Konten dari Pengguna

Sejarah Halal Bi Halal dan Manfaatnya

Berita Update

Berita Update

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah Halal Bi Halal, Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Sejarah Halal Bi Halal, Foto: Unsplash.

Sejarah halal bihalal sudah dimulai sejak era Soekarno. Halal bi halal sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia pada saat lebaran tiba. Hal ini menjadi momen saat berkumpulnya semua orang. Saudara yang jauh dan merantau akan saling mengunjungi dan berkumpul. Nah momen inilah yang menjadi kesempatan untuk mempererat tali silaturahmi antar keluarga agar lebih dekat lagi.

Berikut adalah sejarah halal bi halal dan manfaat bagi orang yang menjalankannya:

Sejarah dan Manfaat Halal Bihalal

Dikutip dari buku Dakwah Cerdas: Ramadhan, Idul Fitri, Walimatul Hajj dan Idul Adha karya Dra. Udji Aisyah (2016: 67), berikut sejarah halal bi halal.

Setelah Indonesia merdeka 1945, pada tahun 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik saling bertengkar, tidak mau duduk dalam satu forum. Sementara pemberontakan terjadi dimana-mana, diantaranya DI/TII, PKI Madiun.

Pada tahun 1948, yaitu dipertengahan bulan Ramadhan, Bung Karno memanggil KH Wahab Chasbullah ke Istana Negara, untuk dimintai pendapat dan sarannya untuk mengatasi situasi politik Indonesia yang tidak sehat. Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan Silaturrahim, sebab sebentar lagi Hari Raya Idul Fitri, di mana seluruh umat Islam disunahkan bersilaturrahmi. Lalu Bung Karno menjawab, "Silaturrahmi kan biasa, saya ingin istilah yang lain".

"Itu gampang", kata Kiai Wahab. "Begini, para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan. Saling menyalahkan itu kan dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi nanti kita pakai istilah 'halal bi halal'", jelas Kiai Wahab.

Sejarah Halal Bi Halal, Foto: Unsplash.

Dari saran Kiai Wahab itulah, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu, mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara untuk menghadiri silaturrahmi yang diberi judul 'Halal bi Halal' dan akhirnya mereka bisa duduk dalam satu meja, sebagai babak baru untuk menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Sejak saat itulah, instansi-instansi pemerintah yang merupakan orang-orang Bung Karno menyelenggarakan Halal bi Halal yang kemudian diikuti juga oleh warga masyarakat secara luas, terutama masyarakat muslim di Jawa sebagai pengikut para ulama. Jadi Bung Karno bergerak lewat instansi pemerintah, sementara Kiai Wahab menggerakkan warga dari bawah.

Jadilah Halal bi Halal sebagai kegaitan rutin dan budaya Indonesia saat Hari Raya Idul Fitri seperti sekarang. Kalau kegiatan halal bihalal sendiri, kegiatan ini dimulai sejak KGPAA Mangkunegara I atau yang dikenal dengan Pangeran Sambernyawa. Setelah Idul Fitri, beliau menyelenggarakan pertemuan antara Raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana.

Manfaat Halal Bihalal

Dilansir dari laman dompetdhuafa.org, berikut manfaat silaturahmi:

  1. Melapangkan rezeki

  2. Sebagai tanda ketaatan Allah

  3. Menghilangkan perselisihan

  4. Memperpanjang umur

  5. Masuk surga

  6. Menghibur kerabat

  7. Mendapatkan rahmat

Dosa seorang muslim dapat terhapus dengan saling memaafkan antar sesamanya. Hal mengenai maaf-memaafkan tersebut telah diatur dalam Islam sebagaimana diisyaratkan dalam Al-quran Al-A`raf ayat 199 dan hadist Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW bersabda:

"Dua orang Muslim yang bertemu, lalu keduanya saling berjabat tangan, niscaya dosa keduanya diampuni oleh Allah sebelum mereka berpisah." (HR. Abu Dawud).

Demikianlah sejarah halal bi halal. Kita mengetahui bahwa halal bihalal ada sejak era Presiden Soekarno, dan semenjak itu setiap hari raya lebaran pasti diadakan halal bihalal dengan semua instansi dan keluarga. Tradisi ini sudah menjadi turun temurun atau kebiasaan bagi masyarakat Indonesia. Selain itu juga memiliki manfaat yang begitu banyak. (umi)