Transformasi Singkong & Ubi: Komoditas Murah Jadi Keripik Inovatif Bernilai Jual

Fakultas Ilmu pangan Halal merupakan fakultas yang memiliki dua jurusan yaitu teknologi pangan dan gizi dan teknologi industri pertanian, yang berada di universitas djuanda bogor
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari beritafiphal unida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cijeruk, Bogor – Desa Palasari adalah desa yang terletak di perbukitan Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Desa Palasari, yang selama ini dikenal dengan hasil panen singkong dan ubi jalar putih melimpah, perlahan mulai bertransformasi. Bukan lagi sekadar pemasok bahan mentah ke tengkulak, warga kini belajar mengolah hasil bumi mereka menjadi produk yang lebih bernilai menjadi keripik singkong dan keripik ubi jalar dengan cita rasa kekinian.
Kegiatan pengabdian ini merupakan implementasi Program Pengabdian kepada Masyarakat yang dicanangkan oleh pemerintah RI melalui Kemdiktisaintek. Kegiatan ini dilakukan oleh Tim Dosen dan Mahasiswa Universitas Djuanda (UNIDA) bersama Dosen Jakarta Global University (JGU). Pengabdian diketuai oleh Ibu Wilna Iznilillah, S.TP., M.TP., dengan anggota tim terdiri dari beberapa dosen, yaitu Ishmah Hanifah, S.TP., M.Si., mahasiswa UNIDA Putri Nursalsabila dan Herry Muhammad Zikrillah, serta dosen JGU Mohamad Zaenudin, S.Pd., M.Sc.Eng
Selama bertahun-tahun, petani di Palasari hanya mampu menjual singkong dengan harga sekitar Rp1.000 per kilogram, membuat mereka nyaris tanpa daya tawar. Kini, situasi mulai berubah. Hadirnya kolaborasi antara Tim Dosen dan Mahasiswa Universitas Djuanda (UNIDA) bersama Dosen Jakarta Global University (JGU) dalam Program Pengabdian kepada Masyarakat yang bekerja sama dengan Kelompok Peternak Mandiri (KPM) membawa semangat baru. Melalui program ini, hasil panen sederhana diolah menjadi produk bernilai tambah yang mampu bersaing di pasaran.
Dari Sosialisasi Hingga Praktik Langsung
Program ini tak sekadar memberikan teori pengolahan keripik. Warga diajak belajar langsung dari nol: mulai dari memilih bahan baku yang segar, mengiris dengan ketebalan seragam, hingga menggoreng dengan suhu tepat agar renyah sempurna. Pendampingan pun berlangsung interaktif, setiap kesalahan langsung dikoreksi, sehingga peserta cepat menguasai teknik yang benar.
“Kalau dulu kami hanya tahu tanam dan jual mentah, sekarang bisa bikin keripik dengan rasa yang macam-macam” ujar ketua mitra kelompok Arip Hidayatullah dengan wajah sumringah.
Varian rasa yang diajarkan pun beragam, mulai dari original, balado, barbeque, sapi panggang, hingga cokelat. Tak hanya enak, produk keripik ini juga higienis, dikemas menarik, dan punya peluang untuk menembus pasar yang lebih luas.
Dampak Nyata di Masyarakat
Hasilnya, warga Desa Palasari kini memiliki keterampilan baru yang langsung bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka tidak lagi sepenuhnya bergantung pada tengkulak untuk menjual hasil panen. Lebih dari itu, program ini mendorong transformasi kelompok tani menuju agroindustri skala kecil. Dari yang semula hanya berfokus pada peternakan dan budidaya, Kelompok Peternak Mandiri kini mulai merambah ke bidang pengolahan pangan dengan menghadirkan inovasi keripik singkong dan ubi yang memiliki peluang besar di pasar.
Menuju Pasar Digital dan Nasional
Keberlanjutan program tak berhenti di pelatihan. Warga mendapat dukungan dalam hal legalitas, manajemen usaha dan pemasaran digital, Harapannya, dalam beberapa tahun ke depan, keripik singkong dan ubi jalar Palasari tak hanya dikenal di Bogor, tetapi juga mampu bersaing di tingkat regional bahkan nasional.
“Program ini membuktikan bahwa potensi lokal, kalau diolah dengan benar, bisa menjadi sumber ekonomi berkelanjutan. Singkong dan ubi bukan lagi sekadar pangan desa, tapi bisa jadi identitas kuliner daerah yang membanggakan,” jelas ketua pendamping program Ibu Wilna Iznilillah, S.TP., M.TP
Singkong dan Ubi: Simbol Kemandirian
Kisah dari Palasari menjadi bukti nyata bahwa pemberdayaan masyarakat berbasis pangan lokal benar-benar bisa diwujudkan. Melalui kolaborasi dosen dan mahasiswa Universitas Djuanda bersama dosen JGU dalam satu tim pengabdian, inovasi dan pendampingan dapat berjalan lebih maksimal. Bahan sederhana seperti singkong dan ubi jalar pun mampu disulap menjadi olahan bernilai tambah tinggi. Lebih dari sekadar makanan, produk ini menghadirkan peluang usaha baru yang membuka jalan bagi kemandirian dan pertumbuhan ekonomi warga desa Palasari
Kini, setiap keping keripik yang renyah bukan hanya camilan, tetapi juga simbol perjuangan warga desa untuk mandiri secara ekonomi. Palasari mengajarkan kita, bahwa dari ladang sederhana pun bisa lahir cerita besar tentang kemandirian dan harapan.
