Konten Media Partner

Saat Formasi Tiga Bek Menantang 4-2-3-1

beritajatimcomverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Saat Formasi Tiga Bek Menantang 4-2-3-1
zoom-in-whitePerbesar

Piala Dunia 2018 masih menempatkan formasi 4-2-3-1 sebagai formasi yang paling banyak dipakai tim-tim kontestan. Tercatat sejak fase penyisihan grup hingga final, formasi ini dipakai 58 kali oleh 22 tim. Formasi favorit berikutnya adalah 4-4-2 yang diterapkan 18 kali oleh 10 tim. Formasi yang identik dengan sepak bola menyerang, 4-3-3, diterapkan 14 kali oleh sembilan tim.

Dua finalis, Prancis dan Kroasia, tercatat sebagai tim yang konsisten menggunakan formasi ini. Selama tujuh pertandingan, Kroasia tak pernah berubah dari pakem 4-2-3-1. Sementara Prancis hanya sekali mengubah formasi menjadi 4-3-3 saat fase penyisihan grup menghadapi Australia.

Swedia tercatat sebagai tim yang paling setia menganut 4-4-2. Sejak fase grup, 16 Besar, dan perempat final, pelatih Janne Andersson tak berminat menggeser formasi tersebut untuk beradaptasi dengan gaya permainan dan kualitas lawan.

Formasi 4-3-3 paling banyak digunakan oleh Spanyol. Selama fase grup, anak asuh Fernando Hierro ini setia dengan formasi tersebut. Mereka berpindah ke formasi 4-2-3-1 saat fase 16 Besar menghadapi tuan rumah Rusia.

Mengapa formasi 4-2-3-1 sangat disukai? Formasi ini menyediakan keseimbangan dalam menyerang dan bertahan. Ada empat pemain bertahan yang dibantu dua gelandang bertahan, dan penyerang tunggal dibantu tiga gelandang serang. Formasi ini varian dari formasi dasar 4-4-2, dan digunakan intensif oleh Arrigo Sacchi saat melatih AC Milan dan pelatih tim nasional Brasil Mario Zagalo.

Selain itu, formasi ini menyediakan empat lapis zona dibandingkan formasi klasik seperti 4-4-2 atau 4-3-3 yang hanya tiga lapis. Ini membuat posisi antarpemain lebih rapat dan memungkinkan aliran bola lebih kompak, termasuk transisi dalam menyerang dan bertahan.

Dalam formasi ini, dua gelandang melindungi empat bek sekaligus mendikte permainan dari kedalaman melalui operan-operan pendek maupun panjang. Posisi dua gelandang membuat bek tidak khawatir untuk naik lebih tinggi dan membangun serangan. Salah satu dari dua gelandang ini sering disebut berperan seperti quarterback dalam permainan American Football. Tak ada lagi istilah 'asal sapu bersih', karena dari pertahanan, serangan justru dibangun.

Pemain Italia Andrea Pirlo adalah contoh sempurna tentang seorang yang mengatur bola dari kedalaman. Awalnya dia adalah seorang gelandang serang. Namun pelatih Brescia Carlo Mazzone menarik posisinya lebih ke dalam, karena Pirlo memiliki kelemahan pada aspek kecepatan dan jenius dalam urusan membaca permainan. Kelak, Pirlo menjadi nyawa bagi klub-klub yang dibelanya seperti Juventus, AC Milan, dan tim nasional Italia.

Prancis dalam Piala Dunia 2018 meletakkan tugas suci dua gelandang di depan pemain bertahan dan di belakang gelandang serang pada N'Golo Kante dan Pogba. Mereka masing-masing punya tugas: merusak permainan lawan, dan sekaligus menyuplai bola ke para gelandang serang. Selain itu mereka bagian dari blok defensif yang diciptakan pelatih Didier Deschamps yang bikin pemain lawan geregatan.

