Perang Diponegoro: Latar Belakang, Tokoh, dan Dampak bagi Pemerintahan Belanda

ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perang Jawa atau yang sering kita sebut dengan Perang Diponegoro adalah pertempuran melawan Belanda secara gerilya yang berlangsung selama 5 tahun (1825-1830).
Perang Jawa tersebut lebih dikenal dengan sebutan Perang Diponegoro karena tokoh sentralnya memang adalah Pangeran Diponegoro yang berasal dari Jawa Tengah.
Latar Belakang Perang Diponegoro
Pangeran Diponegoro lahir pada tanggal 11 November 1785, dengan nama asli Raden Mas Mustahar yang seiring dengan tradisi Keraton Yogyakarta, kemudian diganti menjadi Raden Mas Antawirya. Raden Mas Antawirya adalah putra dari Raden Mas Suraja atau yang dikenal dengan gelar Sultan Hamengku Buwono III.
Sultan HB III sangat menginginkan Raden Mas Antawirya menjadi putra mahkota untuk menggantikan dirinya, tapi Raden Mas Antawirja menolaknya dengan halus. Raden Mas Antawirya merasa tidak memiliki hak untuk duduk di singgasana Yogyakarta meskipun ia adalah anak lelaki tertua karena ibunya bukanlah istri permaisuri raja.
Setelah Sultan HB III wafat pada 1814, kedudukannya langsung digantikan oleh Raden Mas Ibnu Jarot, putra dari istri permaisuri yang saat itu masih berusia 10 tahun. Pengaruh Belanda atas keraton semakin kuat di saat istana sedang labil lantaran Sultan HB IV masih kecil. Dari sinilah perlawanan Raden Mas Antawirya alias Pangeran Diponegoro terhadap Belanda bermula.
Menurut buku Pahlawan Dipanegara Berjuang dijelaskan bahwa terdapat beberapa alasan mengapa Pangeran Diponegoro berusaha melawan. Di antaranya adalah:
Penderitaan dan kesengsaraan rakyat akibat pajak.
Adanya campur tangan Belanda dalam urusan istana.
Munculnya kecemasan di kalangan ulama karena munculnya budaya Barat.
Kekuasaan raja-raja di Yogyakarta semakin sempit karena daerah pantai utara Jawa Tengah dikuasai Belanda.
Kaum bangsawan merasa dirugikan karena sebagian besar sumber penghasilannya diambil alih oleh Belanda.
Perang Diponegoro pun dimulai pada tanggal 20 Juli 1825. Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya memutuskan untuk menerapkan strategi gerilya dalam menghadapi Belanda yang jelas lebih unggul jumlah prajurit dan persenjataan.
Tokoh-tokoh yang ada di balik perang Diponegoro selain Pangeran Diponegoro adalah Kyai Mojo dan Alibasah Sentot Prawirodirjo. Sedangkan pasukan Belanda dipimpin oleh Jenderal Hendrik Merkus de Kock.
Setelah melalui peperangan dalam waktu panjang yang amat meletihkan, pada tanggal 28 Maret 1830, diadakan perundingan antara Pangeran Diponegoro dan Jenderal De Kock di Magelang, Jawa Tengah. Ternyata, ini adalah taktik licik Belanda. Pangeran Diponegoro yang tidak bersenjata malah ditangkap dan ditahan. Ditahannya Pangeran Diponegoro secara otomatis menghentikan Perang Diponegoro yang telah berlangsung selama 5 tahun tersebut.
Pangeran Diponegoro kemudian diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar, sampai akhirnya wafat pada tanggal 8 Januari 1855.
Secara keseluruhan Perang Diponegoro diperkirakan telah merenggut kurang lebih 200.000 korban jiwa, di antaranya 7.000 orang dari pihak pribumi dan 8.000 orang dari pasukan Belanda.
Bagi pemerintahan Hindia Belanda, Perang Diponegoro adalah sebuah perang yang amat melelahkan karena menguras banyak sekali sumber daya, termasuk pasukan dan uang atau pendanaan yang menyebabkan pemerintah kolonial mengalami krisis keuangan. (DNR)
