News
·
23 Juli 2021 7:34
·
waktu baca 3 menit

Opini: Menjadikan Anak Tangguh dan Sehat Mental dengan Mengenalkan Keragaman

Konten ini diproduksi oleh BASRA (Berita Anak Surabaya)
Opini: Menjadikan Anak Tangguh dan Sehat Mental dengan Mengenalkan Keragaman (41581)
searchPerbesar
PIxabay
Banyak orang bilang mengajarkan kebaikan sebaiknya sedini mungkin. Mengenalkan keragaman pada anak adalah salah satu wujud orangtua mengajarkan kebaikan.
ADVERTISEMENT
Kelak anak yang memahami tentang keragaman dengan baik akan mudah mengembangkan sikap toleransi dan mampu menerima perbedaan. Anak juga menjadi lebih tangguh menghadapi tantangan lingkungan dimana keragaman akan ditemui. Peran orangtua menjadi penting disini.
Orang tua dapat memulainya dengan mengajak anak bicara tentang keragaman di lingkungan terdekat anak. Misalnya di lingkungan rumah atau sekolah.
Ajak anak memahami mengapa teman-temannya memiliki ciri atau karakteristik yang berbeda satu sama lain. Anak akan menggambarkan apa yang diamati di lingkungannya, dan menyadari bahwa mereka berbeda satu sama lain.
Mengapa ada anak yang memiliki warna kulit, jenis rambut, hobi, cara bicara, bahasa yang digunakan, yang berbeda-beda. Bahkan mengajak anak untuk memahami bahwa secara keyakinan, tidak semua anak memiliki agama yang sama. Lebih jauh anak akan mengenali, bahwa di lingkungannya, setiap anak akan melaksanakan ritual keagamaan yang berbeda satu sama lain. Berdasarkan hal-hal yang dipelajari anak dari lingkungannya, ajarkan anak untuk menghormati keragaman tersebut.
Opini: Menjadikan Anak Tangguh dan Sehat Mental dengan Mengenalkan Keragaman (41582)
searchPerbesar
Pixabay
Wallace (2020) menambahkan pentingnya mengarahkan sikap anak, bahwa meskipun orang terlihat berbeda dan memiliki latar belakang masing-masing, namun mereka semua sama-sama manusia.
ADVERTISEMENT
Sebagai sesama manusia harusnya tidak ada rasa takut untuk saling mengenal dan berada dalam lingkungan yang sama. Seringkali anak kritis terhadap berbedaan tersebut dan ingin memastikan apakah yang ia rasakan tentang perbedaan tersebut masih bisa di toleransi. Tugas orangtua adalah memvalidasi perasaan anak-anak atau kebingungan yang dihasilkan.
Orangtua dapat menjelaskan bahwa meski mereka berbada pada beberapa hal, namun memiliki kesamaan pada hal yang lain. Misalnya, bisa mengatakan bahwa semua anak sama-sama suka bermain, sama-sama suka menikmati makanan ringan atau suka mengobrol.
Tekankan bahwa semua anak bisa beraktivitas bersama karena memiliki beberapa kesamaan pada hal yang disukai dan mereka bisa punya pertemanan yang menyenangkan. Hal ini akan mengurangi ketidaknyamanan yang dirasakan oleh anak-anak.
ADVERTISEMENT
Hal yang juga penting untuk disampaikan oleh orangtua adalah kemungkinan anak akan diperlakukan berbeda oleh temannya. Bahkan pada beberapa kasus akan muncul dalam bentuk bullying atau isolasi sosial.
Untuk itu orangtua harus mempersiapkan mental anak dengan cara menerapkan nilai-nilai positif seperti keberanian, kemampuan menyatakan pendapat, dan mengelola emosi dengan baik. Anak juga dibekali cara-cara untuk menghubungi orang dewasa signifikan seperti orangtua dan guru untuk melaporkan jika menerima perlakukan bullying dari temannya.
Lalu ajarkan bahwa perlakuan berbasis kekerasan tersebut tidak boleh terjadi dalam relasi mereka dengan temannya, apalagi jika didasarkan pada perbedaan yang dimiliki setiap anak. Anak harus belajar cara memperlakukan orang lain dengan hormat dan dengan demikian anak juga akan dihormati oleh orang lain.
ADVERTISEMENT
Relasi yang positif dalam setiap lingkungan anak akan mempromosikan kesehatan mental anak, sehingga mampu menyelaraskan kognisi, afeksi dan perilakunya secara positif. Selamat hari anak nasional, semoga anak Indonesia tumbuh menjadi individu yang tangguh, berani, bahagia, sehat fisik, mental, sosial, spiritual dan siap menghadapi tantangan ke depan.
Penulis: Dr. Ike Herdiana, M.Psi.,Psikolog.
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Airlangga Surabaya