Formasi 4-2-3-1 disukai karena memberikan sejumlah opsi serangan yang tak hanya mengandalkan ujung tombak. Para gelandang yang beroperasi di belakang striker juga berpeluang menciptakan gol. Apalagi dalam 4-2-3-1, para pemain sayap memiliki kebebasan lebih untuk bergerak dibandingkan formasi 4-4-2. Dengan banyaknya jumlah pemain di bagian gelandang, tim bisa mendikte permainan, terutama menghadapi tim yang memakai formasi tiga gelandang.

Didier Deschamps sangat familiar dengan formasi ini, karena Prancis di bawah asuhan Aime Jacquet menggunakannya untuk meraih Piala Dunia 1998. Bahkan patut diduga Deschamps mengadaptasi taktik Jacquet, terutama saat memfungsikan Olivier Giroud yang menjadi bahan tertawaan karena menjadi ujung tombak yang sama sekali tidak mencetak gol maupun melepas tembakan akurat. Orang mengatakan mungkin ini penyerang terburuk di Piala Dunia 2018.

Jika Barcelona dan Jerman pada 2014 memiliki istilah 'false nine' yang mengubah formasi 4-2-3-1 menjadi 4-6-0, Giroud dicemooh sebagai 'false striker'. Ujung tombak palsu. Namun, sejatinya Giroud tak sendiri. Aime Jacquet pernah memainkan Stephane Guivarc'h sebagaimana Giroud sekarang. Dia merebut dan menahan bola untuk memberikan kesempatan kepada gelandang kreatif seperti Zinedine Zidane memainkan peran: menciptakan serangan. Guivarc'h sebagaimana Giroud dibutuhkan karena 'work rate' mereka. Deschamps sendiri saat itu adalah bagian dari tiga gelandang yang memiliki peran defensif, selain Emmanuel Petit dan Christian Karembeu. Jadi tentu dia paham betul bagaimana Guivarc'h diperankan.

Apalagi secara keseluruhan Deschamps berhasil membuat tim ini sama ofensifnya dengan Prancis 1998. Tim nasional Prancis hari ini berhasil mengemas 14 gol sejak fase grup hingga babak final di Rusia. Terpaut satu gol lebih sedikit dengan Zinedine Zidane dan kawan-kawan.

Namun di tengah masih populernya formasi 4-2-3-1, formasi tiga bek menggedor kembali. Belgia dan Inggris yang menempati posisi empat besar menggunakannya. Roberto Martinez, pelatih Belgia yang pernah melatih Wigan dan Everton di Liga Inggris, saat fase grup dan 16 Besar menggunakan 3-4-2-1. Sementara pada perempat final dan perebutan tempat ketiga menggunakan 3-4-3, dan 3-5-2 pada semifinal.

3-4-2-1 adalah varian dari 3-4-3. Formasi tiga bek dalam 3-4-3, menurut pelatih legendaris Belanda Rinus Michels, adalah formasi yang dipilih Johan Cruyff saat menangani Ajax Amsterdam. Michels memilih formasi 4-3-3 sebagai formasi dasar Total Football. Namun setelah dia pergi dan tampuk kepelatihan dipegang Cruyff, perubahan tecipta. Jumlah pemain bertahan dikurangi untuk memberikan kesempatan kepada gelandang serang yang lebih ofensif.

Michels menilai taktik Cruyff berisiko. Taktik ini membutuhkan kohesivitas tinggi dan pemain-pemain yang memiliki intelejensi dan teknik tinggi. "Sulit untuk tim lain menirunya," kata Michels. Taktik 3-4-3 ini belakangan dimodifikasi dan dikembangkan pelatih Belanda lainnya, Louis van Gaal.

Martinez mengambil risiko itu, karena memang memiliki sederet pemain jenius seperti Eden Hazard dan Kevin de Bruyne. Formasi 3-4-2-1 justru bagian dari ikhtiar untuk menambal kelemahan dua posisi full back sekaligus mengeksploitasi kekuatan tiga bek tengah yang dikomandani Vincent Kompany. De Bruyne jika tidak diletakkan di belakang Romelu Lukaku bersama Hazard, ditempatkan di tengah sebagai bagian double pivot bersama Axel Witsel untuk menghubungkan alur serangan dari belakang.sekaligus maju membantu lini depan.

