Konten dari Pengguna

Ruang yang Hampa Akan Doa: Hilangnya Peran Remaja dalam Memakmurkan Masjid

Berlian Ismaylova

Berlian Ismaylova

Mahasiswa Univesitas Jember

·waktu baca 6 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Berlian Ismaylova tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saya teringat dengan episode nan adiwarna itu dimana seorang bocah tengah menikmati masa kekanak-kanakannya yang seolah tanpa beban pikiran, menghidupi tiap sudut perumahan, pematang sawah, lorong pinggir jalan, hingga rel kereta api bersama kawan-kawannya. Gemerlap kesenangan dan gelak tawa kian mewarnai wajah mereka hingga waktu fajar tiba menyapa.

Azan ashar berkumandang dari seorang muazin muda, diikuti cahaya sang mentari yang mulai jingga menandai garis finish dari petualangan yang belum sepenuhnya berakhir. Terciptalah satu episode baru yang kelak menjadi memoar bagi masing-masing dari mereka. Waktu menunjukkan pukul 15:30, saatnya bagi mereka untuk pergi menuju langgar yang tak jauh dari tempat mereka tinggal.

Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi pribadi

Jauh setelahmya, saat saya duduk di bangku SMA kelas XI tahun 2023, ada satu hal yang terbesit di benak saya. Saya merasakan ada sesuatu yang berbeda, seakan hilang ditelan oleh waktu. Sepulangnya dari sekolah, selawat tarhim mulai berkumandang dari surau hingga masjid-masjid di Kalisat, mengiringi langkah kaki saya menuju rumah.

Setibanya di rumah, bertepatan dengan berakhirnya tarhim, suasana seketika hening. Bukan semesta yang tak mau bersuara, tetapi masjid di dekat rumah saya yang tak kunjung mengumandangkan azan. Saya dan warga di linkungan sekitar bertanya-tanya, kemanakah muazin yang biasanya mengumandangkan azan di masjid itu?

Waktu terus berjalan, azan tak kunjung di kumandangkan. Selang 15 menit, akhirnya terdengar lantunan dari bapak-bapak dengan suara seraknya. Beliau mengumandangkan azan ashar dengan tempo yang cepat karena mengejar waktu.

Setelah saya perhatikan selama beberapa minggu kedepan, rupanya bapak itu sangat sering mengumandangkan azan di masjid. Tak sampai disitu, beliau juga mengemban tugas di masjid sebagai imam sholat fardhu. Dari situlah timbul rasa iba bagi saya, karena masjid tersebut sudah kekurangan peran anak muda seusai wabah pandemi Covid-19 melanda Indonesia.

Di zaman sekarang, problematika ini perlu ditelaah secara komperhensif, karena dari peristiwa tersebut menimbulkan sebuah tanda tanya besar bagi semua orang, kemanakah anak-anak muda yang dahulu bermain di masjid? Selain itu, dibutuhkan rasa sukarela dan konsisten dalam melaksanakannya karena dampak yang ditimbulkan tidak hanya dirasakan bagi pribadi, tetapi juga masyarakat di sekitar.

Padahal, bila kita menoleh ke zaman saat duduk di bangku SD, kita sudah diajarkan mengenai perilaku sebagai manusia pancasila dalam mengimplementasikan seluruh nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, salah satunya adalah nilai ketuhanan. Nilai yang tidak hanya membentuk kita sebagai manusia dengan sikap toleransi agamanya, tetapi juga bagaimana kita bisa menjadi umat yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Desain oleh: https://www.napkin.ai

Namun, sekedar mengetahui nilai-nilainya saja belum cukup. Bila menggunakan kacamata penelitian, kita dapat menganalisa dan menyimpulkan mengenai apa yang membentuk kebiasaan anak muda dalam satu lingkup regional.

Berdasarkan penelitian dalam Jurnal Ilmiah Kajian Politik dan Lokal Pembangunan yang bertajuk "Perbedaan Gaya Komunikasi Antar Generasi: Tinjauan Teoritis Tentang Interaksi Gen Z dan Baby Boomers dalam Konteks Sosial dan Pembangunan" pada tahun 2025, perbedaan komunikasi antara gen z yang cenderung mengutamakan fleksibelitas seperti penggunaan gawai dan media sosial dalam berkomunikasi, dengan generasi boomer yang lebih menghargai komunikasi tatap muka dapat menimbulkan tantangan. Dampaknya, muncul lingkungan sosial yang tidak berjalan efektif karena kebiasaan komunikasi dari kedua generasi tersebut saling bertentangan.

