Lensa Kontak Canggih Tengah Diuji Coba, Diklaim Bakal Gantikan Monitor Komputer?

Membahas isu-isu yang lagi viral
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Berita Viral tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Zaman semakin canggih. Bila komputer generasi pertama sebesar ruangan, kini sudah bisa dipangku dalam bentuk laptop. Layar komputer yang sekarang pun kemungkinan akan tergantikan di masa depan, salah satunya dengan lensa kontak yang kini tengah diuji coba.
Mengutip dari BBC, sebuah lensa kontak canggih tengah dikembangkan oleh ilmuwan. Nantinya, lensa kontak yang hanya seukuran mata manusia digadang-gadang sebagai teknologi pengganti layar komputer.
Disebutkan, nantinya lensa kontak tersebut bisa membantu berbagai kegiatan di keseharian, seperti misalnya berpidato, tidak lagi harus membaca lewat kertas, tetapi kata-kata sudah bisa dilihat di depan mata secara langsung.
"Bayangkan, kamu adalah pemusik dengan lirikmu, atau akordmu, di depan kedua matamu. Atau kamu atlet dan bisa melihat biometrikmu dan jarakmu dan informasi lain yang kamu butuhkan," kata Steve Sinclair dari Mojo, pengembang lensa kontak pintar.
Kini perusahaan milik Sinclair tengah dalam proses uji coba lensa kontak pintar untuk manusia. Nantinya, diharapkan pemakai lensa akan mendapat tampilan mengambang mengenai berbagai informasi bak komputer.
Lensa sklera tersebut dilengkapi dengan microLED, sensor pintar, dan baterai solid-state. Meski semua itu masih merupakan prototipe, tapi sudah dapat berfungsi dan dipakai. Pengujian secara internal pun segera dilakukan.
"Kini sampai pada bagian yang menarik, di mana kami mulai mengoptimalkan performa dan tenaga, dan memakainya dalam jangka waktu lebih lama demi membuktikan bisa dipakai sepanjang hari," ujar Sinclair.
Lensa kontak lain tengah dalam pengembangan untuk mengumpulkan data kesehatan. Disampaikan oleh Rebecca Rojas selaku instruktur ilmu optometri Columbia University, salah satu yang dapat dipantau adalah kadar glukosa penderita diabetes.
“Lensa ini juga bisa memberikan opsi perpanjangan pelepasan obat, berguna untuk diagnosis dan rencana perawatan. Menarik melihat sejauh mana teknologi berkembang dan potensi yang ditawarkannya untuk meningkatkan kehidupan pasien," ujar Rojas.
Riset sedang dilakukan untuk membuat lensa kontak yang bisa mendiagnosis dan bahkan mengatasi kondisi medis, mulai dari mata, diabetes, atau bahkan kanker. Lensa tersebut, seperti misalnya, tengah dikembangkan University of Surrey.
"Kami membuatnya sangat datar, dengan lapisan jaring sangat tipis, dan kita dapat menempatkan lapisan sensor langsung ke lensa kontak sehingga langsung menyentuh mata dan memiliki kontak dengan larutan air mata," ujar Yunlong Zhao dari University of Surrey.
Dijanjikan oleh Zhao, lensa kontak tersebut akan nyaman dipakai karena lebih fleksibel dan langsung terhubung ke larutan air mata sehingga memberi hasil penginderaan yang lebih akurat.
Hanya saja, semua tentu bukan tanpa hambatan. Salah satu tantangan adalah pemberian tenaganya dengan baterai, harus dibuat betul-betul kecil. Karenanya, Mojo saat ini masih menguji produk dan ingin pengguna bisa memakainya tanpa harus mengecas.
"Keawetan baterai tergantung seberapa sering digunakan, seperti hp atau jam tangan pintar saja," kata juru bicara perusahaan.
Kekhawatiran lain adalah tentang privasi. Pasalnya, kacamata Google pada 2014 dinilai gagal dalam hal privasi karena orang suka mengambil gambar diam-diam. Lensa kontak, nantinya, dinilai akan lebih sulit untuk dideteksi.
"Kacamata pintar, minimal bisa kasih tanda ke orang kalau sedang merekam, seperti misalnya ada lampu warna merah menyala. Sementar itu, lensa kontak akan lebih susah untuk mengintegrasikan fitur tersebut," kata Daniel Leufer, analis kebijakan Access Now.
Ada juga kekhawatiran mengenai keamanan data. Sebab, lensa kontak pintar melacak pergerakan mata penggunanya. Ditakutkan perangkat itu mengumpulkan dan membagikan data mengenai apa yang dilihat pemakainya, seberapa lama, sesering apa, dan sebagainya.
"Jenis data intim ini bisa dipakai membuat kesimpulan bermasalah tentang semua, mulai dari orientasi seksual hingga apakah kita mengatakan yang sebenarnya kala diinterogasi," ujar Leufer mengenai kekhawatirannya meski Mojo menyebut semua data dilindungi.
Kemudian, ada juga kekhawatiran mengenai kesehatan bila lensa tersebut dipakai secara reguler. Alasannya, segala jenis lensa kontak punya risiko terhadap kesehatan mata bila tidak dirawat atau dicopot secara benar.
"Saya khawatir dengan sikap abai, atau kebersihan lensa buruk dan pemakaian berlebihan. Ini bisa menyebabkan komplikasi seperti iritasi, peradangan, infeksi atau risiko kesehatan mata,” kata Rojas.
Mengingat lensa kontak canggih tersebut diharapkan bisa dipakai sampai setahun penuh, Sinclair mengaku khawatir juga. Namun, dia menunjukkan bahwa lensa tersebut bisa diprogram untuk mendeteksi kapan harus dibersihkan atau diganti.
Rencananya, perusahaan juga nantinya akan bekerja sama dengan dokter mata untuk meluncurkan lensa tersebut. Ia pun merasa bahwa teknologi itu tak akan langsung diterima, tapi secara perlahan bisa menarik para pengguna.
"Ini bakal butuh waktu, seperti halnya produk konsumsi baru, tapi kami pikir tak akan terhindarkan mata kami pada akhirnya akan menjadi ‘pintar’,” sebut Sinclair. (bob)