Lukaku bertindak sebagai ujung tombak tunggal yang dibantu Hazard dan Dries Martens, De Bruyne, atau bahkan Marouane Fellaini di belakangnya. Martinez bersyukur, karena memiliku skuat generasi emas yang membuatnya mudah beradaptasi dan memperbaiki serangan saat tertinggal, sebagaimana dilakukannya saat menghadapi Jepang di babak 16 Besar.

Sementara itu, formasi tiga bek juga menjadi pilihan pelatih Inggris Gareth Southgate. Namun ia memilih formasi baku 3-5-2 dan variannya 3-1-4-2. Formasi 3-5-2 mencapai kejayaan saat Franz Beckenbauer melatih tim nasional Jerman. Dengan lima gelandang, tim dengan formasi ini diharapkan bisa memenangkan pertarungan di lapangan tengah sekaligus menekan barisan pertahanan lawan lebih cepat.

Formasi ini juga memberikan peluang untuk menyerang dengan memanfaatkan lebar lapangan melalui dua bek sayap. Sementara itu tiga bek sentral tetap pada posisi mereka, di mana dua di antaranya menjaga pemain depan lawan. Satu pemain lagi berdiri bebas.

Inggris memang lebih dikenal dengan formasi klasik 4-4-2. Namun formasi 3-5-2 bukannya tak punya jejak. Steve McClaren menggunakannya saat membawa tim nasional Inggris dalam Piala Eropa 2008. Sepuluh tahun sebelumnya, dalam Piala Dunia di Prancis, Glenn Hoddle membakukan formasi 3-5-2. Pemain andalannya yang berposisi sweeper adalah Gareth Southgate yang melatih Inggris dua dekade kemudian di Rusia.

embed from external kumparan

Di bawah Hoddle, Inggris tak lagi memainkan gaya lama: bola-bola panjang langsung ke dua ujung tombak di depan. Mereka memilih membangun serangan dengan sabar dari belakang pada Piala Dunia 1998.Namun gara-gara menggunakan formasi ini, kaum konservatif kolot Inggris yang mendewakan 4-4-2 mengutuknya. Dalam memori selektif mereka, 4-4-2 adalah formasi yang paling tepat, karena Inggris menjuarai Piala Dunia dengan formasi ini. Alf Ramsey, pelatih masa itu, selalu disebut-sebut dengan berbusa-busa.

Salah satu yang membenci formasi 3-5-2 adalah Gary Neville, legenda Manchester United. Ia menilai formasi ini membuat tempo permainan terlalu lamban dan terlalu banyak operan ke belakang daripada langsung ke jantung pertahanan lawan.

Awalnya, Southgate memilih formasi 4-2-3-1. Namun belakangan ia mengubahnya menjadi 3-5-2. Tiga bek tengah adalah Maguire, Stones, dan Walker. Bek sayap kanan diisi oleh Trippier, sementara bek sayap kiri diisi Ashley Young atau Danny Rose. Mereka membantu serangan dan mengubah bentuk formasi menjadi 5-3-2 saat terkena serangan.

Di posisi gelandang sentral yang memiliki peran defensif, Southgate punya opsi Eric Dier atau Jordan Henderson. Dua gelandang serang adalah Dele Alli dan Jesse Lingard. Raheem Sterling ditempatkan agak di belakang Harry Kane di depan. Sayang, dua gelandang ofensif dan kreatif Liverpool, Adam Lallana dan Oxlade-Chamberlain tak bisa ikut serta karena cedera.

Sejarah menunjukkan sekali lagi, juara Piala Dunia 2018 diraih oleh tim yang memainkan formasi 4-2-3-1, sebagaimana yang terjadi pada 2014. Namun masuknya dua tim yang menganut formasi tiga bek dalam empat besar menunjukkan bagaimana prospek formasi ini masih menyala terang. [wir]