Kopi sebagai Nadi Kehidupan Warga Silo: Cerita dari Desa Pace

Mahasiswa Universitas Jember, Pendidikan Sejarah
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Berliana Cahya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Perkebunan kopi di Desa Pace, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember, bukan hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga fondasi kehidupan sosial masyarakat lokal. Bagi warga Silo, kopi sudah menjadi bagian dari keseharian, identitas, bahkan kebanggaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kopi mulai ditanam di kawasan ini sejak lama, memanfaatkan kondisi geografis Silo yang berada di dataran tinggi dengan tanah subur. Salah satu contoh nyata adalah kebun kopi milik Ibu Suyana di Desa Pace. Lahan seluas lima hektar yang awalnya ditanami jagung itu diubah menjadi kebun kopi robusta pada tahun 1999, dan sejak itu menjadi sumber nafkah utama keluarganya dan beberapa pekerja lokal.
Dalam setahun, kebun ini mampu menghasilkan sekitar tiga ton kopi. Hasil panen tersebut tidak hanya memberi pemasukan bagi pemilik, tetapi juga membuka kesempatan kerja bagi warga sekitar. Sistem kerja yang digunakan pun masih sangat tradisional mengandalkan gotong royong, saling bantu, dan hubungan kekeluargaan tanpa struktur yang kaku. Pekerja bekerja mulai pagi hingga siang, dan suasana kerja yang terbangun lebih mirip kegiatan komunitas daripada sekadar hubungan pemilik dan buruh.
Selain dampak ekonomi, perkebunan kopi memainkan peran besar dalam kehidupan sosial masyarakat. Musim tanam dan panen selalu menjadi momen kebersamaan yang mempererat hubungan antarwarga. Tradisi saling membantu membuat masyarakat tetap solid, dan keberadaan kopi menjadi simbol identitas desa yang terus dijaga. Bagi masyarakat Silo, kopi bukan hanya tanaman. Ia adalah sumber hidup, ruang interaksi sosial, dan warisan berharga yang menunjukkan siapa mereka.
