kumparan
6 November 2019 9:21

Whisnu Sakti: Surabaya Jadi Kota Bola, Kenapa Tidak?

030.jpg
Surabaya (beritajatim.com) – Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana menilai, masuknya Gelora Bung Tomo (GBT) di Kota Surabaya sebagai 1 dari 10 stadion yang diajukan ke FIFA sebagai venue tuan rumah Piala Dunia U-20 di tahun 2021 dipandang sebagai momen spesial.
ADVERTISEMENT
Terlebih lagi untuk memberikan warna baru sebagai Kota Pahlawan, Surabaya juga menjadi Kota Bola. Surabaya memiliki sejarah perjuangan yang tentunya menjadi karakter semangat Pahlawan dalam berbagai cabang olahraga termasuk sepak bola.
“Kalau kita melihat Rio de Jeneiro misalnya, usai menjadi tuan rumah Piala Dunia lalu, mereka langsung dikenal sebagai Kota Bola. Begitu juga dengan Afrika Selatan. Nah, harusnya Kota Surabaya juga bisa seperti itu. Tidaka sekadar mengejar event semata. Tidak begitu selesai menggelar Piala Dunia lalu sudah begitu saja dan ditinggalkan,” kata Whisnu Sakti Buana, Selasa (5/11/2019).
Sedianya dengan momen spesial piala dunia U-20, pria yang akrab disapa WS ini menganggap perlu adanya beberapa pembangunan berkesinambungan dan terencana dalam rangka menyambut event Piala Dunia U-20 itu.
ADVERTISEMENT
Salah satunya adalah dengan membangun kampung-kampung bola yang ada di Surabaya harus didesain berkarakter dan bernuansa bola. Ini kesempatan menjadikan ‘legacy’ sebagai kota Bola.
Karena di Surabaya juga banyak titik-titik wilayah yang bersejarah terkait dengan sepak bola. Ada lapangan Karanggayam di Kecamatan Tambaksari misalnya, yang melahirkan banyak pemain skala nasional, itu penting pula untuk ditonjolkan.
“Bukan hanya pembenahan stadion saja. Lingkungan di sekitar stadion itu juga perlu kita bangun. Misalkan aksesnya, lalu kampung-kampung yang ada di Surabaya juga harus dibangun agar lebih melekatkan semangat Surabaya adalah Kota Bola,” beber Whisnu Sakti.
“Anggaran yang sudah diajukan saat ini pun menurut saya juga perlu ditambah. Karena misalnya saja daerah sekitarnya itu kan agak kurang elok kalau masih tambak begitu. Diuruk saja sekalian, dibebaskan lahannya lalu dibangun lapangan sepak bola madya untuk latihan misalnya. Jadi ini pola pikirnya bukan hanya GBT sebagai venue Piala Dunia, tapi Surabaya sebagai Kota Bola menjadi tuan rumah Piala Dunia,” tambah pria yang siap melanjutkan pemerintahan Wali Kota Risma ini.
ADVERTISEMENT
Komunikasi dengan pihak DPRD, Menurut Whisnu Sakti akan segera Ia lakukan. “Ada banyak ide-ide besar yang harus bisa ditangkap Oleh pihak DPRD dan harus segera diakomodir. Kalau bisa bahkan target pengesahan APBD 10 Trilliun ini diundur, jangan 10 November,” tegasnya.
“Semua ruang untuk memaksimalkan gagasan sebagai Surabaya Kota Bola demi warisan di masa depan ini harus dioptimalkan. Jangan sampai momen spesial ini sia-sia. Jangan terburu-buru lah nutuk DPRD ini juga. Jangan sampai muncul pikiran jika pengesahan APBD 10 Trilliun ini terkesan terburu-buru juga,” pungkas politisi senior PDIP ini. [ifw/suf]
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab publisher. Laporkan tulisan