Konten dari Pengguna

Kisah Perempuan yang Pernah Tolak Cinta Soekarno hingga Sultan Hamengkubuwono

Berita Viral

Berita Viral

Membahas isu-isu yang lagi viral

·waktu baca 3 menit

comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Viral tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gustti Nurul dan Ir. Soekarno. Foto: kolase Flickr
zoom-in-whitePerbesar
Gustti Nurul dan Ir. Soekarno. Foto: kolase Flickr

Kisah Gusti Nurul, perempuan putri keraton yang antipoligami, menjadi cerita sejarah menarik yang pernah terjadi di Indonesia. Bagaimana tidak, kecantikan dan kecerdasannya mampu menghipnotis banyak pria, di antaranya Sultan HB IX hingga Presiden pertama RI Soekarno.

Saat memasuki usia 20 tahun, ayah Gusti Nurul memanggil dan mengatakan bahwa telah datang utusan dari Yogyakarta, dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX yang menanyakan tentang dia. Tujuannya ingin meminangnya untuk menjadi istri.

Mengutip dari berbagai sumber, Gusti Nurul menolak pinangan Sultan HB IX. Alasannya karena Gusti Nurul tak mau dimadu.

Padahal kala itu sempat terlintas di pikiran Gusti bahwa menjadi permaisuri atau istri Sultan merupakan dambaan banyak perempuan kala itu karena mendapat kedudukan istimewa.

Gusti Nurul mengatakan, Sri Sultan HB IX seorang yang berbesar hati dan menerima penolakan itu dan tetap menjaga hubungan dengan baik. Walau setiap bertemu, Sultan selalu mendesak menanyakan alasan Gusti Nurul menolak pinangannya.

Ia pun akhirnya memberi jawaban kalau ia tidak akan bisa tidur kalau dimadu. Jawabannya membuat Sultan tertawa.

Tak hanya Sultan yang mau memperistri Gusti Nurul. Ada juga seorang kolonel G.P. H Djatikusumo yang juga tercatat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pertama.

Ada juga lelaki dari bangsawan lain dari Yogya. Namun sayang, semua cinta mereka ditolak. Selain bangsawan dan perwira tinggi, ternyata ada juga tokoh politik yang suka pada Gusti Nurul, yakni Sutan Sjahrir.

Gusti mengenang, setiap rapat kabinet digelar di Yogyakarta, Sjahrir selalu mengutus sekretaris pertamanya, Siti Zoebaedah Osman ke Pura Mangkunegaran untuk khusus mengantar hadiah yang dibelinya di Jakarta.

Gustti Nurul. Foto: istimewa

Hadiah itu berupa selendang sutera, tas bahkan jam tangan dengan merek terkenal. Bersama hadiah itu juga terlampir surat.

Bahkan Sutan Sjahrir pernah mengundang Gusti Nurul sekeluarga untuk berkunjung ke Linggarjati dan menginap di rumah perundingan Belanda-Indonesia itu.

Ada hal yang diingat Gusti Nurul saat dia berada di dekat Sjahrir kala itu. Sjahrir pernah membelai pipi dan daguku dan dia diam saja.

Namun sayang, kisah cinta hubungan keduanya tak lanjut ke pelaminan. Alasannya karena masalah partai. Menurut Gusti, sebagai tokoh Partai Sosialis Indonesia, ia tidak mungkin menikah dengan putri bangsawan yang feodal.

Yang membuat banyak orang terkejut, Gusti juga bercerita pernah diajak bicara dengan Istri keempat Soekarno, Hartini. Menurut dia, Hartini pernah bercerita kalau Bung Karno pernah menaruh rasa pada Gusti Nurul.

Bung Karno juga pernah meminta Basuki Abdullah untuk melukis Gusti Nurul dan lukisannya dipajang di kamar kerja Presiden di Istana Cipanas.

Setelah Gusti Nurul menikah, setiap pertemuan-pertemuan dengan Bung Karno selalu mengatakan kalau dia kalah cepat dengan suami Gusti Nurul.

Tapi menurut Gusti Nurul, seandainya pun dulu Bung Karno langsung melamar, problemnya akan sama dengan yang dihadapi Sutan Sjahrir. Ditambah lagi, Gusti Nurul tetap tak mau dimadu dan bukan berjodoh dengan bapak proklamator itu.

Laki-laki lain yang sempat mencintai Gusti Nurul adalah Basuki Abdullah, pelukis terkenal yang pernah melukis Gusti Nurul atas permintaan Sukarno. Lukisan itu masih dipasang di ruang tamu rumahnya.

Singkat cerita, ibunda Gusti Nurul meminta agar dia menjalani tirakat mutih, yakni hanya makan nasi putih dan air putih saja selama tiga hari berturut-turut karena jodoh yang diinginkan tak kunjung datang.

Gusti Nurul pun akhirnya memilih menikah dengan RM Soejarsoejarso Soerjosoerarso, duda satu anak 1 berpangkat letnan kolonel. Keduanya memilih hidup di luar Istana dan pindah ke Jakarta.

Semasa muda Gusti Nurul dikenal karena kecantikan dan kecerdasannya. Dia pun dijuluki 'De Bloem van Mangkunegaran' atau Kembang dari Mangkunegaran dan banyak disukai para pria.

Gusti Nurul tutup usia pada tahun 2015 di RS Boromeus Bandung. Dia menggenapkan usia hingga 94 tahun dengan meninggalkan 7 orang anak, 14 cucu dan 1 cicit. (ace)