Waspada Maladaptive Daydreaming, Ketika Orang Kecanduan Melamun dan Berkhayal

Membahas isu-isu yang lagi viral
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berita Viral tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Melamun dan berkhayal merupakan kegiatan yang tentunya tidak produktif. Namun, beberapa orang suka melamun, terutama ketika sedang tidak melakukan apa-apa. Bahkan, ada juga yang sampai kecanduan melamun.
Padahal, melamun atau berkhayal secara berlebihan itu termasuk gangguan mental, lho. Mengutip dari Cleveland Clinic, kondisi kejiwaan itu disebut maladaptive daydreaming, yakni di mana seseorang melamun secara intens, terkadang sampai berjam-jam.
Maladaptif di sini berarti jenis melamun yang tidak sehat, biasanya upaya negatif mengatasi atau beradaptasi dengan masalah. Pengidap cenderung ‘kehilangan diri’ dalam lamunan yang sangat mendalam dan detail.
Dari penelitian, didapati lamunan maladaptif mungkin terjadi secara kompulsif sehingga sulit atau bahkan mustahil untuk mengendalikannya. Masalah ini biasanya juga bersinggungan dengan kesehatan mental dan kondisi neurologis lainnya
Meski paling sering menyerang orang dengan kondisi yang memengaruhi fungsi otak, terdapat pula bukti bahwa maladaptive daydreaming merupakan kondisi berbeda dari kelainan lain, seperti misalnya alzheimer dan schizophrenia.
Faktor umur diketahui punya pengaruh pada kondisi ini. Penelitian mendapati maladaptive daydreaming dialami orang dewasa muda dan remaja, bisa juga terjadi pada anak-anak. Diketahui pula, segelintir pengidap maladaptive daydreaming juga punya riwayat trauma.
Seberapa Umum dan Efeknya pada Tubuh
Kondisi ini relatif baru, ditemukan profesor psikologi klinis Eli Somer pada 2022. Riset membuktikan kondisi ini terjadi pada 2,5 persen orang dewasa di Israel, dan 4,3 persen orang dewasa muda dan para pelajar.
Studi lain memperkirakan maladaptive daydreaming memengaruhi 20 persen orang dewasa dengan Attention-deficit hyperactivity disorder (ADHD), berarti dialami sekitar 2,2 juta orang dewasa di Amerika Serikat.
Sementara efek maladaptive daydreaming lebih memengaruhi pikiran ketimbang tubuh. Jadi, efek yang paling terlihat ada pada otak, terdapat perbedaan tipis ukuran pada bagian tertentu, biasanya area yang mengontrol fungsi eksekutif. Namun, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk ahli mengonfirmasi hal ini.
Gejala dan Penanganannya
Gejala maladaptive daydreaming adalah segala yang berkaitan dengan melamun. Kondisi ini cenderung terbagi jadi dua kategori: perilaku melamun dan apa yang dirasakan dari melamun.
Perilaku melamun di antaranya:
Intens. Lamunan sangat jelas dan mendetail, lebih dari sekadar lamunan biasa.
Kompleks. Lamunan kerap punya plot rumit, orang-orangnya punya karakter seperti dalam acara TV.
Durasi. Bisa sampai berjam-jam.
Punya maksud. Beberapa melamun dengan sengaja.
Tidak sadar sekitar. Saking kuatnya lamunan, jadi terputus dari dunia sekitar. Mirip disosiasi, mekanisme pertahanan untuk orang dengan kecemasan parah, depresi, atau trauma.
Sedangkan dari apa yang dirasa ketika melamun, di antaranya:
Terganggunya kegiatan sosial. Pengidap sering memilih untuk melamun daripada menghabiskan waktu bersama orang lain.
Mengganggu pekerjaan, hobi, dan kegiatan lain.
Rasa malu dan bersalah. Pengidap biasanya tidak enak melamun, apalagi kalau sampai mengganggu kehidupan.
Melamun kompulsif. Membuat seolah perlu untuk melamun. Jika tidak ada kesempatan melakukannya, bisa merasa kesal. Beberapa penelitian menyebutnya mirip kecanduan.
Berupaya berhenti. Pengidap sulit mengurangi lamunan atau berhenti sama sekali.
Sayangnya, karena merupakan gangguan mental, hingga kini belum ada solusi untuk maladaptive daydreaming. Karenanya, buat yang mengidapnya, belum ada cara mencegah atau menguranginya. (bob)
