Perayaan Kemerdekaan di Malioboro Yogyakarta
Tulisan dari Bernardus Agus Rukiyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada sesuatu yang berbeda ketika kemerdekaan tidak hanya dirayakan di lapangan upacara, melainkan dengan berjalan-jalan menyusuri Malioboro bertemu langsung dengan rakyat banyak.

Pada tanggal 17 Agustus 2026 seluruh masyarakat Yogyakarta padat memenuhi sepanjang jalan Malioboro sampai Titik Nol. Bahkan tampak orang-orang dari mancanegara dan dari berbagai daerah di Indonesia. Sejak pagi, kawasan yang biasanya menjadi ruang wisata dan perdagangan itu berubah menjadi panggung kebangsaan. Merah putih berkibar di berbagai sudut. Warga memenuhi jalan. Musik, kesenian, pakaian tradisional, Barongsai dan berbagai ekspresi kreativitas masyarakat dalam bentuk UMKM hadir dalam sebuah pawai yang melibatkan perwakilan dari seluruh kemantren di Kota Yogyakarta.
Saya merasakan kegembiraan rakyat dalam perayaan kebersamaan itu. Semakin lama melihat iring-iringan peserta, semakin terasa bahwa yang sedang berlangsung bukan sekadar pertunjukan. Ada sesuatu yang lebih mendalam: rakyat sedang memperlihatkan wajah Indonesia melalui cara mereka sendiri.
Kemerdekaan yang berjalan
Selama ini kita sering membayangkan kemerdekaan melalui gambar-gambar sejarah: pembacaan Proklamasi, pengibaran bendera, perjuangan para pahlawan, dan upacara kenegaraan. Semua itu penting. Namun, kemerdekaan juga mempunyai wajah yang jauh lebih sederhana: wajah anak-anak yang membawa bendera, orang tua yang berdiri di pinggir jalan, seniman yang mempertunjukkan kreativitasnya, pedagang yang tetap bekerja, komunitas yang mengenakan pakaian khas daerah, dan warga yang tertawa bersama.
Di Malioboro, perayaan kemerdekaan berjalan dan menari-nari dipenuhi warna-warni pakaian dan busana tradisional. Setiap rombongan pawai membawa identitasnya. Ada keberagaman budaya, kreativitas, kesenian, dan ekspresi masyarakat. Tetapi semuanya berjalan dalam satu ruang dan dalam satu suasana kebangsaan. Tidak ada yang harus kehilangan identitasnya untuk menjadi Indonesia. Justru dari keberagaman itulah Indonesia tampak.
Pemandangan tersebut mengingatkan saya bahwa persatuan tidak berarti menyeragamkan. Persatuan berarti mampu hidup bersama di tengah perbedaan.
Dari kemantren ke Malioboro
Pawai yang melibatkan seluruh kemantren di Kota Yogyakarta mempunyai makna simbolis yang menarik. Setiap wilayah datang membawa kekhasannya masing-masing. Mereka tidak tampil sebagai bagian yang terpisah, tetapi sebagai bagian dari keseluruhan Kota Yogyakarta.
Mereka bergerak menuju ruang bersama. Di situlah saya melihat salah satu makna penting kemerdekaan: kita membutuhkan ruang bersama untuk mengalami bahwa kita adalah satu bangsa.
Ruang bersama itu semakin penting pada zaman ketika kehidupan masyarakat semakin terfragmentasi. Media sosial memungkinkan kita hidup dalam kelompok-kelompok yang memiliki pandangan, pilihan, dan selera yang sama. Algoritma bahkan dapat membuat kita semakin jarang berjumpa dengan mereka yang berbeda.
Malioboro menawarkan pengalaman yang sebaliknya. Di sana orang tidak memilih siapa yang berada di sebelahnya. Anak-anak, orang dewasa, pedagang, wisatawan, seniman, pejabat, warga lokal, dan pendatang berada dalam ruang yang sama. Mereka menyaksikan pawai yang sama dan merayakan kegembiraan yang sama.
Barangkali inilah salah satu fungsi penting ruang publik dalam kehidupan demokratis: membuat kita berjumpa dengan sesama manusia, bukan hanya dengan orang-orang yang sepemikiran dengan kita.
Pesta rakyat bukan sekadar pesta
Perayaan kemerdekaan di Malioboro juga menghadirkan pesta rakyat dengan berbagai kegiatan. Ada kibaran Merah Putih, pemeriksaan kesehatan, parade UMKM, bergodo, festival pengamen, hingga pesta angkringan.
