News
·
8 September 2020 11:39

Jatim Jadi Urutan Teratas Kematian Perawat karena COVID-19

Konten ini diproduksi oleh BASRA (Berita Anak Surabaya)
Jatim Jadi Urutan Teratas Kematian Perawat karena COVID-19 (237893)
Pixabay.
Jawa Timur menjadi urutan teratas kematian perawat karena COVID-19. Seperti diketahui, hingga Senin (7/9) terdapat 820 tenaga kesehatan (nakes) di Jawa Timur dinyatakan terkonfirmasi positif COVID-19. Dari jumlah tersebut, 25 orang diantaranya meninggal dunia.
ADVERTISEMENT
Menanggapi hal itu, Ketua DPW Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jawa Timur, Prof Nursalam MNurs mengatakan jika di Indonesia sudah ada 74 nakes yang meninggal dunia.
"Total perawat yang meninggal dunia di Indonesia sudah mencapai 74 orang. Angka kematian Jatim tertinggi, ada 25 orang (meninggal dunia)," ucapnya, Selasa (8/9).
Nursalam mengungkapkan jika pihaknya telah melakukan berbagai upaya guna meminimalisir penyebaran COVID-19 kepada para nakes.
Diantaranya melakukan pemeriksaan PCR secara masih dan berkala setiap 14 hari agar dapat dilakukan 3T (tracing, testing dan treatment) dengan baik.
"Untuk point ini belum terlaksana dengan semestinya. Karena, terdapat kendala sehingga tes swab dua pekan sekali menjadi terhambat," ujarnya.
Kedua, mengimbau para nakes agar tetap waspada, tidak lengah dalam mematuhi protokol kesehatan, khususnya penggunaan APD di semua tatanan pelayanan (khususnya di Rumah Sakit).
ADVERTISEMENT
Ketiga melakukan pengelolaan yang lebih komprehensif, menambah kamar di beberapa rumah sakit dengan mempertimbangkan kebutuan tenaga medis, serta memisahkan gedung antara pasien COVID-19 dan non COVID-19.
"Selanjutnya, memberikan edukasi kepada masyarakat secara masif dan tindakan bagi yang tidak patuh dalam penggunaan APD kepada nakes," tuturnya.
Terakhir yakni melakukan advokasi empat bagian yang terdiri dari kesejahteraan perawat terutama insentif yang sampai sekarang belum cair, kebutuhan dasar seperti makanan, istirahat yang cukup bagi nakes, dan suplemen atau vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh nakes.
"Selanjutmya mencegah stigma pada perawat termasuk jangan sampai dipecat jika ada perawat honorer atau relawan yang positif. Institusi perlu keterbukaan jumlah parawat yang terkonfirmasi positif supaya bisa melindungi perawat dan pasien," pungkasnya.
ADVERTISEMENT