Konten Media Partner

Festival Geopark 2025 Bakal Digelar di Bojonegoro

Berita Bojonegoroverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi: Objek Wisata Khayangan Api, di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. (Aset: BeritaBojonegoro/imam nurcahyo)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Objek Wisata Khayangan Api, di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. (Aset: BeritaBojonegoro/imam nurcahyo)

Bojonegoro - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, bakal menggelar Festival Geopark 2025.

Festival Geopark 2025 ini bakal digelar pada 26-29 Juni 2025, dan dipusatkan di kawasan Objek Wisata Khayangan Api di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro.

Selain itu, sejumlah event atau kegiatan juga akan digelar di lokasi wisata lainnya, seperti lokasi wisata Sumur Minyak Tua Teksas Wonocolo atau Geosite Wonocolo di Kecamatan Kedewanl; Geosite Negeri Atas Angin di Desa Deling, Kecamatan Sekar; Cultural Site Kampung Samin di Dusun Jipang, Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo; Biosite Kebun Blimbing di Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu; dan Geopark Talk yang akan digelar di Pusat Informasi Geologi Geopark Bojonegoro (PIGGBo) di Jalan Panglima Sudirman, Kota Bojonegoro.

Sebelumnya, pada 14-16 Juni 2025, juga telah dilaksanakan “Revalidasi Geopark Nasional Bojonegoro” oleh Tim Revalidasi Geopark Nasional, di 14 lokasi geopark yang tersebar di 16 kecamatan di Kabupaten Bojonegoro.

Flyer Festival Geopark Bojonegoro 2025. (Aset: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bojonegoro)

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bojonegoro, Welly Fitrama menjelaskan bahwa Festival Geopark Bojonegoro ini pertama bertujuan untuk mendukung Bojonegoro mendapatkan pengakuan UNESCO Global Geopark (UGGp) tahun depan.

“Yang kedua Bojonegoro juga memiliki sesuatu geosite yang harapannya dapat menarik bagi orang-orang yang ingin meneliti atau mengkaji geosite atau geopark tersebut,” kata Welly Fitrama

Dengan adanya geopark itu. Lanjut Welly, akan menjadi daya tarik wisata yang ke depannya bisa menarik orang untuk datang ke Bojonegoro.

“Dengan adanya orang luar datang ke Bojonegoro otomatis semua akan terdampak, terutama UMKM, IKM, dan ekonomi kreatif (Ekraf),” tutur Wellyu Fitrama.

Welly menjelaskan bahwa sebelumnya Tim Revalidasi Geopark Nasional telah melakukan revalidasi di sejumlah geosite di Kabupaten Bojonegoro, karena sertifikat Geopark Nasional Bojonegoro telah habis di tahun 2025 ini.

“Untuk goals-nya tahun depan, tapi dimulai tahun ini. Yang kemarin ada revalidasi dari Tim Revalidasi Geopark Nasional,” tutur Welly.

Welly berharap dengan digelarnya Festival Geopark 2025 masyarakat baik di Kabupaten Bojonegoro maupun di luar Kabupaten Bojonegoro mengetahui potensi-potensi geopark di Bojonegoro ini.

“Selain itu diharapkan juga ikut mempromosikan. Selain itu ikut memiliki dan memelihara dengan gotong-royong sehingga bisa meningkatkan semua sektor yang ada di situ,” tutur Welly Fitrama.

Sebelumnya, Ketua Tim Asesor Geopark Nasional, Ir R Hanang Samodra MSi, di sela-sela melakukan revalidasi di Bojonegoro mengatakan bahwa kedatangan Tim Validasi Geopark Nasional (VGN) ke Bojonegoro adalah untuk melihat perkembangan Geopark Bojonegoro.

“Penilaian Tim Nasional hampir setara dengan penilaian UNESCO.” tutur Hanang Samodra.

Hanang Samodra mengungkapkan bahwa kegiatan revalidasi, ini bertujuan untuk menilai, apakah geopark Bojonegoro tetap memegang teguh kriteria dari sebuah esensi Geopark.

Menurutnya, penilaian berdasarkan dari hasil observasi di lapangan dan data yang didapat.

"Kita ke sini untuk urusan validasi nasional dan mungkin ada beberapa yang bisa menjadi nilai internasional. Hasilnya tentu akan berdampak positif dan mohon dukungannya dari semua pihak," ucap Hanang Samodra.

Untuk diketahui, Kabupaten Bojonegoro memiliki geopark unggulan, antara lain Geosite Peteoleum Wonocolo, Kayangan Api, Kedung Lantung dan Antiklin. Untuk unggulan Biosite antara lain Agrowisata Belimbing, Penangkaran Rusa Malo, dan hutan jati. Sedang untuk unggulan Cultural Site antara lain Kampung Samin, Wayang Thengul, Tari Thengul, dan Kesenian Tayub. (ads/red/imm)

Penulis: Tim Redaksi

Editor: Imam Nurcahyo

Publisher: Imam Nurcahyo

Story ini telah di-publish di: https://beritabojonegoro.com