Teater Modern Berkembang dari Pengaruh Budaya Barat

·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Teater berasal dari bahasa Yunani theatron yang berarti panggung tempat menonton. Mula-mula berarti sekumpulan penonton, kemudian ruang penonton, dan akhirnya berarti gedung pertunjukan seluruhnya, termasuk panggungnya. Pada masa ini, segala sesuatu yang bertalian dengan seni mimik, pantomim, balet, bermain topeng, opera, pertunjukan boneka (marionette), deklamasi, termasuk pula segala macam adegan wayang merupakan cakupan teater. Dalam sejarah, teater modern berkembang pada umumnya memperoleh pengaruh dari budaya barat. Adapun perkembangan teater modern dimulai sejak tahun 1920-an. Nah, artikel kali ini akan membahas lebih lanjut mengenai sejarah penyebaran teater modern di Indonesia. Harapannya kamu menjadi lebih paham mengenai sejarah perkembangan seni teater.
Sejarah Penyebaran Teater Modern di Indonesia
Dikutip dari buku Seni dan Budaya yang ditulis oleh Harry Sulastianto dkk, perkembangan teater modern dimulai sejak tahun 1920-an. Teater modern berkembang pada umumnya memperoleh pengaruh dari budaya barat. Karya yang menjadi bukti perkembangan teater modern, di antaranya adalah lakon Ken Arok dan Ken Dedes; Airlangga karya Mohammad Yamin serta Sandyakala ning Majapahit karya Sanusi Pane.
Zaman pemerintahan Jepang dan angkatan 45 menjadi zaman keemasan untuk kehidupan drama di Indonesia. Pada zaman tersebut, naskah drama masih ditulis dalam bentuk yang sederhana, baik gaya bahasa, tahap pertunjukan, pemadatan dialog, maupun tema-tema cerita yang diangkat. Misalnya, naskah drama Sedih dan Gembira karya Usmar Ismail dan Keluarga Surono karya Idrus.
Pada tahun 1950-an, drama modern Indonesia terus berkembang, terutama di kota-kota besar, seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung. Selain naskah karya sastrawan Indonesia, naskah asing juga sering dipentaskan (sebelumnya disadur dulu). Pada masa tersebut, muncul penulis drama berbakat, seperti W. S. Rendra dengan karyanya Kereta Kencana, Arifin C. Noer dengan karyanya Kasir Kita, Kirdjomuljo dengan karyanya Penggali Intan, Iwan Simatupang dengan karyanya Taman, Motinggo Busye dengan karyanya Puncak-puncak Sepi.
Sejak tahun 1966, drama Indonesia kemudian menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Banyak bermunculan dramawan dan sastrawan mudah yang berbakat. Tema-tema yang diangkat pun sangat bervariasi. Demikian sejarah teater modern berkembang pada umumnya memperoleh pengaruh dari budaya barat. Semoga bermanfaat! (CHL)
