Konten dari Pengguna

Struktur Teks Cerita Sejarah dan Contohnya

Berita Update

Berita Update

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi teks cerita sejarah. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi teks cerita sejarah. Foto: Unsplash

Dalam dunia pendidikan maupun kepenulisan, teks cerita sejarah merupakan salah satu jenis teks naratif yang berfungsi untuk menceritakan peristiwa masa lalu yang benar-benar terjadi.

Biasanya, teks ini menceritakan tokoh, peristiwa penting, tempat bersejarah, atau peristiwa yang memiliki nilai sejarah sekaligus pembelajaran bagi generasi masa kini.

Agar sebuah cerita sejarah tersampaikan secara jelas dan menarik, penulis perlu memahami struktur penyusunannya. Lantas, apa aja struktur teks cerita sejarah? Simak penjelasannya di bawah ini.

Apa Itu Teks Cerita Sejarah?

Ilustrasi teks cerita sejarah. Foto: Unsplash

Menurut buku Teks dalam Kajian Struktur dan Kebahasaan oleh Taufiqur Rahman, teks cerita sejarah adalah teks yang menceritakan kembali peristiwa atau kejadian nyata yang terjadi di masa lalu dan memiliki nilai sejarah.

Teks ini biasanya disajikan dalam bentuk naratif dengan urutan kronologis. Contoh teks cerita sejarah bisa berupa:

  • Kisah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

  • Perjuangan RA Kartini.

  • Pertempuran Surabaya 10 November.

  • Biografi tokoh-tokoh pahlawan nasional.

Namun, tidak semua cerita sejarah ditulis secara kaku dan ilmiah. Banyak juga yang dikemas secara menarik dan naratif agar bisa dinikmati oleh berbagai kalangan, termasuk pelajar.

Baca juga: 12 Rekomendasi Buku Sejarah Dunia yang Dapat Mengubah Cara Pandang

Struktur Teks Cerita Sejarah

Ilustrasi teks cerita sejarah. Foto: Unsplash

Dikutip dari buku Analisis Struktur Dan Kebahasaan Teks Nonsastra karya Ahmad Gusairi, berikut ini adalah struktur teks cerita sejarah yang umum digunakan:

1. Orientasi (Pengenalan)

Bagian ini berisi pengenalan tokoh, waktu, tempat, dan suasana. Orientasi bertujuan untuk memberikan gambaran awal kepada pembaca agar memahami latar belakang cerita.

Contoh:

"Pada tanggal 17 Agustus 1945, di sebuah rumah di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa ini menjadi tonggak penting dalam sejarah bangsa."

2. Urutan Peristiwa (Rangkaian Kejadian)

Bagian ini merupakan inti dari teks cerita sejarah. Di sini, penulis menjabarkan peristiwa-peristiwa penting secara kronologis. Informasi yang disampaikan harus akurat, sesuai fakta, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Contoh:

"Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945, muncul desakan dari berbagai pihak agar Indonesia segera menyatakan kemerdekaannya. Malam tanggal 16 Agustus, para pemuda membawa Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok untuk menghindari intervensi Jepang..."

3. Reorientasi (Penutup atau Simpulan)

Reorientasi merupakan bagian akhir dari teks cerita sejarah. Bagian ini biasanya berisi penilaian, refleksi, atau akibat dari peristiwa yang telah diceritakan. Bisa juga digunakan untuk menyampaikan pesan moral atau pentingnya peristiwa tersebut bagi masa kini.

Contoh:

"Proklamasi kemerdekaan menjadi simbol awal dari lahirnya bangsa Indonesia. Perjuangan dan pengorbanan para pahlawan mengajarkan kita pentingnya persatuan dan semangat pantang menyerah."

Contoh Singkat Teks Cerita Sejarah

Ilustrasi teks cerita sejarah. Foto: Unsplash

Agar semakin paham dengan struktur teks cerita sejarah di atas, perhatikan contoh berikut yang dikutip dari Modul Pembelajaran Bahasa Indonesia Kemendikbud.

Setelah Indonesia merdeka, bangsa Indonesia masih menghadapi ancaman dari penjajah yang ingin kembali menguasai tanah air. Salah satu peristiwa penting adalah pertempuran di Surabaya pada tanggal 10 November 1945.

Pertempuran ini diawali dengan kedatangan tentara Sekutu yang ingin melucuti senjata Jepang. Namun, tindakan mereka memicu perlawanan rakyat Surabaya. Puncaknya terjadi ketika Jenderal Mallaby terbunuh. Balas dendam Sekutu menyebabkan kota Surabaya dibombardir habis-habisan.

Pertempuran Surabaya menunjukkan semangat rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Hari itu dikenang sebagai Hari Pahlawan, mengingat pengorbanan besar para pejuang.

(NDA)