Sejarah Perlawanan Rakyat Maluku terhadap Belanda

ยทwaktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perlawanan rakyat Maluku selama masa kolonialisme Belanda merupakan salah satu perlawanan terhebat di Tanah Air. Kaya akan rempah-rempah, kepulauan ini selalu diincar oleh bangsa asing, seperti: Portugis dan Belanda.
Selain di Maluku, untuk mengusir penjajah, berbagai bentuk perlawanan juga terjadi daerah lainnya, seperti berbagai kota di Pulau Jawa, Aceh, dan Sumatera Barat.
Kisah Perlawanan Rakyat Maluku
Dilansir dari buku Cerita Kepahlawanan Kapitan Pattimura (Maluku), Achriel Syahrir, (2020:15-17), inilah sejarah perlawanan rakyat Maluku:
Perlawanan rakyat Maluku dilatarbelakangi oleh adanya praktik monopoli dan sistem pelayaran Hongi yang membuat rakyat menderita terus menerus.
Penjajah Belanda melaksanakan sistem penyerahan wajib sebagian hasil bumi, terutama rempah-rempah kepada VOC. Mereka juga melangsungkan sistem pelayaran Hongi yang membuat para birokrat Kompeni bisa mengawasi setiap pulau di Kepulauan Maluku untuk menjaga keberlangsungan monopoli rempah-rempah.
Selain itu, Kompeni juga memiliki hak ekstirpasi untuk memusnahkan pohon pala dan cengkeh ketika harganya turun.
Perlawanan rakyat Maluku pun meletus pada tahun 1635 di bawah pimpinan Kakiali, Kapitan Hitu. Ketika Kakiali tewas terbunuh, perjuangannya dilanjutkan oleh Kapitan Tulukabessy. Perlawanan ini baru bisa dipadamkan pada tahun 1646 dan sampai akhir abad ke-18 tidak terdengar lagi perlawanan kepada VOC.
Lalu pada tahun 1817 muncul tokoh baru dari di Pulau Saparua, yang bernama Thomas Matulessy alias Pattimura. Di dalam aksi Pattimura, rakyat Maluku berhasil menghancurkan Benteng Duurstede, bahkan membunuh Residen Belanda Van den Bergh.
Tidak hanya sampai di sana, tentara Belanda terus membawa pasukan dari Ambon sampai Jawa demi mengalahkan rakyat Maluku. Peristiwa tersebut pun menjalar ke banyak kota di Maluku, seperti Ambon, Seram, dan lain-lain.
Akibatnya, rakyat Maluku pun mundur karena kekurangan pasokan makanan dan kehabisan tenaga. Demi menyelamatkan rakyat Maluku dari kelaparan dan risiko pembunuhan, Thomas Matulessy alias Kapitan Pattimura akhirnya menyerahkan diri untuk dihukum mati.
Setelah kematian Pattimura, seorang tokoh perempuan bernama Martha Christina Tiahahu yang berasal dari Pulau Nusalaut meneruskan perjuangan beliau demi rakyat.
Namun, perjuangannya harus berhenti saat ia dibawa ke pengasingan di Jawa dan meninggal dunia di sana. Sejak itu, Belanda menerapkan kebijakan yang semakin memberatkan rakyat Maluku, terutama rakyat Saparua.
Meski begitu, perlawanan di sejumlah daerah lainnya di tanah Nusantara tetap berlangsung yang perlahan-lahan menuntun Indonesia menuju kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.
Setelah membaca kisah perlawanan rakyat Maluku di atas, kini kamu bisa bersyukur atas tindakan kepahlawanan mereka.(BRP)
