Semboyan Imperialisme Kuno yang Dipelopori oleh Portugis dan Spanyol

·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kolonialisme merupakan penguasaan suatu bangsa terhadap wilayah bangsa lain. Kolonialisme dan imperialisme kuno yang dipelopori oleh Portugis dan Spanyol mempunyai semboyan gold, glory, dan gospel. Namun, pada perkembangannya bentuk penjelajahan ini menjadi penjajahan. Hal tersebut tidak lepas dari kekayaan alam Indonesia, terutama hasil rempah-rempah yang menggiurkan hati orang-orang Eropa.
Para penjajah mendapatkan rempah-rempah dengan cara monopoli perdagangan. Izin mendapatkan monopoli tersebut dilakukan dengan cara membujuk penguasa setempat secara halus dengan kompensasi tertentu. Nah, artikel kali ini akan membahas lebih lanjut mengenai semboyan gold, glory, dan gospel yang dibawa oleh Portugis dan Spanyol.
Semboyan Imperialisme Kuno yang Dipelopori oleh Portugis dan Spanyol
Dikutip dari buku HOS Tjokroaminoto: Guru Agama dan Bangsa yang ditulis oleh Sayyidah Mawani (2017: 46), imperialisme kuno yang dipelopori oleh Portugis dan Spanyol mempunyai semboyan gold, glory, dan gospel. Berikut adalah penjelasan masing-masing istilah:
Gold, tujuan utamanya adalah untuk memperoleh keuntungan finansial atau keuntungan dalam bidang ekonomi sebesar besarnya melalui perdagangan rempah-rempah.
Glory, yaitu untuk menancapkan kekuasaan Portugis di Nusantara, dengan mengklaim Nusantara sebagai bagian dari wilayah politiknya.
Gospel, yaitu tujuan penyebaran agama atau yang dikenal dengan proses kristenisasi. Untuk melancarkan proses kristenisasi di Maluku pada saat itu, para kaum misionaris banyak mendirikan gereja di sana. Pada tahun 1536, didirikan sekolah di Ternate yang bertujuan untuk mendidik calon-calon misionaris. Sekolah seminari juga didirikan di Pulau Solor. Banyak anak-anak Indonesia yang masuk sekolah ini dilakukan dengan berbagai usaha yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Portugis, kehidupan para pribumi di Maluku secara tidak langsung berkembang.
Tidak jarang terjadi pertentangan sendiri di antara orang-orang Barat itu. Hal tersebut disebabkan oleh perbenturan kepentingan dalam penguasaan wilayah, jalur perdagangan, atau monopoli komoditi rempah-rempah. Pada akhirnya, konflik-konflik tersebut dimenangkan oleh VOC, sehingga sejak paruh kedua abad ke-17 mereka praktis menguasai pasaran rempah-rempah di Indonesia.
Kedatangan Portugis dan Spanyol membawa dampak besar terhadap kehidupan rakyat Indonesia selanjutnya. Dampak ini menyangkut bidang ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Semoga informasi di atas bermanfaat! (CHL)
