Perbedaan Pendekatan Emik dan Etik dalam Kajian Ilmu Antropologi

·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Antropologi adalah salah satu bidang keilmuan yang menarik untuk dipelajari. Dalam ilmu ini, terdapat sejumlah istilah yang perlu dipahami, seperti pendekatan emik dan etik. Biasanya, siswa diminta untuk menjelaskan perbedaan pendekatan emik dan etik dalam kajian ilmu antropologi.
Oleh karena itulah, penting bagi para siswa untuk memahami konsep dasar dari masing-masing pendekatan tersebut. Dengan begitu, akan lebih mudah bagi siswa untuk menjelaskan perbedaan antara kedua pendekatan ini.
Perbedaan Pendekatan Emik dan Etik dalam Ilmu Antropologi
Berikut ini adalah penjelasan tentang perbedaan pendekatan emik dan etik dalam kajian ilmu antropologi yang dikutip dari buku Sejarah Teori Antropologi Penjelasan Komprehensi, Paul A. Erickson dan Liam D. Murphy (2018).
1. Pendekatan Emik
Istilah emik sendiri berasal dari bahasa linguistik, yakni emik. Sederhananya, pendekatan emik mengacu pada sudut pandang masyarakat yang diteliti.
Selain itu, emik bisa dipahami sebagai cara untuk memahami dan melukiskan suatu kebudayaan dengan mengacu pada sudut pandang atau perspektif masyarakat pemilik kebudayaan yang dikaji.
Jika mengkaji kebudayaan menggunakan perspektif emik, maka temuan yang dihasilkan akan bersifat khas budaya atau akan menghasilkan temuan yang berbeda pada konteks budaya yang berbeda.
Kerja emik dapat dianggap mencapai tingkat yang tinggi apabila para antropolog melibatkan masyarakat pelaku kebudayaan dalam analisis yang dilakukan. Adapun pengetahuan emik bisa didapatkan melalui wawancara atau observasi.
2. Pendekatan Etik
Istilah etik mengacu pada kata fonetik dalam ilmu linguistik. Etik sendiri adalah pendekatan atau cara untuk memahami dan melukiskan suatu kebudayaan dengan mengacu pada sudut pandang peneliti.
Adapun cara pandang etik berkaitan dengan penjelasan, deskripsi, dan analisis yang mewakili cara pandang pengamat sendiri sebagai orang di luar masyarakat yang ditelitinya.
Jika mengkaji suatu kebudayaan secara etik, maka temuan yang dihasilkan cenderung sama dalam berbagai konteks budaya karena lebih bersifat universal.
Penjelasan antropologis dianggap sebagai cara pandang etik jika bisa diterapkan secara lintas budaya. Jadi, pengetahuan etik tidak bergantung pada acuan khusus atau bersifat lokal semata, tetapi harus bisa digeneralisasi.
Baca Juga: Pengertian Antropologi Fisik dan Budaya sebagai Cabang Ilmu Antropologi
Demikian uraian tentang perbedaan pendekatan emik dan etik dalam kajian ilmu antropologi yang menarik untuk dipelajari. Semoga bermanfaat, ya. (Anne)
