Konten dari Pengguna

5 Rumah Tertua di Dunia yang Sampai Sekarang Masih Berdiri

Berita Viral

Berita Viral

Membahas isu-isu yang lagi viral

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Viral tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sassi di Matera. Foto: cosca / Shutterstock)
zoom-in-whitePerbesar
Sassi di Matera. Foto: cosca / Shutterstock)

Rumah merupakan bangunan tempat tinggal. Karena merupakan benda mati, tentu usianya bisa lebih panjang dari manusia yang tinggal di sana. Tak jarang pula ditemukan rumah yang diwariskan turun temurun ke anak cucu.

Meski begitu, tak semua rumah bisa bertahan terus menerus. Tentu ada beberapa faktor agar bisa tetap berdiri, muali dari konstruksi yang bagus hingga perawatan rutin.

Nah, berangkat dari sana, mengutip dari Love Property, berikut lima rumah tertua di dunia saat ini yang masih sanggup berdiri meski sudah ribuan tahun.

1. Luddesdown Court, Kent, Inggris

Luddesdown Court (Foto: Knight Frank)

Dulunya merupakan pengadilan, rumah bangsawan Luddesdown di Kent, Inggris sudah ada sejak tahun 1000-an. Rumah berbentuk L seluas 2079,041 meter persegi itu dibangun sebagian besar dengan batu Caen dan batu api, rumah yang berada di tanah seluas 23 hektare itu disebut milik Odo dari Bayeux, saudara tiri William Sang Penakluk.

Pemilik berikutnya, Aymer de Valence, penasehat Edward II dan Pangeran asal Wales, Owain Glyndwr. Masing-masing memberi tanda pada properti tersebut, yang terlihat di aula besar, yang mana ada perapian Norman dan cerobong asap Tudor.

Luddesdown dibeli dalam keadaan rusak oleh Petter Sundt pada 1979, lalu direnovasi. Dia menghancurkan beberapa bangunan luar, diganti dengan kolam renang, kompleks sauna, blok garasi beratap menara lonceng, taman cekung berdinding, dan banyak lagi.

Sundt wafat pada 2007, dan rumah tersebut diwariskan kepada putrinya, Christine. Rumah itu direnovasi lagi jadi punya lima kamaer sebelum dijual pada 2018 via Knight Frank dengan harga 3,5 juta poundsterling (setara Rp62,7 miliar).

2. Viking farmhouse, Kirkjubour, Kepulauan Faroe

Viking farmhouse (Foto: Agnieszka Rumińska / Flickr)

Kirkjuboargarour alias King's Farm di Kepulauan Faroe merupakan salah satu rumah kayu tertua di dunia. Rumah pertanian itu dibangun pada abad ke-11, memakai kayu apung Norwegia. Konon, Kepulauan Faroe hampir tanpa pohon sehingga kayu jadi langka.

Rumah pertanian Viking itu seperti bangunan tradisional di Kepulauan Faroe lain, beratapkan rumput. Rumah itu awalnya jadi tempat tinggal serta seminari uskup Katolik. Uskup Erlendur menulis Sheep’s Letter pada 1298 di sini, berisi Undang-undang pembiakan domba yang notabene dokumen paling awal dibuat di sana.

Tak lama setelah Reformasi Protestan, 1538, rumah itu disita Raja Denmark dan disewakan kepada keluarga Petursson pada 1550-an dan telah melewati 17 generasi, dengan putra tertua dijuluki King’s Farm, selalu mengambil alih sewa. Pemilik terakhir properti itu adalah pemerintah Faroe.

Hingga kini, rumah tersebut masih jadi yang paling besar di Kepulauan Faroe. Penjaga saat ini juga memelihara domba dan sapi. Pengunjung dapat melakukan tur interior rumah pertanian yang dipenuhi banyak artefak kuno.

3. Rumah menara Old Sana'a, Sana'a, Yaman

Old Sana'a (Foto: Dan from Brussels, Europe/Wikimedia Commons)

Kota kuno Old Sana'a berada di Pegunungan Yaman sudah berusia lebih dari 2.500 tahun, membuatnya jadi salah satu daerah perkotaan paling sepuh. Kota yang terkenal dengan menaranya itu pun sudah masuk Situs Warisan Dunia UNESCO

Sebanyak 6.000 rumah bertingkat di sana dibangun sebelum abad ke-11. Disebut juga sebagai gedung pencakar langit tertua di dunia, bangunan dari batu bata dan gypsum putih itu menjulang sampai sembilan lantai. Sayangnya, struktur luarnya kini terancam.

