Sejarah Perkembangan Antropologi di Indonesia

·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah perkembangan antropologi di Indonesia ditandai dengan berbagai penelitian. Terutama penelitian tentang adat istiadat, struktur sosial, hingga kebudayaan suku-suku yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Mengutip Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), antropologi adalah ilmu tentang manusia. Khususnya tentang asal-usul, aneka warna bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaannya pada masa lampau.
Sejarah Perkembangan Antropologi
Antropologi berasal dari kata latin anthropos yang berarti manusia dan logos atau akal. Dengan begitu, antropologi dapat diartikan sebagai suatu ilmu yang berusaha mencapai pengertian tentang makhluk manusia dengan mempelajari aneka warna bentuk fisik, kepribadian, masyarakat, serta kebudayaannya.
Mengutip buku Antropologi Budaya, I Gede A. B. Wiranata (2002), antropologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari umat manusia sebagai makhluk masyarakat.
Perhatian ilmu pengertahuan ini ditujukan pada sifat khusus badani dan cara produksi, tradisi, dan nilai-nilai yang membuat pergaulan hidup yang satu berbeda dari pergaulan hidup lainnya. Sejarah perkembangan antropologi adalah sebagai berikut.
1. Fase Pertama (Sebelum 1800)
Fase pertama ini disebut sebagai fase penemuan. Ada juga yang menyatakan fase ini adalah era pencatatan atau deskripsi tentang bangsa-bangsa dan laporan kisah-kisah perjalanan.
Umumnya, laporan perjalanan ini merupakan kegiatan yang dilakukan oleh para musafir, misionaris penyebar agama, pedagang keliling, dan lain sebagainya.
Dalam beberapa laporan tertulis yang sempat dibukukan, ternyata lukisan tentang masyarakat dan berbagai suku bangsa di luar Eropa, banyak juga yang dilakukan oleh pegawai dinas jajahan pemerintah kolonial Belanda dan Inggris.
2. Fase Kedua (Pertengahan Abad ke-19)
Perkembangan fase kedua ini dimulai dengan tahap penyusunan dan penganalisaan bahan etnografi pada fase pertama diatas. Bahan-bahan yang tertuang pada lukisan suku-suku bangsa terutama di luar Eropa telah menimbulkan kesadaran di kalangan pelajar.
Khususnya Eropa Barat mengenai aneka ragam ciri-ciri ras, bahasa, dan fenomena budaya umat manusia.
3. Fase Ketiga (Permulaan Abad ke-20
Perkembangan pada fase ini sangat erat kaitannya dengan eksistensi kolonialisme-imperialisme negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.
Oleh karena itu, apabila ingin mengenal suatu daerah, hanya ada satu cara, yakni memahami dan mengenali tabiat serta sikap watak yang khas dari suatu wilayah atau suku bangsa yang bersangkutan.
4. Fase Keempat (Setelah 1930)
Fase keempat sering disebut sebagai fase ilmiah antropologi. Namun, ada pula yang menyebutnya sebagai era pembaharuan dan penemuan ilmu antropologi yang sesungguhnya.
Melalui Simposium Internasional Antropologi yang berlangsung di Amerika Serikat pada tahun 1951, sebanyak enam puluh ahli antropologi mengadakan kajian ulang tentang tujuan dan ruang lingkup ilmu antropologi.
Salah satu rumusannya adalah bahwa secara akademik, ilmu ini ingin mencapai pengertian tentang makhluk manusia pada umumnya dengan mempelajari aneka bentuk fisik, masyarakat, dan kebudayaannya.
Secara praktis, antropologi ingin mempelajari manusia dalam aneka warna masyarakat suku bangsa guna membangun masyarakat suku bangsa itu sendiri.
Sejarah perkembangan antropologi di Indonesia sendiri dimulai pada fase ketiga, yakni berkembang seiring dengan kolonialisasi bangsa-bangsa Eropa ke Hindia-Belanda. Watak khas Indonesia dilaporkan secara tertulis oleh para pejabat kolonial.
Baca Juga: Penjelasan Arkeologi sebagai Cabang dalam Ilmu Antropologi
Demikian uraian tentang sejarah perkembangan antropologi dan fase yang terjadi di Indonesia. Semoga informasi ini bermanfaat bagi yang ingin mempelajari ilmu antropologi. (ARD)
