Ketika Waktu Jadi Barang Mewah bagi Mahasiswa yang Sambil Kerja

Mahasiswa Universitas Andalas dengan jurusan Ilmu Komunikasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Berllyandri Septiadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi kebanyakan orang, definisi barang mewah mungkin berwujud gadget keluaran terbaru atau liburan santai di akhir pekan. Namun, coba tanyakan hal yang sama kepada mereka yang hidupnya terbelah di dua dunia: bangku kuliah dan tempat kerja. Jawabannya sama sekali tidak bisa dibeli dengan uang. Bagi mahasiswa yang harus memeras otak merevisi kerangka teori proposal penelitian, lalu menukarnya dengan tuntutan di tempat mereka bekerja, barang paling mewah dan langka di dunia ini adalah waktu.
Riset global Life in Motion 2026 mengonfirmasi bahwa sekitar 34 persen orang di dunia merasa tidak pernah punya cukup waktu. Angka ini mungkin terdengar seperti statistik biasa kalau dibaca sambil lalu. Tapi coba resapi lagi: sepertiga populasi bumi hidup dengan napas tersengal-sengal karena rutinitas. Dan kalau kita bicara siapa yang berada di garda depan merasakan "kemiskinan waktu" ini, mahasiswa yang nyambi kerja jelas masuk dalam daftar teratas.
Saya sering melihat rutinitas mereka yang kadang bikin geleng-geleng kepala. Bangun pukul lima pagi, bersiap untuk pergi kuliah hingga sore hari, lalu meluncur ke tempat kerja dengan sisa energi yang ada hingga malam. Malam harinya? Bukannya istirahat, mereka baru bisa membuka laptop untuk mengerjakan tugas hingga larut malam. Besoknya, siklus penyiksaan itu diulang lagi. Saat ditanya kapan terakhir kali mereka punya waktu luang sungguhan, biasanya mereka hanya terdiam lalu tersenyum kecut.
Istilah time is the new currency (waktu adalah mata uang baru) terasa sangat akurat untuk menggambarkan realitas mereka. Waktu tiba-tiba menjadi jauh lebih berharga daripada uang karena sifatnya yang sangat langka. Uang yang habis bulan ini masih bisa dicari lagi bulan depan. Tetapi waktu yang sudah terlewat? Ia menguap begitu saja.
Situasi ini diperparah dengan gaya hidup modern yang nyaris tak bisa lepas dari layar. Rata-rata screen time manusia saat ini mencapai 7,2 jam sehari, bahkan melebihi waktu tidur normal. Ironisnya, bagi mahasiswa pekerja, waktu menatap layar sebanyak itu bukan dipakai untuk hiburan seperti maraton serial. Mereka menatap layar untuk membalas chat dari atasan, mengecek revisi di grup kelompok kampus, hingga mengunggah laporan melalui telepon pintar di sela-sela jam kerja.
Wajar jika pada akhirnya kelelahan mental mengintai. Dalam riset yang sama, pekerjaan disebut sebagai sumber stres nomor satu, dengan 28 persen orang mengakuinya sebagai penyebab utama tekanan hidup. Coba bayangkan kalau angka itu berlaku bagi mereka yang hanya bekerja, bagaimana dengan mereka yang harus membagi kewarasan dan energi untuk dua tanggung jawab besar sekaligus?
Namun, ada satu temuan menarik dari riset tersebut yang bisa menjadi pelajaran. Untuk merasa lebih baik, orang-orang ini sebenarnya tidak muluk-muluk meminta perubahan drastis. Alih-alih berhenti bekerja atau cuti kuliah, mereka lebih memilih langkah-langkah kecil yang realistis dan bertahap.
Misalnya, sekadar bisa tidur setengah jam lebih awal. Berani menolak tawaran satu jam kerja tambahan yang sebenarnya bisa dilewatkan. Atau langkah sesederhana mematikan notifikasi grup WhatsApp kampus setelah pukul 22.00. Kedengarannya sepele, bukan? Tetapi bagi mereka yang hidupnya sudah terlalu sesak, langkah kecil itu sering kali menjadi satu-satunya katup penyelamat yang paling masuk akal untuk dilakukan.
Para mahasiswa yang tangguh ini sudah cukup babak belur berjuang menghadapi kerasnya jadwal harian. Mereka tidak lagi butuh dijejali nasihat atau seminar soal manajemen waktu. Yang mereka butuhkan adalah ekosistem yang lebih memanusiakan mereka, entah itu fleksibilitas jadwal di kampus atau jam kerja yang lebih pengertian.
