Perjalanan Hidup Budi, Penari Korban Mutilasi

Kediri (beritajatim.com) — Korban pembunuhan dan mutilasi, Budi Hartanto, lahir dari sebuah keluarga kecil yang sederhana. Darmaji, ayahnya, seorang karyawan pabrik susu sapi. Sedangkan Haminah, ibunya, menjadi asisten rumah tangga.
Dituturkan oleh Nur Khamid, tetangga korban, sewaktu Budi masih kecil ibunya bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di rumahnya sekitar tahun 2000-an. Rumah Nur Khamid sendiri terletak di Kelurahan Tamanan, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri.
“Saya cukup mengenal keluarga Budi. Karena dulu, ibunya jadi asisten rumah tangga di rumah kami selama kurang lebih 5 tahun. Mereka keluarga yang sederhana dan baik,” kata Nur Khamid, Senin (8/4).
Budi kecil tergolong anak yang pendiam. Yang diingat oleh Nur Khamid, saat pagi korban kerap ikut ibunya berangkat kerja. Terkadang, ia juga memberi uang saku sekolah. Lalu, sore harinya, Budi kembali datang untuk menjemput ibunya pulang kerja.
“Kadang saya memberi uang saku sekolah. Kira-kira itu, ya Rp 100-200 rupiah. Anaknya baik, sering bermain dengan anak saya karena usianya sebaya,” kata Nur Khamid yang kini menjadi Kabid Trantibum Satpol PP Kota Kediri.
Budi bergaul dengan anak-anak kecil pada umum. Selain pendiam, sulung dari tiga bersaudara ini juga tertutup. Tidak banyak bercerita dengan teman-temannya.
“Kalau pas di rumah, Budi masih dengan anak saya yang pertama Mohammad Agung Nurgoho. Oleh karenanya, bagi keluarga kami cukup dekat dengan korban,” ucap pendiri Yayasan Pendidikan Luar Biasa dan Luar Sekolah Bhakti Pemuda Tamanan ini.
Menginjak usia remaja, Budi berubah menjadi seorang pekerja keras. Pemuda lulusan Universitas Terbuka (UT) Malang ini bekerja sebagai pegawai honorer di SDN Banjarmelati 2 Kota Kediri.
“Budi sudah menjadi tenaga honorer di SD ini 10 tahunan,” ungkap Endang, Kepala SDN Banjarmlati 2 Kota Kediri.
Di SDN Banjarmlati 2 Kota Kediri, Budi dipercaya untuk memegang tugas sebagai operator dapodik atau data pokok pendidikan. Terkadang ia juga memberikan materi pelajaran kepada siswa. Budi dikenal mudah bergaul, humoris dan banyak dicintai oleh murid-muridnya.
Di luar aktivitas di sekolah, Budi memiliki kesibukan lain. Dia menjadi seorang dancer dan guru tari modern serta tradisional. Bersama temannya, Budi mendirikan sebuah sanggar tari bernama CK Dancer Kediri.
Dia menyewa dua bangunan ruko di seputaran pintu masuk GOR Jayabaya, Kota Kediri. Satu blok dipakai untuk sanggar tari. Blok lainnya untuk tempat usaha kafe.
Les tari diberikan Budi pada sore hingga malam hari di sanggarnya, sembari menjaga kafe miliknya. Murid-muridnya dari kalangan pelajar SD hingga SMA. Selain itu, dia kerap mendapatkan tawaran untuk menari di beberapa event yang digelar oleh instansi swasta dan negeri serta memberikan les privat menari.
Banyaknya tawaran pekerjaan ini membuat Budi sangat sibuk. Bahkan, Darmaji, ayahnya menyebut sang anak hanya mengenal kerjaan. “Anaknya itu pekerja keras. Dia hanya kerja dan kerja. Tidak seperti kebanyakan anak yang suka nongkrong,” ucap Darmaji.
Jerih payah Budi dalam membanting tulang sangat dihargai oleh kedua orang tuanya. Mereka menyebut Budi sebagai tulang punggung. Budi membantu ekonomi keluarga dan biaya pendidikan kedua adiknya.
Saat remaja, Budi terbilang sukses. Budi mampu membeli sebuah mobil dan sepeda motor serta peralatan elektronik lain seperti ponsel dan laptop. Bahkan, menurut Darmaji, putra pertamanya tersebut memiliki tabungan deposito sebesar Rp 67 juta yang kini raib bersama satu unit sepeda motor Honda Scoopy.
Ketrampilan Budi di bidang seni tari memang sudah tidak diragukan lagi. Di etalase rumahnya berjajar piala penghargaan yang pernah diraihnya. Banyak ajang perlombaan yang dimenangi. Bahkan, terakhir sebelum dimutilasi, grupnya CK Dancer Kediri menjuarai lomba jingle dance yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Kediri, 24 April 2019 lalu.
Menjadi penari pria, Budi memang dikenal oleh kalangan teman-temannya sebagai sosok yang gemulai. Kendati demikian, Budi pernah mengutarakan hasratnya untuk membina sebuah rumah tangga. Budi ingin menikah dengan seorang gadis. Keinginan tersebut disampaikan kepada teman-teman guru di sekolahnya.
Tetapi akhir kehidupan Budi Hartanto amat tragis. Pria 28 tahun itu menjadi korban pembunuhan disertai mutilasi. Pembunuhan diperkirakan terjadi seusai Budi mengikuti latihan dance bersama teman-temannya di sanggar, pada Selasa (2/4) malam. Budi pamit keluar, pada pukul 22.00 WIB dan tidak kembali.
Keesokan paginya, mayat Budi ditemukan oleh seorang pencari rumput di bawah jembatan Desa Karanggondang, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar. Jenazah korban sangat mengenaskan, karena berada di sebuah koper tanpa busana dan tanpa kepala.
Kini pihak kepolisian sedang bekerja ekstra untuk mengungkap kasus pembunuhan sadis terhadap guru tari itu. Sedikitnya, sudah ada 16 orang saksi yang dimintai keterangan oleh penyidik di Polres Kediri Kota dan Polres Blitar Kota.
Dalam penanganan kasus ini, diambil alih oleh Polda Jawa Timur. Sebab, lokasi penemuan jenazah berada di wilayah Polres Blitar Kota. Sedangkan alamat korban di wilayah Polres Kediri Kota. Pengambil alihan kasus hukum Budi dilakukan untuk mempermudah koordinasi penanganan perkara.
Sebelumnya, Polda Jatim menyebut sedang mengejar dua orang terduga pelaku. Kepolisian menduga, motif pembunuhan mutilasi terhadap Budi karena adanya latar belakang asmara sesama jenis. Disisi lain, petugas yang di lapangan masih terus mencari bagian kepala korban yang belum ditemukan hingga hari kelima paska penemuan jenazah. [nng/ted]
