Surat Al Balad: Arab, Latin dan Terjemahannya

·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Surat Al Balad merupakan surat pendek juz amma yang terdiri dari 20 ayat. Sebagai bagian dari surat pendek, Al Balad sendiri termasuk golongan surat Makkiyah atau surat yang diturunkan di kota Makkah sebagai surat ke-90 dalam alquran.
Melansir dari Al Qur’an dan Terjemahannya, Soenarjo (1971: 1060), nama surat Al Balad diambil dari kata bahasa Arab “Al-Balad” yang berarti negeri. Adapun yang dimaksud negeri dalam surat tersebut ialah kota Makkah yang disucikan dan dimuliakan.
Adapun isi kandungan dari surat Al Balad ialah menerangkan bahwasanya Allah SWT telah menciptakan manusia agar senantiasa berjuang mencari kebahagiaan di dunia dan menghadapi kesukaran yang datang dalam hidupnya.
Dalam surat Al Balad juga dijelaskan bahwasanya Allah SWT telah memberikannya petunjuk jalan menuju kepada kebaikan dan kepada keburukan, yang mana orang-orang beriman pada-Nya tentu akan melangkah ke arah kebaikan dengan senantiasa berbuat baik kepada orang lain ataupun pada fakir miskin dan orang-orang yatim.
Bacaan Surat Al Balad Arab, Latin, dan Terjemahannya
Agar semakin memahami makna dari surat pendek juz amma tersebut, maka bacaan surat Al Balad Arab, Latin, dan terjemahannya berikut ini perlu diketahui oleh umat muslim:
لَآ اُقْسِمُ بِهٰذَا الْبَلَدِۙ
lā uqsimu bihāżal-balad
Aku bersumpah dengan negeri ini (Mekah),
وَاَنْتَ حِلٌّۢ بِهٰذَا الْبَلَدِۙ
wa anta ḥillum bihāżal-balad
dan engkau (Muhammad), bertempat di negeri (Mekah) ini,
وَوَالِدٍ وَّمَا وَلَدَۙ
wa wālidiw wa mā walad
dan demi (pertalian) bapak dan anaknya.
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْ كَبَدٍۗ
laqad khalaqnal-insāna fī kabad
Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.
اَيَحْسَبُ اَنْ لَّنْ يَّقْدِرَ عَلَيْهِ اَحَدٌ ۘ
a yaḥsabu al lay yaqdira 'alaihi aḥad
Apakah dia (manusia) itu mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang berkuasa atasnya?
يَقُوْلُ اَهْلَكْتُ مَالًا لُّبَدًاۗ
yaqụlu ahlaktu mālal lubadā
Dia mengatakan, “Aku telah menghabiskan harta yang banyak.”
اَيَحْسَبُ اَنْ لَّمْ يَرَهٗٓ اَحَدٌۗ
a yaḥsabu al lam yarahū aḥad
Apakah dia mengira bahwa tidak ada sesuatu pun yang melihatnya?
اَلَمْ نَجْعَلْ لَّهٗ عَيْنَيْنِۙ
a lam naj'al lahụ 'ainaīn
Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata,
وَلِسَانًا وَّشَفَتَيْنِۙ
wa lisānaw wa syafataīn
dan lidah dan sepasang bibir?
وَهَدَيْنٰهُ النَّجْدَيْنِۙ
wa hadaināhun-najdaīn
Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebajikan dan kejahatan),
فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ ۖ
fa laqtaḥamal-'aqabah
tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar?
وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْعَقَبَةُ ۗ
wa mā adrāka mal-'aqabah
Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?
فَكُّ رَقَبَةٍۙ
fakku raqabah
(yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya),
اَوْ اِطْعَامٌ فِيْ يَوْمٍ ذِيْ مَسْغَبَةٍۙ
au iṭ'āmun fī yaumin żī masgabah
atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan,
يَّتِيْمًا ذَا مَقْرَبَةٍۙ
yatīman żā maqrabah
(kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat,
اَوْ مِسْكِيْنًا ذَا مَتْرَبَةٍۗ
au miskīnan żā matrabah
atau orang miskin yang sangat fakir.
ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِۗ
ṡumma kāna minallażīna āmanụ wa tawāṣau biṣ-ṣabri wa tawāṣau bil-mar-ḥamah
Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.
اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِۗ
ulā`ika aṣ-ḥābul-maimanah
Mereka (orang-orang yang beriman dan saling berpesan itu) adalah golongan kanan.
وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰيٰتِنَا هُمْ اَصْحٰبُ الْمَشْئَمَةِۗ
wallażīna kafarụ bi`āyātinā hum aṣ-ḥābul-masy`amah
Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, mereka itu adalah golongan kiri.
عَلَيْهِمْ نَارٌ مُّؤْصَدَةٌ
'alaihim nārum mu`ṣadah
Mereka berada dalam neraka yang ditutup rapat.
Setelah membaca surat pendek Al Balad serta terjemahannya tadi, semoga umat muslim dapat memahami bahwasanya Allah SWT telah memerintahkan umat manusia untuk senantiasa mencari kebahagiaan lewat jalan kebaikan, yakni dengan berbuat amalan terpuji kepada orang lain, misalnya saja memberi makan fakir miskin ataupun saling memberikan pesan kasih sayang terhadap sesama agar dihindarkan dari siksa neraka. (HAI)
