Orang yang Pertama Kali Menggunakan Istilah Globalisasi dan Makna di Baliknya

·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Orang yang pertama kali menggunakan istilah globalisasi seringkali menjadi titik awal perbincangan menarik tentang bagaimana dunia dipahami sebagai sebuah ruang tanpa batas.
Istilah ini lahir bukan sekadar sebagai kata baru, melainkan sebagai upaya untuk menjelaskan fenomena besar yang mengubah wajah peradaban.
Globalisasi sendiri dipandang sebagai gambaran nyata dari keterhubungan manusia lintas negara, budaya, dan sistem ekonomi yang semakin sulit dipisahkan.
Orang yang Pertama Kali Menggunakan Istilah Globalisasi
Orang yang pertama kali menggunakan istilah globalisasi adalah Theodore Levitte, yang memperkenalkannya pada tahun 1985. Sejak itulah istilah globalisasi mulai dikenal luas dan kemudian menjadi bagian penting dalam percakapan dunia modern.
Kata ini tidak hanya muncul sebagai istilah akademis, melainkan juga menjadi simbol perubahan besar yang menandai era baru, ketika batas geografis, budaya, dan ekonomi perlahan memudar.
Dikutip dari buku Perkembangan Ilmu Hukum di Era Globalisasi karya Dr. Henny Saida Flora, S.H., M.Hum., M.Kn., MH.Kes, dkk., mengungkapkan bahwa globalisasi dipahami sebagai fenomena yang mampu menjelaskan keterhubungan manusia lintas negara yang semakin intensif dan cepat, sehingga dunia terasa lebih menyatu.
Pandangan terhadap globalisasi tidaklah tunggal. Ada yang menganggapnya sebagai peluang besar, sebab membuka ruang kerja sama ekonomi, pertukaran pengetahuan, dan penyebaran teknologi.
Akan tetapi, sebagian lainnya menilainya secara kritis, karena globalisasi juga membawa dampak yang tidak selalu menguntungkan.
Dengan kata lain, globalisasi tidak hanya dilihat sebagai sesuatu yang netral, melainkan sebagai proses yang sarat kepentingan dan sering kali menimbulkan ketimpangan.
Dalam sudut pandang kritis, globalisasi dianggap sebagai wujud kapitalisme mutakhir. Negara-negara kuat dan kaya cenderung menguasai perekonomian global, sedangkan negara kecil semakin sulit bersaing karena keterbatasan yang dimiliki.
Akibatnya, ketimpangan dunia semakin tajam, sehingga pihak yang lemah kerap tersisih. Selain itu, globalisasi tidak hanya menyentuh ranah ekonomi, tetapi juga memengaruhi budaya, agama, serta nilai-nilai sosial yang telah lama mengakar.
Hal inilah yang memunculkan kekhawatiran, karena identitas lokal berisiko hilang di tengah derasnya arus global.
Meskipun demikian, globalisasi merupakan kenyataan yang tidak bisa dihindari. Kehadirannya menunjukkan bahwa kehidupan manusia kini berada dalam jejaring luas yang saling berkaitan.
Oleh sebab itu, perdagangan, arus informasi, serta pertukaran gagasan terjadi begitu cepat, sehingga batas wilayah antarbangsa semakin kabur.
Pada akhirnya, istilah globalisasi yang pertama kali digunakan Theodore Levitte tidak lagi dipandang sekadar istilah baru, melainkan cermin dari perubahan besar yang terus berlangsung dan membentuk cara manusia berhubungan dalam dunia modern. (KIKI)
Baca juga: 5 Ciri-Ciri Makhluk Hidup dan Penjelasannya
