Pengertian Jual Beli dalam Islam beserta Rukun, Hukum, dan Syaratnya
Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jual beli merupakan kegiatan yang sudah ada sejak zaman nenek moyang. Agama Islam memiliki definisinya tersendiri dalam memaknai kegiatan jual beli. Dalam pandangan agama ini, jual beli merupakan suatu kegiatan tukar menukar barang atau memindahkan kepemilikan benda tertentu dengan akad yang saling mengganti. Layaknya aktivitas ibadah, jual beli juga memiliki rukun, hukum, dan syarat tertentu dalam pelaksanaannya. Jadi, aktivitas perdagangan ini tidak bisa dilakukan sesuka hati tanpa memperhatikan kaidah yang berlaku.
Agar semakin memahaminya, mari mempelajari pengertian jual beli dalam agama Islam beserta rukun, hukum, dan syaratnya di artikel ini.
Pengertian Jual Beli dalam Islam
Mengutip buku Pendidikan Agama Islam oleh Rosidin (2020), jual beli menurut ulama Hanafi adalah aktivitas tukar-menukar barang atau harta dengan hal yang memiliki nilai sama dengan cara tertentu. Jual beli juga diartikan sebagai kegiatan tukar-menukar barang bernilai dengan yang semacamnya secara sah dan ijab-qabul.
Jual beli merupakan kegiatan menukarkan benda dengan dua mata uang tertentu, yakni emas, perak atau semacamnya. Jual beli perlu dilakukan melalui ijab dan qabul atau dengan saling memberikan barang sesuai harga yang dibandrol oleh pembeli.
Rukun Jual Beli
Menurut mazhab Hanafi, rukun jual beli dalam Islam hanya sebatas pada ijab dan qabul saja. Namun apabila mempertimbangkan pendapat dari jumhur ulama, maka rukun jual beli mencakup sebagai berikut:
• Orang yang Berakad (Penjual dan Pembeli)
• Sighat
• Ada Nilai Tukar Pengganti Barang
• Ada Barang yang Dibeli
Syarat Jual Beli
Setelah rukun jual beli dilakukan, maka penjual dan pembeli juga perlu mematuhi syarat sah jual beli. Adapun syarat jual beli yaitu baligh, berakal sehat, melakukan akad atas kehendaknya sendiri (bukan paksaan), dan tidak mubazir.
Setelah syarat ini terpenuhi, maka perjanjian jual beli dapat dibuat dan harus selalu didasarkan pada kesepakat antara penjual dan pembeli.
Hukum Jual Beli
Hukum jual beli dalam Islam merujuk pada Alquran dan hadist. Jika mengacu pada Alquran, maka ayat yang bisa menjadi rujukan yakni Surat Al-Baqarah Ayat 198, Surat Al-Baqarah Ayat 275, dan Surat An-Nisa Ayat 29.
Adapun jika merujuk pada hadist, maka dapat mengacu pada hadist berikut:
“Seorang laki-laki bercerita kepada Rasulullah SAW bahwa dia ditipu orang dalam hal jual beli. Maka beliau bersabda, “Apabila engkau berjual beli, maka katakanlah,‛tidak boleh ada tipuan’.”
Pengertian, rukun, dan syarat jual beli hendaknya benar-benar diperhatikan oleh umat Islam agar transaksi dapat bernilai sah dan halal. (DLA)

