Ketahanan Pangan Dimulai dari Pekarangan: Universitas Djuanda Berdayakan KWT

Fakultas Ilmu pangan Halal merupakan fakultas yang memiliki dua jurusan yaitu teknologi pangan dan gizi dan teknologi industri pertanian, yang berada di universitas djuanda bogor
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari beritafiphal unida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap pangan sehat di tengah keterbatasan lahan pertanian mendorong budidaya sayuran hidroponik menjadi salah satu solusi yang semakin relevan. Sistem budidaya tanpa tanah ini tidak hanya menghasilkan sayuran yang lebih bersih dan efisien dalam penggunaan air, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Di tengah tantangan ketahanan pangan nasional, pemanfaatan pekarangan melalui hidroponik menjadi langkah nyata yang dapat dimulai dari lingkungan keluarga.
Berangkat dari kondisi tersebut, Program Studi Agribisnis Universitas Djuanda melaksanakan sosialisasi Program Pelatihan Produksi dan Manajemen Usaha Sayuran Hidroponik kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) Embun Pagi. Kegiatan ini menjadi tahapan awal program pemberdayaan masyarakat yang bertujuan meningkatkan kapasitas anggota kelompok dalam mengembangkan usaha hidroponik yang produktif, berkelanjutan, dan bernilai ekonomi.
Program ini merupakan bagian dari Hibah Pengabdian kepada Masyarakat yang didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun 2026. Fokus kegiatan adalah pemberdayaan ekonomi perempuan melalui budidaya sayuran hidroponik dan penguatan manajemen usaha sehingga kelompok tidak hanya mampu memproduksi, tetapi juga mengembangkan usaha yang berdaya saing.
Ketua Tim Pengabdian, Syaima Lailatul Mubarokah, S.P., M.Si., mengatakan bahwa keberhasilan usaha hidroponik tidak cukup hanya menghasilkan panen yang baik. Menurutnya, kelompok tani juga perlu memiliki kemampuan menyusun perencanaan usaha, melakukan pencatatan keuangan, menghitung biaya produksi, menentukan harga jual, hingga menyusun strategi pemasaran agar usaha dapat tumbuh secara berkelanjutan.
“Kami ingin masyarakat tidak berhenti pada tahap budidaya. Melalui pendampingan ini, anggota KWT diharapkan mampu mengelola usaha hidroponik secara profesional sehingga benar-benar dapat meningkatkan pendapatan keluarga sekaligus menyediakan pangan sehat bagi masyarakat,” ujarnya.
Selain penyampaian materi, kegiatan diisi dengan diskusi interaktif untuk mengidentifikasi potensi dan tantangan yang dihadapi KWT Embun Pagi. Hasil identifikasi tersebut akan menjadi dasar penyusunan materi pelatihan, praktik budidaya, pendampingan usaha, hingga strategi pemasaran pada tahapan berikutnya.
Universitas Djuanda berharap program ini dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat berbasis agribisnis yang mampu memperkuat ketahanan pangan dari tingkat rumah tangga. Dengan kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat, budidaya hidroponik diharapkan berkembang menjadi usaha yang memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus meningkatkan ketersediaan pangan sehat di tingkat lokal.