Sebab, sejak 2014, terjadi perang saudara yang menghancurkan beberapa wilayah Yaman.

Sejak itu, menara Sana’a dihantam serangan udara, menghancurkan sejumlah rumah ikoniknya. Banyak dari mereka yang masih berdiri, tapi rusak parah.

Tak hanya itu, menara di Sana'a pun selama beberapa bulan terakhir dihantam hujan sangat deras terus menerus. Banjir pun meluas, 111 rumah menara runtuh, dan 6.000 di antaranya atapnya bocor. Situasi juga masih bisa bertambah buruk.

4. Rumah Benteng Aleppo, Kegubernuran Aleppo, Suriah

Rumah Benteng Aleppo. (Foto: Anas Al Rifai)

Benteng kuno Aleppo yang menjulang di atas kota Suriah berasal dari milenium ketiga SM, tapi sebagian besar didirikan Ayyubiyah pada abad 12 dan 13. Situs Warisan Dunia UNESCO itu kini telah bertahan dari gempa bumi hingga peperangan berabad-abad.

Awalnya merupakan kuil dewa badai Hadad Mesopotamia, benteng tersebut sempat digunakan sebagai tempat berlindung orang Makedonia abad ketiga atau keempat SM. Sampai ditaklukkan pasukan Muslim pada 636 M, kemudian jadi ibu kota dinasti Hamdani, sebelum dijarah Bizantium Kristen pada 962 M.

Setelahnya, benteng diduduki Zengid, Ayyubiyah, Mongol, dan Mamluk, hingga jatuh ke tangan Ottoman pada abad 16. Sepanjang sejarah, benteng itu telah rusak dan dipulihkan berkali-kali, tapi tak pernah benar-benar hancur.

Aula Tahta Mamluk dipugar Prancis pada abad 19, kemudian pekerjaan konservasi ekstensif dilakukan pada 2000-an, didanai Aga Khan Trust for Culture. Selama 2010, benteng itu empat tahun rusak parah karena Pertempuran Aleppo. Dibuka kembali untuk umum pada 2017, kini sedang menjalani restorasi besar.

5. Rumah gua Sassi di Matera, Basilicata, Italia

Sassi di Matera. (Foto: Bönisch/Wikimedia Commons)

Sassi di Matera (Batu Matera) adalah rumah gua yang diukir dari batuan calcarenite. Rumah yang terdiri dari dua distrik, Sasso Caveoso dan Sasso Barisano, di kota tua Matera, Italia, telah dihuni sejak zaman paleolitikum dengan bukti arkeologis sejak 7000 tahun SM.

Konon, tempat tinggal orang-orang gua ini jauh dari kenyamanan dan sangat miskin. Penyakit merajalela sampai pertengahan abad 20. “Bahkan Tuhan telah meninggalkan mereka” adalah frasa terkenal untuk menggambarkan masyarakatnya di zaman kelam itu.

Kebanyakan warganya sudah direlokasi pada tahun 60-an, tapi masih ada juga yang lanjut hidup di sana. Mereka tinggal di rumah yang sama dengan leluhur 9.000 tahun silam. Pada akhir abad 20, nasib mereka berubah.

Menyusul ditetapkannya Sassi di Matera sebagai Situs Warisan Dunia Unesco pada 1993, pemerintah Italia gencar mensponsori sejumlah proyek restorasi dan infrastruktur. Pengrajin pun pindah ke sana, Bar, restoran, dan hotel mulai buka ketika Matera memenangkan tawarannya menjadi Ibukota Kebudayaan Eropa 2019.

Pertahun, rata-rata kunjungan ke Sassi bisa sampai 600.000 orang. Para wisatawan rata-rata ingin melihat rumah-rumah unik di sana. Menariknya, lebih dari 25 persen properti tersedia untuk disewakan via Airbnb. (bob)