Konten dari Pengguna

Sejarah Penggunaan Kalender Saka bagi Masyarakat Indonesia

Berita Update

Berita Update

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kalender saka. Sumber: unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kalender saka. Sumber: unsplash.com

Kalender Saka merupakan kalender yang menurut sejarah berasal dari India. Adapun kalender ini harus disesuaikan setiap tahunnya agar sesuai dengan daur perputaran matahari. Meski berasal dari India, namun kalender ini juga banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia, lho. Terutama di beberapa daerah di pulau Jawa dan pulau Bali yang menganut agama Hindu.

Sejarah Penggunaan Kalender Saka bagi Masyarakat Indonesia

Ilustrasi kalender saka. Sumber: unsplash.com

Berikut ini adalah sejarah penggunaan kalender Saka bagi masyarakat Indonesia, khusus di Jawa dan Bali dikutip dari buku Seri Penemuan: Kalender karya Armelia (2020).

Kalender Saka di Jawa

Sejarah berkembangkan kalender ini di pulau Jawa terjadi pada abad ke-4 Masehi, di mana pada saat itu agama Hindu sedang berkembang. Kalender ini dibawa oleh seorang pendeta bangsa yang bergelar Aji Saka dari Kshatrapa, Gujarat, India yang mendarat di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah pada tahun 456 Masehi.

Kalender ini sangat eksis pada zaman kerajaan Majapahit dan bahkan digunakan sebagai kalender kerajaan. Oleh karena itulah, pada tiap bulan Caitra, Tahun Saka diperingati dengan upacara keagamaan. Kalender ini digunakan oleh masyarakat Jawa hingga abad ke-17 hingga akhirnya dihapus oleh Sultan Agung Ngabdurahman Sayidin Panotogomo Molana Matarami dan menggantinya dengan kalender Jawa yang mengikuti kalender Hijriyah.

Kalender Saka di Bali

Kalender ini sudah mengalami perubahan pada sistematikanya setelah sampai di Bali. Hal inilah yang membuat kalender Saka lebih dikenal dengan kalender Bali. Kalender ini berpedoman pada kalender matahari dalam penentuan awal dan akhir tahun. Sedangkan untuk menentukan umur bulannya, menggunakan perhitungan sasih yang terhitung dari tanggal 1 sampai tilem, yaitu 29-30 hari.

Selain itu, kalender Bali juga menggunakan siswa wuku. Berikut adalah nama-nama wuku yang ada di dalam kalender Bali.

  • Sinta (Bali/Jawa) dari nama Dewi Sintakasih, ibu raja Watugunung

  • Landep (Bali/Jawa) dari nama Dewi Sanjiwartya, permaisuri raja Watugunung

  • Ukir (Bali) Wukir (Jawa) dari nama Raja Giriswara

  • Kulantir/Kurantil dari nama Raja Kuladewa

  • Tolu dari nama Raja Talu

  • Gumbreg dari nama Raja Mrebwana

  • Wariga/Warigalit dari nama Raja Waksaya

  • Warigadian/Warigagung dari nama Raja Wariwisaya

  • Julungwangi/Mrikjulung dari nama Raja Mrikjulung

  • Sungsang dari nama Raja Sungsangtaya

  • Dungulan/Galungan dari nama Raja Dungulan

  • Kuningan dari nama Raja Puspita

  • Langkir dari nama Raja Langkir

  • Mdangsya/Mandhasia dari nama Raja Mdangsu

  • Pujut/Julung Pujut dari nama Raja Pujitpwa

  • Pahang dari nama Raja Paha

  • Krulut/ Kuruwelut dari nama Raja Kruru

  • Mrakih/Mrakeh dari nama Raja Mrangsinga

  • Tambir dari nama Raja Tambur

  • Mdangkungan dari nama Raja Mdangkusa

  • Matal/ Maktal dari nama Raja Matal

  • Uye/Wuye dari nama Raja Uye

  • Mnail/Manail dari nama Raja Ijala

  • Prangbakat dari nama Raja Yuddha

  • Bala dari nama Raja Baliraja

  • Ugu/Wugu dari nama Raja Wiugah

  • Wayang dari nama Raja Ringgita

  • Klawu/Kulawu dari nama Raja Kulawudra

  • Dukut/Dhukut dari nama Raja Sasawi

  • Watugunung dari nama Raja Watugunung

(Anne)