Konten dari Pengguna

Mengapa Lampu Lalu Lintas Itu Hanya 3 Warna? Mengapa Gak Kayak Pelangi?

Berita Viral

Berita Viral

Membahas isu-isu yang lagi viral

·waktu baca 3 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berita Viral tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lampu lalu lintas mempunyai peran penting dalam pergerakan lalu lintas. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Lampu lalu lintas mempunyai peran penting dalam pergerakan lalu lintas. Foto: Unsplash

Terkadang, hal sepele dan sering kita temui saat beraktivitas sehari-hari kerap menjadi bahan pertanyaan. Salah satunya lampu lalu lintas alias traffic lights atau warga +62 sering menyebutnya lampu merah. Mengapa ya, lampu yang sering kita temui di persimpangan ini hanya memiliki 3 warna yakni merah, kuning, dan hijau.

Lalu, mengapa enggak seperti pelangi yang memiliki tujuh warna? Pertanyaan-pertanyaan tersebut kerap muncul di setiap pikiran orang. Apalagi, lampu lalu lintas tersebut juga digunakan di semua negara dengan tiga warna lampu.

Kali ini, pertanyaan itu akan dibahas tuntas. Sebab, hal-hal tersebut biasanya mengganggu seseorang jika tidak mengetahui jawaban dan sejarahnya.

Lampu lalu lintas pertama kali digunakan hanya dua warna

Lampu lalu lintas pertama kali ditemukan pada 1860 di London, Inggris, dan digunakan di kota yang sama pada 1868. Kala itu, jalan raya di ibu kota Inggris tersebut sudah terbilang ramai dengan roda empat hingga membutuhkan tanda berupa lalu lintas.

Ilustrasi lampu lalu lintas. (Foto:Instagram/@mobilkucom).

Namun, pada tahun tersebut, lampu lalu lintas hanya memiliki dua warna yakni hijau dan merah. Kala itu, penggunaan lampu tersebut hanya dikhususkan untuk memberi tanda kendaraan berhenti dan maju.

Pemilihan warna lampu

Menurut berbagai sumber, dulunya pemilihan lampu lalu lintas yang pertama kali digunakan di London hanya karena warna tersebut dianggap sangat jelas dilihat oleh mata manusia. Pemilihan lampu merah dan hijau dinilai sangat bisa dilihat dari kejauhan oleh mata manusia ketimbang warna lain.

Ilustrasi lampu lalu lintas. (Foto:Instagram/@indiumgf_id).

Disebutkan, daya penglihatan manusia sewajarnya yakni 180 derajat. Namun, saat berkendara, kondisi penglihatan itu disebut berkurang dan hanya berfungsi 90 derajat saat berada di jalan raya. Bahkan, manusia disebut mulai kehilangan kemampuan untuk membedakan warna atau buta warna pada 50 derajat ke atas.

Penambahan lampu berwarna kuning

Meski awalnya lampu lalu lintas hanya memiliki dua warna yakni merah dan hijau. Namun, hal itu berubah pada 1900-an. Kala itu di Kota Detroit, Amerika Serikat, penggunaan lampu lalu lintas merah dan hijau dinilai kurang efektif.

Ilustrasi lampu lalu lintas. (Foto:Instagram/@mobilkucom).

Pasalnya, banyaknya mobil, kuda, hingga gerobak kerap menerobos lampu lalu lintas di rel kereta api. Hingga kemudian, polisi bernama William Potts, menambah lampu lalu lintas dengan warna kuning. Warna itu kemudian diberi arti berhati-hati.

Dengan hal itu, para pengemudi mobil hingga peternak dan gerobak saat itu bisa lebih berhati-hati usai adanya penambahan lampu kuning di lampu lalu lintas di jalan raya hingga rel kerata api.

Kini, penggunaan lampu lalu lintas dengan tiga warna yakni merah, kuning, dan hijau, telah dipakai seluruh negara. Seperti diketahui, lampu merah berarti berhenti, kuning menunjukkan berhati-hati, dan hijau menandakan maju.

Itulah sejarah singkat pemilihan warna lampu lalu lintas yang hanya memiliki tiga warna. Nah, sekarang kamu sudah tahu kan ternyata lampu lalu lintas dulunya hanya memiliki dua warna yakni hijau dan merah. (fre)