Konten dari Pengguna

Kenali Komoditas Jagung dan Kedelai di Indonesia

Bernaldo Napitupulu

Bernaldo Napitupulu

Saya Bernaldo, biasa dipanggil Aldo, sekarang sedang menempuh pendidikan tingkat akhir di Politeknik Statistika STIS. Saya senang dengan dunia teknologi dan pemrograman.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Bernaldo Napitupulu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lahan Indonesia (Sumber: https://www.pexels.com/id-id/@tomfisk)
zoom-in-whitePerbesar
Lahan Indonesia (Sumber: https://www.pexels.com/id-id/@tomfisk)

Jakarta - Ketahanan pangan merupakan isu yang krusial di Indonesia. Ketersediaan pangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat merupakan hal yang sangat penting untuk menjaga stabilitas sosial. Seperti berita akhir-akhir ini mengenai permasalahan harga jagung di atas rata-rata yang menyulitkan para peternak unggas khususnya ayam petelur. Kita perlu mengenali komoditas pangan kita terkhususnya jagung dan kedelai di Indonesia.

Jagung dan kedelai termasuk ke dalam jenis palawija yang digunakan sebagai sumber makanan pokok bagi ternak, bahan baku industri dan sisa hijauannya dapat digunakan untuk menyuburkan tanah. Jagung dan kedelai merupakan komoditas strategis kedua dan ketiga setelah komoditas padi (Bappenas, 2014).

Selama ini, BPS secara rutin produktivitas jagung dan kedelai melalui Survei Ubinan. Hasil survei Ubinan 2020 menunjukkan bahwa 71,4% rumah tangga jagung membudidayakan tanamannya di lahan bukan sawah, sedangkan 60% rumah tangga kedelai membudidayakan tanamannya di lahan sawah, baik sawah irigasi maupun non-irigasi.

Jenis lahan pertanian mempengaruhi tinggi rendahnya produktivitas. Produktivitas jagung lebih tinggi apabila ditanam di lahan bukan sawah, sedangkan produktivitas kedelai lebih tinggi apabila ditanam di lahan sawah karena tanaman kedelai sangat rentan dengan kekeringan.

Secara nasional rata-rata produktivitas jagung 2020 adalah 54,74 ku/ha dengan rincian Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan dan Lampung memiliki produktivitas yang tinggi di atas 60 ku/ha dan yang paling rendah adalah Provinsi NTT.

Sementara pada kedelai, secara nasional rata-rata produktivitas kedelai 2020 adalah 15,69 ku/ha dengan rincian provinsi Sulawesi Barat memiliki produktivitas yang tinggi di atas 20 ku/ha, sebagian besar provinsi di Pulau Jawa memiliki rata-rata produktivitas 15,01 sampai 20,00 ku/ha dan yang cukup rendah di bawah 10 ku/ha adalah Provinsi Sumatera Utara, Kalimantan Barat, NTT, Papua Barat dan Papua.

Hasil Survei Ubinan 2020 BPS menunjukkan bahwa lebih dari 80% rumah tangga jagung dan menyatakan tidak terkena dampak perubahan iklim. Tanaman jagung dan kedelai yang tidak terkena dampak perubahan iklim memiliki produktivitas yang lebih tinggi dibandingkan yang terkena dampak.

Peran air juga sangat penting bagi kesuburan lahan dan pertumbuhan tanaman. Kondisi geografis Indonesia yang beragam membuat ketersediaan air untuk lahan pertanian di setiap wilayah Indonesia memiliki perbedaan. Hasil Survei Ubinan 2020 menunjukkan bahwa rumah tangga jagung dengan tingkat kecukupan air yang ‘cukup’ memiliki rata-rata produktivitas yang paling tinggi (58,34 ku/ha) dibandingkan dengan rumah tangga yang kecukupan airnya ‘kurang’ (50,05 ku/ha) dan ‘berlebih’ (55,47 ku/ha).

Sementara pada tanaman kedelai produktivitas tanaman kedelai dengan tingkat kecukupan air ‘cukup’ tidak jauh berbeda (16,20 ku/ha) dibanding dengan tingkat kecukupan airnya ‘kurang’ (14,70 ku/ha) dan ‘berlebih’ (16,53 ku/ha).

Sumber: Data BPS

Dari gambar perbandingan rata-rata produktivitas jagung dan kedelai di atas, menunjukkan bahwa Pulau Jawa cenderung memiliki rata-rata produktivitas yang lebih tinggi baik jagung maupun kedelai. Tetapi pada produktivitas jagung Pulau Sumatera sedikit lebih tinggi dibanding Pulau Jawa.

Tingginya produktivitas yang dihasilkan Pulau Jawa dapat disebabkan karena ketersediaan input produksi yang relatif lebih mudah diperoleh sehingga dapat lebih intensif dalam meningkatkan komoditas jagung dan kedelainya. Faktor iklim serta perbedaan tingkat kesuburan tanah juga memberi pengaruh terhadap variasi produktivitas antarpulau.

Bernaldo Napitupulu mahasiswa Politeknik Statistika STIS