Kenapa Mata Uang Nggak Disamain Aja Sedunia?

Membahas isu-isu yang lagi viral
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Viral tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hampir setiap negara memiliki mata uang berbeda-beda. Buat orang awam, mata uang yang beragam tersebut kerap kali bikin bingung. Karenanya, timbul pertanyaan: Apa tidak sebaiknya mata uang di dunia disatukan saja?
Mengutip dari The Control, memiliki mata uang yang sama ternyata punya keuntungan dan kerugian. Sebelumnya diketahui, punya mata uang sama berarti tarik-ulur antara biaya perdagangan menghadapi penyesuaian ekonomi yang cepat.
Keuntungan memiliki mata uang yang sama adalah bertransaksi menjadi jauh lebih mudah dan dapat diperkirakan. Tidak perlu menukar mata uang saat bertransaksi antar negara atau wilayah tetangga. Seperti misalnya, Amerika Serikat.
Bila AS punya mata uang berbeda di tiap negara bagian, tentu akan repot. Contoh, sebuah bisnis di salah satu negara bagian bakal dapat pemasukan dari 49 mata uang berbeda. Masing-masing berfluktuasi relatif terhadap mata uang negara bagian itu.
Sementara itu, ada dua kekurangan bila mata uang sedunia disamakan. Pertama, wilayah bermata uang sama, kebijakan moneternya pun sama. Seperti misalnya Federal Reserve menetapkan suku bunga untuk seluruh AS, pun Bank Sentral Eropa kepada Zona Euro.
Kekurangannya akan terlihat ketika ada negara dengan ekonomi sedang booming sementara yang lain mengalami resesi.
Jika bank sentral memperketat kredit dan mengurangi jumlah uang beredar, maka negara ekonomi booming akan semakin untung, sementara kawasan resesi bertambah buruk. Terjadi sebaliknya bila kredit dimudahkan dan jumlah uang beredar diperbanyak.
Kelemahan kedua, kemampuan negara menggunakan nilai tukar uang untuk memengaruhi perdagangan akan hilang. Seperti misalnya, negara mata uang lemah seperti memberi diskon ke negara yang mata uangnya kuat. Ekspor barang pun jadi lebih murah.
Namun, impor menjadi lebih mahal dan keuntungan dari yang dijual juga lebih sedikit. Meski begitu, mata uang lemah sering jadi cara merangsang ekonomi lemah agar tetap kompetitif dengan negara lain yang relatif lebih produktif.
Contohnya Jerman dan Yunani sebelum mata uang mereka jadi Euro. Keduanya memproduksi dan mengekspor barang. Bila perusahaan Jerman 5 persen lebih produktif dari Yunani, artinya mereka hemat biaya biaya sampai 5 persen.
Karena 5 persen lebih produktif, Jerman bisa menaikkan gaji karyawan atau menurunkan harga barang. Sementara Yunani, agar tetap kompetitif, mesti memotong biaya produksi, termasuk gaji karyawan, sebanyak 5 persen.
Bila mata uang masih berbeda, daripada potong biaya produksi, Yunani bisa mengurangi mata uang mereka sebesar 5 persen terhadap mata uang Jerman. Efeknya sama, tapi pekerja tidak terlalu keberatan ketimbang bila gaji mereka kena potong.
Karenanya, Robert Mundell selaku ahli ekonomi pemenang Penghargaan Nobel 1999 mengatakan memang seharusnya tidak punya satu mata uang saja. Sebab, setiap negara punya wilayah dan kondisi geografis yang berbeda-beda sehingga
Mundell menyebutnya sebagai konsep area mata uang yang optimal. Jadi, negara dengan mata uang yang optimal tergantung pada kualitas lembaga pendukungnya dan sejauh mana terintegrasi secara ekonomi. (bob)
