Budidaya Jamur Jenggel Jagung di Blora Terkendala Pemasaran

Oleh Priyo Spd Blora- Usaha budidaya jamur janggel (bonggol) jagung yang dilakukan warga Dusun Mojo Kulon Desa Banjarejo Kecamatan Banjerejo Kabupaten Blora, Jawa Tengah mengalami kesulitan pemasaran. Selain itu harga jualnya makin menurun sejak satu tahun terakhir. Harapan warga setempat meraup untung untuk mendapatkan nilai tambah penghasilan keluarga kini nyaris pupus dan mulai ditinggalkan. Mohammad Aminudin, salah seorang perangkat Dusun Mojo Kulon Desa Banjarejo mengemukakan, budidaya jamur janggel pertama kali dirintisnya tahun 2017 setelah memperoleh informasi melalui internet. Kemudian, karena dinilai prospektif, hampir 70 persen warga dari 125 kepala keluarga yang ada di Desa Mojo Kulon mengikuti usahanya. “Sekarang tinggal lebih kurang lima orang yang masih membudidayakan jamur janggel di dusun Mojo Kulon, yang lain sudah tidak lagi dan medianya dibiarkan mangkrak,” kata Aminnudin, kepada beritabojjonegoro.com, Selasa(22/01/2019). Padahal, pada awalnya, kata dia, warga mencari janggel jagung hingga ke luar desa setempat untuk media budidaya jamur. Namun saat ini, pengepulnya hanya satu orang. Pertama harga per kilogram Rp 25 ribu, kemudian turun menjadi Rp 22 ribu per kilogram, lalu turun lagi menjadi Rp 20 ribu per kilogram, Rp 18 ribu per kilogram, dan sekarang ini menjadi Rp14 ribu per kilogram. “Penurunan harga itu berlangsung hingga lebih kurang satu tahun. Sehingga warga menilai usaha ini tidak untung, lantas ditinggalkan,” jelasnya. Menurutnya, selama budidaya itu dilakukan, sudah beberapa kali didatangi peminat budidaya jamur janggel dari luar kecamatan, yaitu kecamatan Kunduran, Jati, Ngawen. Todanan, Jepon dan Japah. “Mereka melakukan studi referensi dan membuat replikasi budidaya di wilayah kami,” katanya. Dijelaskan lebih lanjut, media budidaya berukuran 1 x 4 meter. Dalam media itu diisi janggel jagung 4 hingga 5 karung, kemudian ditabur ragi 7 butir atau satu pes plastik, bekatul 5 kilogram, urea 2 kilogram dengan alas terpal plastik dan papan. Sedangkan untuk tempat menumpuk janggel jagung tersebut, perlu membuat kotak dari papan yang telah disediakan tadi dengan ukuran 1× 4 meter. “Setelah tempat sudah siap digunakan menumpuk janggel jagung dengan tinggi lebih kurang 15 sentimeter, terlebih dahulu di alasi tempat penumpukan dengan karung goni agar lembab,” jelasnya. Masih menurut Mohammad Aminudin, bahwa jamur ini bisa dipanen ketika sudah berumur kurang lebih 14 hari dari terahir proses pembuatan tersebut. Panen bisa dilakukan pagi atau sore hari jika bentuk jamur sudah seperti jamur kedelai, berbentuk bulat. “Bisa dipanen lebih kurang 25 kali dalam satu media,” katanya. Ketua BPD Banjarejo, Sarpan, ditemui awak media ini menyampaikan, bahwa budidaya jamur janggel di wilayah desanya sudah diajukan ke pemerintah desa dan pernah mendapatkan pelatihan pembuatan makanan berbahan jamur janggel. Salah satunya membuat crispy. “Istri saya yang jualan jajanan di pasar pernah mencoba untuk membuat, tetapi tidak laku. Padahal per bungkus seribu rupiah. Ya akhirya saya makan sendiri bersama anak-anak,” katanya. Pada kesempatan yang sama, Hastati, salah seorang tenaga ahli teknologi tepat guna Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi yang bertugas di Blora mengemukakan, perlu teknis dan pemasaran dengan manajemen yang lebih baik. “Sebenarnya sangat prospektif dikembangkan. Mungkin perlu membangkitkan kembali semangat para pembudidaya jamur janggel ini dengan manajemen yang baik dan produk kemasan yang lebih menarik,” kata Hastati. Selain itu, lanjutnya, aneka produk makanan dengan bahan yang sama perlu didapatkan melalui kelompok. “Yang lebih penting pangsa pasarnya ditingkatkan dan diperluas dengan melakukan promosi yang tepat sasaran,” ujarnya. (teg/imm)