Sekilas semuanya tampak sebagai hiburan. Tetapi jika diperhatikan lebih dalam, terdapat pesan sosial yang kuat. Kemerdekaan seharusnya memang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Apa artinya kemerdekaan jika rakyat tidak sehat? Apa artinya kemerdekaan jika pelaku UMKM tidak memiliki ruang untuk berkembang? Apa artinya kemerdekaan jika seniman jalanan tidak mendapatkan tempat untuk berekspresi? Apa artinya kemerdekaan jika masyarakat kehilangan kesempatan untuk bertemu dan membangun persaudaraan?
Karena itu, pesta rakyat sesungguhnya dapat menjadi cara konkret menerjemahkan kemerdekaan.
Kemerdekaan bukan hanya perkara politik, melainkan menyangkut kesejahteraan, kesehatan, kesempatan bekerja, kebebasan berekspresi, kebudayaan, dan terutama kemampuan masyarakat untuk hidup bersama secara bermartabat.
Anak-anak dan masa depan Indonesia
Di antara kerumunan pawai, perhatian saya juga tertuju kepada anak-anak. Mereka hadir dengan wajah penuh kegembiraan, membawa bendera kecil, mengenakan pakaian merah putih, dan mengikuti suasana perayaan.
Bagi mereka, kemerdekaan mungkin belum mempunyai makna historis yang mendalam. Mereka belum mengalami perjuangan sebagaimana generasi sebelumnya. Tetapi pengalaman seperti inilah yang kelak membentuk ingatan kebangsaan mereka.
Mereka belajar bahwa Indonesia bukan hanya sesuatu yang dibaca dalam buku pelajaran. Indonesia adalah orang-orang yang mereka lihat, ruang yang mereka tempati, budaya yang mereka kenal, dan kebersamaan yang mereka alami.
Karena itu, pendidikan kebangsaan tidak cukup dilakukan melalui ceramah tentang nasionalisme. Anak-anak perlu mengalami kebangsaan. Mereka perlu melihat keberagaman. Mereka perlu berjumpa dengan orang yang berbeda. Mereka perlu mengalami kerja sama. Mereka perlu merasakan kegembiraan merayakan sesuatu bersama. Kemerdekaan yang dialami akan jauh lebih membekas daripada kemerdekaan yang hanya dihafalkan.
Merawat kemerdekaan
Melihat kemeriahan Malioboro pada perayaan HUT RI ke-81, saya semakin yakin bahwa tugas kita bukan hanya mempertahankan kemerdekaan, tetapi juga mengisi dan merawatnya.
Kemerdekaan dapat kehilangan maknanya jika masyarakat semakin terpecah. Kemerdekaan kehilangan rohnya ketika perbedaan menjadi alasan untuk saling merendahkan. Kemerdekaan kehilangan maknanya ketika ruang publik hanya menjadi tempat transaksi ekonomi tanpa ruang bagi persaudaraan.
Karena itu, perayaan seperti di Malioboro patut dilihat lebih dari sekadar agenda tahunan. Di tengah berbagai persoalan bangsa, kita membutuhkan lebih banyak ruang untuk bertemu, bergembira, berdialog, dan bekerja bersama. Kita membutuhkan pengalaman bahwa perbedaan bukan ancaman. Kita membutuhkan kesempatan untuk melihat bahwa orang lain, dengan segala perbedaannya, tetap merupakan bagian dari kita.
Malioboro pada hari itu memberikan pelajaran sederhana: Indonesia menjadi kuat ketika rakyatnya berjalan bersama.
Pawai dari berbagai kemantren akhirnya bertemu dalam satu ruang. Berbagai identitas hadir tanpa harus saling meniadakan. Merah putih menjadi titik temu.
Saya pulang dari Malioboro bukan hanya membawa foto-foto pawai. Saya membawa sebuah kesan: kemerdekaan ternyata bukan sesuatu yang jauh di masa lalu. Kemerdekaan dapat kita lihat, kita dengar, dan kita rasakan ketika rakyat berkumpul dalam kebersamaan.
Kemerdekaan memang telah diproklamasikan 81 tahun lalu. Tetapi setiap generasi mempunyai tugas untuk membuatnya kembali hidup. Dan pada hari itu, di Malioboro, saya melihat kemerdekaan itu berjalan.
Merdeka bukan sekadar bebas dari penjajahan. Merdeka adalah kemampuan untuk hidup bersama sebagai bangsa yang berbeda-beda, tetapi tetap saling menjaga. Dirgahayu Republik Indonesia. Merdeka!!!

