Sandhangan Wyanjana: Pengertian, Fungsi, dan Jenis-jenisnya

·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Aksara Jawa memang sangat unik. Selain terdapat hanacaraka, masih ada sum tambahan lainnya, seperti pasangan dan sandhangan. Salah satu yang akan kita bahas adalah pengertian sandhangan wyanjana.
Pengertian Sandhangan Wyanjana
Dilansir dari buku Baboning Pepak Basa Jawa, Budi Anwari, (2020:35), sandhangan wyanjana adalah sandhangan yang bermanfaat untuk menuliskan gugus konsonan dengan semivokal di dalam 1 suku kata.
Fungsi Sandhangan Wyanjana
Sandhangan wyanjana berfungsi untuk menyisipkan huruf konsonan di gugus semi vokal. Adapun huruf konsonan yang kerap disisipkan adalah r, re, y, l dan w. Kelimanya secara berurutan dinamakan cakra, cakra keret, pengkal, panjingan la, dan gembung.
5 Jenis Sandhangan Wyanjana
Adapun beberapa jenis sandhangan wyanjana sebagai berikut:
Cakra (Ra)
Cakra iku sandhangan wyanjana sesulihe ‘ra’.
Cakra adalah sandhangan yang bermanfaat untuk memberikan efek suara ra. Jadi, huruf apa pun yang diberikan cakra akan mengandung konsonan r. Sandhangan wyanjana cakra memiliki bentuk yang menyerupai mangkuk yang menggantung di ekor huruf.
Meskipun telah diberikan sandhangan cakra, tetapi huruf itu masih bisa diberikan sandhangan swara. Jadi, jika kamu ingin menulis ‘krikil, cukup berikan sandhangan wulu, yah.
Cakra Keret
Sandhangan wyanjana yang berikutnya adalah cakra keret. Selain itu, kamu juga bisa menyebutnya sebagai ‘keret’ saja. Namun, berhubung cakra memiliki bentuk yang hampir sama dengan cakra, maka orang Jawa sering menyebutnya sebagai cakra keret. Bentuknya seperti mangkok, dengan ujung yang dikaitkan dan digantung.
Cakra keret memiliki sesulih re. Bunyi re itu sendiri seperti saat kita mengucapkan kata ‘renang’, yah, bukan seperti kita mengucapkan kata ‘becak’. Jadi, cakra keret adalah wujud sandhangan dari ‘ra’ yang dipepet.
Pengkal
Sandhangan pengkal yaiku sandhangan kang gunane kanggo menehi panjingan ya. Sandhangan wyanjana pengkal memiliki bentuk yang menyerupai pangkon, tetapi dengan ekor yang lebih panjang. Nah, ekor ini kemudian akan disambungkan dengan ekor aksara.
Sandhangan pengkal ini memberikan efek suara ‘ya’. Sama dengan sandhangan wyanjana cakra, sandhangan pengkal juga fleksibel, sehingga bisa diberikan sandhangan swara dan panyigeg.
Panjingan La
Sesuai namanya, panjingan la memberikan sesulih konsonan la. Bentuknya menyerupai aksara ga yang memiliki ekor. Sandhangan ini kemudian diletakkan di bawah aksara.
Gembung
Sandhangan wyanjana terakhir adalah sandhangan gembung. Sandhangan ini juga sering disebut dengan panjingan wa atau gembung wa. Sandhangan gembung memberikan konsonan huruf ‘w’. Sesuai namanya, gembung menggantung di bagian ekor.
Sekarang kamu sudah memahami sandhangan wyanjana di dalam aksara Jawa, bukan? (BRP)
