Jembatan Runtuh di Bojonegoro, Warga Harus Tempuh Jarak 20 Kilometer

Bojonegoro - Diberitakan sebelumnya, jembatan penghubung antara Desa Ngasem dan Desa Bandungrejo, yang berada di jalan poros desa (red, sebelumnya ditulis Jalan PUK), yang berada di Desa Ngadiluwih Kecamatan Ngasem Kabupaten Bojonegoro, pada Rabu (11/12/2019) sekira pukul 16.30 WIB, runtuh atau roboh, setelah dilewati truk yang mengangkut pasir, yang diperkirakan mencapai kurang lebih 40 ton.
Akibat dari runtuhnya jembatan tersebut, aktivitas warga Desa Bandungrejo yang hendak menuju ke Kecamatan Ngasem terganggu, karena tidak ada jalan alternatif yang jaraknya dekat. Warga harus memutar melewati jalan alternatif yang jaraknya diperkirakan sekitar 20 kilometer. Sementara kalau melewati jembatan tersebut hanya berjarak kurang lebih 5 kilometer.
Baca: Jembatan di Ngasem Bojonegoro Runtuh Saat Dilewati Truk Proyek JTB
Kepala Desa Bandungrejo, Sapani kepada awak media ini mengatakan bahwa akibat ambruknya jembatan di Desa Ngadiluwih Kecamatan Ngasem tersebut membuat aktivitas warga Desa Bandungrejo yang akan menuju ke Kecamatan Ngasem terganggu.
"Karena tidak ada jalan alternatif yang jaraknya dekat. Ada jalan alternatif tapi warga harus memutar dengan jarak yang relatif jauh yaitu melalu Desa Mediyunan, Setren, lalu ke arah Ngasem, dengan jarak tempuh sekitar 20 kilometer." tutur Sapani.
Lebih lanjut Kades Bandungrejo berharap agar segera ada tindakann lanjut dari pihak berwenang, untuk penanganan jembatan yang ambuk tersebut, agar aktivitas warga masyarakat Desa Bandungrejo dapat kembali normal.
"Semisal dibikinkan jembatan darurat atau apa, yang penting warga bisa beraktivitas seperti biasa." tutur Sapani.
Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Jembatan dan Peralatan, Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Bojonegoro, Wardi Amd, kepada awak media ini menuturkan bahwa pihaknya untuk sementara akan membuat jembatan darurat di salah satu sisi jembatan yang ambuk tersebut, agar akses warga yang hendak melintas di jalur tersebut tidak terganggu.
"Nantinya akan kita bikin jalan darurat agar supaya akses jalan tersebut kembali normal," tutur Wardi, Kamis (12/12/2019) pagi.
Diberitakan sebelumnya, menurut keterangan Kapolsek Ngasem, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Dumas Barutu SH, bahwa kronologi runtuhnya jembatan tersebut bermula pada Rabu (11/12/2019) sekira jam 16.30 WIB, kendaraan truk tronton nomor polisi W 8254 UR yang bermuatan pasir sedang melintas dari arah timur menuju ke barat, di poros kecamatan yang menghubungkan Desa Ngasem dan Desa Bandungrejo, untuk menuju Proyek Jambaran Tiung Biru (JTB).
Sesampainya di lokasi kejadian, atau tepatnya saat melintas di jembatan Desa Ngadiluwih Kecamatan Ngasem, saat itu kepala atau kabin truk sudah berhasil melintasi jembatan atau sudah berada di badan jalan, dan saat badan truk atau ban belakang truk sedang melintas di atas jembatan, tiba-tiba jembatan yang dilintasi truk tersebut ambrol, sehingga badan atau ban belakang truk tronton tersebut terperosok ke dalam jembatan yang runtuh tersebut. (dan/imm)
Reporter: Dan Kuswan SPd
Editor: Imam Nurcahyo
Editor: Imam Nurcahyo
Artikel ini telah terbit di: https://beritabojonegoro.com
Dengan judul: Dampak Runtuhnya Jembatan di Ngasem Bojonegoro, Warga Harus Tempuh Jarak 20 Kilometer
