kumparan
13 Okt 2019 7:01 WIB

Saat Limbah Jelantah Jadi Berkah, Diolah Jadi Pengharum dan Takjel

Ilustrasi minyak. Gambar oleh RitaE dari Pixabay
Limbah minyak jelantah yang didapat dari sisa penggorengan seringkali dibuang begitu saja. Padahal, sifat minyak yang tak larut air membuat limbah jelantah ini menyumbat saluran air dan merusak kualitasnya.
ADVERTISEMENT
Bahkan di tangan orang-orang yang tak bertanggung jawab, minyak jelantah ini bisa dicampur bahan berbahaya seperti H202 atau hidrogen peroksida agar kembali tampak jernih dan dianggap minyak baru. Padahal bila digunakan minyak tersebut akan memicu penyakit jantung dan kanker.
Sejak awal 2015 ada beberapa anak muda di Makassar yang mulai menggarap limbah minyak jelantah menjadi biodiesel bernama GenOil. Bahan bakar biodiesel dari minyak jelantah ini lebih murah dibanding harga di pom bensin, sehingga nelayan bisa terus melaut tanpa khawatir tak bisa beli bahan bakar. Tak hanya itu, 1 liter biodiesel dari minyak jelantah bisa menjangkau jarak 1 kilometer laut lebih dibanding 1 liter solar yang hanya menjangkau 800 meter.
Cindy Destiana Nariswari. Foto : Masruroh/Basra
Limbah jelantah ternyata juga menjadi perhatian para finalis Pangeran dan Putri Lingkungan Hidup 2019. Beberapa finalis bahkan membuat berbagai inovasi untuk menyadarkan masyarakat tentang limbah jelantah yang berpotensi merusak lingkungan.
ADVERTISEMENT
Cindy Destiana Nariswari contohnya, siswi kelas 8 SMP Negeri 6 Surabaya ini sejak Juni 2019 membuat Takjel atau Tabungan Bank Jelantah untuk memotivasi warga di kampungnya mengumpulkan minyak jelantah dan menjualnya ke bank sampah di kawasan Ngagel, Surabaya. Dari bank sampah inilah minyak jelantah akan disetor ke produsen biodiesel dari jelantah.
Uang hasil penjualan minyak jelantah tersebut tak masuk kantong pribadi Cindy, namun dialokasikan ke tabungan penyetor minyak jelantah yang dia kelola.
"Warga yang kasih minyak jelantah ke saya, saya bikinkan tabungan bank jelantah. Dan tabungannya baru bisa diambil kalau pengumpulan minyak jelantah warga minimal 10 liter," kata Cindy pada Basra, Sabtu (12/10).
Cindy mengakui aksinya mengumpulkan minyak jelantah dari para tetangga ini tidak mudah. Penolakan dari tetangga sering dia terima. Beruntung, Cindy punya ibu dan guru pembina lingkungan di sekolah yang sangat mendukungnya.
Buku Takjel (Tabungan Bank Jelantah) karya Cindy.
Sang ibu turut mendukung kegiatan Cindy sebagai pengepul minyak jelantah. Bahkan oleh sang ibu, Cindy kerap diajak menghadiri kegiatan kampung, seperti arisan maupun kegiatan PKK.
ADVERTISEMENT
"Pas ada acara kampung, saya selalu sosialisasi ke warga tentang kegiatan mengumpulkan minyak jelantah yang saya lakukan. Dan sekarang saya sudah dapat banyak nasabah," ujarnya sumringah.
Jika diawal kegiatannya sebagai pengepul minyak jelantah, dalam seminggu Cindy hanya mampu mengumpulkan 7,5 liter minyak jelantah dari 4 warga (nasabah). Namun kini setiap minggunya Cindy mampu mengumpulkan 41,5 liter minyak jelantah. Nasabah Cindy pun turut bertambah menjadi 22 orang.
Untuk mendorong warga agar mau mengumpulkan minyak jelantah lebih banyak kepadanya, ada trik khusus yang dilakukan Cindy.
"Jadi sekarang ada reward bagi warga yang mengumpulkan minyak jelantah paling banyak. Reward-nya berupa sembako, bisa minyak goreng ataupun gula," ujarnya.
Kini Cindy tak perlu bersusah payah mendatangi rumah warga untuk mengumpulkan minyak jelantah karena warga sendiri lah yang akan mengantar minyak jelantah ke rumahnya.
ADVERTISEMENT
Jika Cindy memilih menjadi pengepul minyak jelantah, maka lain lagi cerita Christabel Ariowina. Siswi kelas VIII SMPN 6 Surabaya ini mengolah minyak jelantah menjadi pengharum ruangan.
Jerum atau Jelantah Harum karya Christabel Ariowina. Foto-foto : Masruroh/Basra
"Saya sering lihat tetangga buang minyak jelantah di selokan, terus saya searching di internet tentang pengolahan minyak jelantah. Ternyata minyak jelantah bisa dibikin pengharum ruangan," jelas Abel kepada Basra, Sabtu (12/10).
Abel pun belajar cara membuat pengharum ruangan dari minyak jelantah lewat YouTube. Beberapa kali mengalami kegagalan karena formula yang kurang pas, tak membuat Abel menyerah.
"Dua kali eksperimen gagal, tapi saya tetap bikin. Dan yang ketiga kalinya baru berhasil," imbuhnya.
Christabel Ariowina, siswi SMPN 6 Surabaya.
Abel membuat pengharum ruangan beberapa jenis diantaranya floral, aromaterapi, dan fruity. Satu buah pengharum ruangan ia jual seharga Rp 5 ribu.
ADVERTISEMENT
Jika diawal kegiatannya membuat pengharum ruangan, Abel hanya mengumpulkan minyak jelantah 2 liter dalam seminggu. Kini Abel mengumpulkan minyak jelantah sebanyak 10 liter dalam 2 minggu.
"Tetangga sudah tau minyak jelantahnya mau saya bikin pengharum ruangan, jadi sekarang minyak jelantah mereka diantar ke rumah," tukas Abel. (Reporter : Masruroh / Editor : Windy Goestiana)
-
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan