Konten Media Partner

Mulai Terpinggirkan, Wayang Thengul di Blora Dijadikan Wisata Budaya

Berita Bojonegoroverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wayang Thengul (foto: priyo/beritabojonegoro)
zoom-in-whitePerbesar
Wayang Thengul (foto: priyo/beritabojonegoro)

Blora - Pagelaran Wayang Thengul yang dulunya merupakan primadona hiburan rakyat di Kabupaten Blora, namun belakangan ini mulai terpinggirkan dan hanya dinikmati sedikit orang. Selain Wayang Thengul, di Kabupaten Blora juga dikenal Wayang Kulit dan Wayang Krucil, hanya saja dari sejumlah kesenian wayang yang ada, sejak beberapa tahun belakangan ini, Wayang Thengul mulai terpinggirkan.

Sebagai upaya melestarikan kesenian Wayang Thengul, seorang warga di Kabupaten Blora mengemas wayang thengul menjadi wisata budaya melalui paket wisata desa.

Hanif Masadini, salah satu pegiat wisata desa asal Desa Bangowan Kecamatan Jiken Kabupaten Blora, yang mencoba mengolaborasikan wisata alam yang dengan Wisata Budaya Wayang Thengul. (foto: priyo/beritabojonegoro)

Adalah Hanif Masadini, salah satu pegiat wisata desa asal Desa Bangowan Kecamatan Jiken Kabupaten Blora, yang sekaligus penerus pemilik wayang thengul generasi ketiga ini mengaku mencoba mengolaborasikan wisata alam yang telah ada di desanya dengan Wisata Budaya Wayang Thengul.

"Minat masyarakat khususnya generasi muda terhadap pagelaran seni wayang thengul semakin rendah, hal ini yang akan kita coba untuk menjadikan wisata budaya yang kita kolaborasikan dengan wisata alam yang sudah ada saat ini," kata Hanif, Senin (14/12/2020)

Menurutnya, langkah tersebut dicoba untuk menumbuhkan gairah generasi muda agar mengenal budaya asli Indonesia. Hal itu disebabkan banyak generasi muda beranggapan bahwa pertunjungan wayang bahasanya terlalu rumit dan susah dimengerti, di mana generasi muda lebih mengerti Bahasa Indonesia. Selain itu, durasi pertunjukan seni wayang juga dirasakan terlalu lama

"Pertunjukan wayang semalam suntuk biasanya mulai pukul 21.00-04.00 atau sekitar 7 jam, padahal kehidupan sekarang sangat banyak urusannya. Namun melalui wisata ini nanti mereka bisa belajar alur cerita dan tidak usah menunggu dengan durasi yang lama," ucapnya.

Hanif menjelaskan bahwa minat generasi muda terhadap wayang juga disebabkan oleh cerita yang cenderung dirasakan berat, penuh renungan, dan bobot filosofisnya juga berat. Bahkan, katanya, muncul anggapan lakon dan pesan wayang dianggap hanya untuk orang tua yang membutuhkan pencerahan.

"Saat ini dalang wayang thengul di Blora tinggal tersisa sekitar 3 orang. Ini tentu menjadikan kita sebagai penerus harus bisa berinovasi agar kesenian ini tidak punah dan bisa selalu dikenal generasi muda," tutur Hanif.

Wayang Thengul, adalah kesenian wayang yang berasal dari Kabupaten Bojonegoro .Wayang thengul hampir mirip dengan wayang golek namun perbedaan yang jelas terlihat ialah dari cerita yang diangkat dan juga karakter tokoh yang ditampilkan.

Sejak 2018 lalu, Wayang Thengul telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia, oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia,

"Meski diakui di kabupaten tetangga (Bojonegoro), sebagai generasi muda tentu kita patut ikut melestarikannya, dengan harapan wayang selalu dikenal oleh masyarakat luas," tutur Hanif Masadini. (teg/imm)

Reporter: Priyo SPd

Editor: Imam Nurcahyo

Publisher: Imam Nurcahyo

Story ini telah dipublish di: https://beritabojonegoro.com