Minat antara generasi muda dengan generasi terdahulu juga dapat dilihat dari perspektif penelitian diatas. Kebiasaan komunikasi dapat membentuk kepribadian seseorang, seperti gen z dengan kebiasaan bermedia sosialnya berpotensi menjerumuskan mereka hingga enggan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya seperti pergi ke masjid.

Keterbatasan interaksi inilah yang menyebabkan terhambatnya komunikasi antara anak muda dengan orang dewasa. Hal tersebut dapat dicirikan dengan rasa canggung, segan, dan malu ketika mereka berkomunikasi dengan orang dewasa bahkan dengan mereka yang seumuran.

Maka tak heran bila sebagian besar anggota takmir masjid atau mereka yang sekedar pergi ke masjid untuk memakmurkan tempat ibadahnya cenderung diisi oleh generasi terdahulu. Hal inilah yang saya renungkan hingga menggerakkan hati saya dalam menjaga kemakmuran masjid dengan sholat berjamaah dan turut mengumandangkan azan.

Dilansir dari channel YouTube Ummu Haniya, Senin (28/10/2024), masjid adalah tempat yang paling baik di muka bumi. Masjid adalah rumah Allah SWT, tempat yang sangat mulia dan sangat utama untuk kegiatan ibadah umat islam seperti sholat, berzikir, berselawat, dan majelis ta'lim.

"Berbahagialah kalau ada diantara kita yang diberikan oleh Allah kekuatan dalam hatinya untuk mau memakmurkan masjid dengan semua jenis kegiatan yang mampu di lakukan, maka anda sedang masuk dalam kalangan elit di dalamnya," ungkap Ustaz Adi Hidayat dalam sebuah kajian.

Allah berfirman sebagaimana dalam surat At-Taubah ayat 18 mengenai kriteria orang yang berhak dalam memakmurkan masjid,

اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ

Artinya: "Sesungguhnya yang (pantas) memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapapun) selain Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk."

(QS. At-Taubah [9]:18)

Desain oleh: https://www.napkin.ai

Kita juga bisa merujuk pada hadis-hadis berikut mengenai keutamaan dan kewajiban umat muslim dalam memakmurkan masjid,

“Dan tidaklah suatu kaum berkumpul dalam satu dari beberapa masjid rumah turunnya rahmat Allah, seraya membaca dan bertadarus kitab-Nya di antara mereka, kecuali turun kepada mereka ketenangan dan dipenuhi rahmat dan dikelilingi para malaikat, serta Allah menyebut mereka di antara orang yang dekat di sisiNya” (HR. Muslim).

Rasulullah SAW juga bersabda:

مَنْ أَسْرَجَ سِرَاجًا فِيْ مَسْجِدٍ لَمْ تَزَلِ الْمَلاَئِكَةُ وَحَمَلَةُ الْعَرْشِ يَسْتَغْفِرُوْنَ لَهُ مَا دَامَ فِيْ ذٰلِكَ الْمَسْجِدِ ضَوْءُهُ (رواه سالم الرازي عن أنس)

"Barang siapa menyalakan penerangan lampu dalam mesjid, niscaya para malaikat dan para pembawa arasy senantiasa memohon ampun kepada Allah agar diampuni dosanya selama lampu itu bercahaya dalam mesjid. (Riwayat Salim ar-Razi dari Anas r.a.)

Selain itu, dari Abdullah bin Aus, dari Buraidah bahwa Nabi SAW bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ بُرَيْدَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَشِّرْ الْمَشَّائِينَ فِي الظُّلَمِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

"Berilah kabar gembira bagi orang yang berjalan pada malam gelap gulita menuju masjid (untuk shalat berjamaah) bahwa bagi mereka cahaya yang sempurna di hari kiamat nanti." (HR. Abu Daud)

Oleh karena itu, memakmurkan masjid sudah menjadi tanggung jawab seluruh umat islam tanpa memandang batasan usia, khususnya anak-anak dan remaja. Dari uraian diatas, diharapkan dapat menjadi pengingat bagi diri saya sendiri maupun pembaca untuk turut andil menjaga kemakmuran masjid.