Sejarah Penggunaan Kalender Saka bagi Masyarakat Indonesia

·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kalender Saka merupakan kalender yang menurut sejarah berasal dari India. Adapun kalender ini harus disesuaikan setiap tahunnya agar sesuai dengan daur perputaran matahari. Meski berasal dari India, namun kalender ini juga banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia, lho. Terutama di beberapa daerah di pulau Jawa dan pulau Bali yang menganut agama Hindu.
Sejarah Penggunaan Kalender Saka bagi Masyarakat Indonesia
Berikut ini adalah sejarah penggunaan kalender Saka bagi masyarakat Indonesia, khusus di Jawa dan Bali dikutip dari buku Seri Penemuan: Kalender karya Armelia (2020).
Kalender Saka di Jawa
Sejarah berkembangkan kalender ini di pulau Jawa terjadi pada abad ke-4 Masehi, di mana pada saat itu agama Hindu sedang berkembang. Kalender ini dibawa oleh seorang pendeta bangsa yang bergelar Aji Saka dari Kshatrapa, Gujarat, India yang mendarat di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah pada tahun 456 Masehi.
Kalender ini sangat eksis pada zaman kerajaan Majapahit dan bahkan digunakan sebagai kalender kerajaan. Oleh karena itulah, pada tiap bulan Caitra, Tahun Saka diperingati dengan upacara keagamaan. Kalender ini digunakan oleh masyarakat Jawa hingga abad ke-17 hingga akhirnya dihapus oleh Sultan Agung Ngabdurahman Sayidin Panotogomo Molana Matarami dan menggantinya dengan kalender Jawa yang mengikuti kalender Hijriyah.
Kalender Saka di Bali
Kalender ini sudah mengalami perubahan pada sistematikanya setelah sampai di Bali. Hal inilah yang membuat kalender Saka lebih dikenal dengan kalender Bali. Kalender ini berpedoman pada kalender matahari dalam penentuan awal dan akhir tahun. Sedangkan untuk menentukan umur bulannya, menggunakan perhitungan sasih yang terhitung dari tanggal 1 sampai tilem, yaitu 29-30 hari.
Selain itu, kalender Bali juga menggunakan siswa wuku. Berikut adalah nama-nama wuku yang ada di dalam kalender Bali.
Sinta (Bali/Jawa) dari nama Dewi Sintakasih, ibu raja Watugunung
Landep (Bali/Jawa) dari nama Dewi Sanjiwartya, permaisuri raja Watugunung
Ukir (Bali) Wukir (Jawa) dari nama Raja Giriswara
Kulantir/Kurantil dari nama Raja Kuladewa
Tolu dari nama Raja Talu
Gumbreg dari nama Raja Mrebwana
Wariga/Warigalit dari nama Raja Waksaya
Warigadian/Warigagung dari nama Raja Wariwisaya
Julungwangi/Mrikjulung dari nama Raja Mrikjulung
Sungsang dari nama Raja Sungsangtaya
Dungulan/Galungan dari nama Raja Dungulan
Kuningan dari nama Raja Puspita
Langkir dari nama Raja Langkir
Mdangsya/Mandhasia dari nama Raja Mdangsu
Pujut/Julung Pujut dari nama Raja Pujitpwa
Pahang dari nama Raja Paha
Krulut/ Kuruwelut dari nama Raja Kruru
Mrakih/Mrakeh dari nama Raja Mrangsinga
Tambir dari nama Raja Tambur
Mdangkungan dari nama Raja Mdangkusa
Matal/ Maktal dari nama Raja Matal
Uye/Wuye dari nama Raja Uye
Mnail/Manail dari nama Raja Ijala
Prangbakat dari nama Raja Yuddha
Bala dari nama Raja Baliraja
Ugu/Wugu dari nama Raja Wiugah
Wayang dari nama Raja Ringgita
Klawu/Kulawu dari nama Raja Kulawudra
Dukut/Dhukut dari nama Raja Sasawi
Watugunung dari nama Raja Watugunung
(Anne)
