Konten dari Pengguna

Warna Liturgi Jumat Agung menurut Agama Katolik

Berita Update

Berita Update

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Update tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Liturgi Jumat Agung. (Foto: Myriams-Fotos by https://pixabay.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Liturgi Jumat Agung. (Foto: Myriams-Fotos by https://pixabay.com)

Warna pakaian yang dipergunakan dalam ibadah Gereja Katolik Roma memiliki ketentuan tertentu. Sesuai fungsi warna, perbedaan warna digunakan sebagai tanda yang menunjuk tema perayaan liturgi hari itu. Adapun fungsi warna dalam liturgi adalah sebagai tanda siklus kalender gereja dan peristiwa gerejawi. Perbedaan warna dapat dilihat pada warna liturgi Jumat Agung, perayaan Paskah, Natal, Pentakosta, dan perayaan lainnya.

Nah, artikel kali ini akan membahas lebih lanjut mengenai warna liturgi Jumat Agung dan perayaan lainnya dalam ibadah Gereja Katolik.

Warna Liturgi untuk Ibadah Gereja Katolik

Ilustrasi Liturgi Jumat Agung. (Foto: congerdesign by https://pixabay.com)

Terdapat lima warna dasar yang digunakan sebagai warna dalam liturgi, yaitu putih merah hijau ungu, dan hitam. Dikutip dari buku Hari Raya Liturgi: Sejarah dan Pesan Pastoral Gereja yang ditulis oleh Rasid Rachman (2005: 187), berikut adalah warna liturgi Jumat Agung dan perayaan lainnya dalam ibadah Gereja Katolik:

  • Adven – Malam Natal = ungu/biru atau hitam

  • Adven III = merah/merah muda

  • Natal – Epifania = putih/emas

  • Minggu biasa = hijau

  • Rabu Abu = hitam atau ungu

  • Prapaskah = ungu

  • Minggu Sengsara, Minggu Palem, dan Kamis Putih = merah muda atau merah atau putih/emas hitam

  • Jumat Agung = hitam

  • Paskah = putih/emas

  • Minggu-minggu Paskah = putih atau merah

  • Kenaikan Tuhan ke Sorga = merah atau putih

  • Pentakosta = merah

  • Minggu Trinitatis putih/emas

  • Minggu-minggu biasa = hijau

  • Kristus Raja = putih atau merah atau ungu

  • Hari-hari dalam masa biasa = hijau

Sesuai fungsi warna, yaitu sebagai tanda yang menunjuk tema perayaan liturgi hari itu, maka tata warna liturgi tidak bersifat mutlak dan universal. Oleh karena itu, salah satu tantangan gereja-gereja di Indonesia saat ini adalah menyusun tata warna kontekstual menurut kebiasaan dan adat istiadat setiap lokus.

Pemakaian warna liturgi mulai dikenal sejak abad ke-9. Tepatnya, tata warna didasarkan oleh Puis V tahun 1570 yang diperkukuh dalam Ordo Missae 1969. Semoga informasi di atas bermanfaat! (CHL)