Proses Fertilisasi atau Pembuahan pada Manusia

Konten dari Pengguna
5 Maret 2021 15:17
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pixabay
ADVERTISEMENT
Proses fertilisasi disebut juga dengan proses pembuahan di mana terjadi pertemuan antara sel sperma dan sel telur di dalam tubuh manusia.
ADVERTISEMENT
Dalam buku yang berjudul Ensiklopedia Iptek Cahaya Dan Energi tahun 2010 yang ditulis oleh Cyntia Devie dan Morena Cindo,
Fertilisasi adalah proses terjadinya pembuahan sel telur oleh sel sperma dan ditandai dengan bergabungnya kedua sel kelamin untuk membentuk zigot. Proses fertilisasi berlangsung di dalam oviduk (Tuba Falopii).

Proses Fertilisasi pada Manusia

Sebelum terjadi proses fertilisasi, terlebih dahulu terjadi proses percampuran antara suami dengan istri, di mana sperma masuk ke dalam saluran reproduksi wanita (vagina). Sperma yang dikeluarkan bisa mencapai 40-150 juta sel sperma yang siap membuahi, namun tak semuanya akan berhasil masuk dan menembus sel telur.
Hanya ada satu sel sperma yang berhasil masuk menembus sel telur, yang lainnya akan hancur oleh lendir yang terdapat di dalam uterus dan tuba falopii.
Sperma bergerak cepat menuju uterus hingga oviduk melalui pergerakan ekornya. Di bagian atas oviduk, proses fertilisasi terjadi. Sel sperma kemudian mengeluarkan enzim agar sel telur bisa ditembus oleh sel sperma, di mana proses ini membutuhkan waktu tertentu.
ADVERTISEMENT
Setelah terjadi pembuahan, sel telur mengeluarkan senyawa yang memiliki fungsi untuk mencegah sel sperma yang masuk.
Berikut ini adalah tahapan fertilisasi:
1. Penembusan korona radiata
Saat ovulasi, sel telur memiliki laposan yang dinamakan corone radiote, yang kemudian dilarutkan oleh spermatozoa (sel sperma) saat terjadi pembuahan, agar bisa ditembus oleh sel sperma.
2. Perlekatan spermatozoa dengan zona pelucida
Zona pelucida merupakan zona terluar dalam ovum, yang salah satu komponennya berfungsi sebagai reseptor sperma.
Syarat agar sperma bisa menempel pada zona pelucida adalah jumlah kromosom harus sama, baik sperma maupun ovum, karena hal ini menunjukkan salah satu ciri apabila keduanya adalah individu yang sejenis.
3. Reaksi akrosom
Reaksi ini terjadi setelah penempelan spermatozoa ke zona pelusida dan diinduksi oleh protein- protein zona, dan puncaknya pada pelepasan enzim-enzim yang diperlukan untuk menembus zona pelusida.
ADVERTISEMENT
Enzim tersebut antara lain akrosin dan zat-zat serupa tripsin, dan tersebut terjadi sebelum sperma masuk ke dalam ovum.
4. Penembusan zona pelusida
Zona pelusida merupakan sebuah perisai glikoprotein di sekeliling telur yang mempermudah dan mempertahankan pengikatan sperma dan menginduksi reaksi akrosom.
Penetrasi zona pelusida memungkinkan terjadinya kontak antara spermatozoa dan membran oosit.
5. Fusi oosit dan membran sel sperma
Setelah spermatozoa menyentuh membrane sel oosit, kedua selaput plasma sel tersebut menyatu. Pada manusia, kepala dan ekor spermatozoa memasuki sitoplasma oosit, tetapi selaput plasma tertinggal di permukaan oosit.
Sperma dan oosit sekunder saling mengeluaran enzim yang membuat aktivitas yang saling mendukung sehingga sperma bisa menembus oosit.
Itulah ulasan mengenai proses fertilisasi dalam proses reproduksi manusia. Semoga bisa menambah pengetahuan ya. (Adelliarosa)
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·