecelakaan dengan kerusakan parah atau yang menyebabkan kematian. Namun, tetap perlu Anda dampingi dan berikan pengertian secara simultan, bahwa kekerasan yang ditampilkan dalam film tersebut akan membawa banyak rasa sakit dan penderitaan pada orang lain. Batasi waktu juga, jangan biarkan mereka terlalu banyak terpapar adegan kekerasan seperti ini.

Nah, untuk dapat mengenali bagaimana efek sebuah film terhadap perilaku si kecil, setiap kali Anda selesai nonton film bareng, amatilah ia. Anda bisa bertanya, apa pendapatnya mengenai film yang baru saja ditontonnya. Perhatikan, apakah ada kebiasaan si kecil yang lantas berubah setelah Anda nonton film.

Satu hal yang pasti, snak-anak mungkin memang belum bisa mengutarakan pendapatnya dengan tepat, namun anak-anak selalu menemukan cara untuk mengungkapkannya selain dengan cara verbal. Ada anak yang lantas mengungkapkannya melalui tindak tanduk, ada pula yang mengungkapkan pendapatnya melalui gambar yang dibuatnya.

Jadi, misalnya, jika si kecil mulai menggambar hal-hal yang tidak biasa, yang diakuinya terinspirasi oleh film yang baru saja ditontonnya, berarti Anda mungkin harus sudah mulai waspada. (carra)