Rumah Adat Bengkulu dan Pesona Keunikan Budayanya

Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masyarakat Bengkulu memiliki rumah adat yang disebut dengan Bubungan Lima. Rumah adat Bengkulu ini bukanlah rumah tinggal sehari-hari bagi keluarga, melainkan rumah yang dipakai untuk acara-acara adat, seperti pernikahan, penyambutan tamu sampai upacara kematian.
Nama Bubungan Lima dalam rumah adat Bengkulu bukan tanpa alasan, nama tersebut merujuk pada atap rumah tersebut.
Keunikan rumah adat Bengkulu
Menurut Hanafi dkk dalam Arsitektur Tradisional Daerah Bengkulu, tahun 1985, rumah adat Bengkulu dijelaskan sebagai berikut:
Rumah orang Bengkulu adalah termasuk typologi “Rumah Panggung”, yang dimaksudkan agar penghuninya dapat aman dari banjir bagi yang berdiam di tepi pantai atau di tepi sungai dan aman dari gangguan binatang buas bagi mereka yang tinggal di pinggiran hutan-rimba.
Keunikan rumah adat Bengkulu adalah ada kolong rumah yang difungsikan untuk tempat penyimpanan gerobak, hasil panen, dan alat-alat pertanian.
Kolong rumah adat Bengkulu juga digunakan sebagai kandang hewan ternak, kayu api dan lain-lain.
Selain disebut dengan Bubungan Lima, Rumah adat Bengkulu juga dikenal dengan nama Bubungan Haji, dan juga Bubungan Jembatan.
Tak hanya itu, setiap bagian yang terdapat pada rumah adat Bengkulu Bubungan Lima terdapat berbagai ukiran yang menghiasinya. Tiap jenis ukiran memiliki bentuk-bentuk yang diambil dari bentuk alam, serta memiliki penempatan yang berbeda-beda.
Ukiran yang terdapat dalam rumah adat Bengkulu merupakan salah satu khasanah kekayaan dunia dan sebuah hasil kebudayaan yang melambangkan identitas sebuah bangsa, sehingga seharusnya kebudayaan ini harus dijaga dan dilestarikan oleh seluruh unsur masyarakat yang terkait. Pelestarian ini khususnya dilakukan oleh generasi muda di Provinsi Bengkulu, namun saat ini sayangnya mulai meninggalkan adat dan budaya mereka, bahkan banyak yang tidak mengetahui dengan baik tentang keberadaan rumah adat Bengkulu ini.
Hal ini ditegaskan oleh Effendi dalam surat kabar Harian Rakyat Bengkulu (5 Februari 2015) sebagai berikut:
“Rumah Tua Bubungan Lima diperkirakan sudah ada di Bengkulu sejak tahun 1916-an. Kalau sekarang di daerah Tanjung Agung, Tanjung Jaya sudah habis berganti rumah batu. Keberadaan rumah adat nyaris tidak ada lagi. Contoh rumah adat dapat dijumpai di samping Gedung Daerah. Hanya saja modelnya sudah dimodifikasi. Peruntukannya hanya untuk display dan hanya untuk pajangan saja. Jadi bentuk bangunan juga mengalami penyesuaian dengan fungsinya. Tidak ada ruangan seperti rumah Tua Bubungan Lima umumnya.”
Sayang sekali, ya. (Adelliarosa)
