Setelah Wisuda, Lalu Apa? Pelajaran dari WUJA XI di Yogyakarta
Tulisan dari Bernardus Agus Rukiyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Alumni Lebih dari Sekadar Gelar
Setiap tahun, ribuan mahasiswa mengenakan toga, menerima ijazah, lalu berfoto bersama keluarga. Momen wisuda selalu menjadi penanda keberhasilan. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan setelah semua perayaan itu usai: apa arti menjadi alumni?
Pertanyaan sederhana ini justru menjadi tema besar dalam World Union of Jesuit Alumni (WUJA) XI yang berlangsung di Yogyakarta pada 29 Juli–2 Agustus 2026. Lebih dari seribu alumni dari berbagai negara berkumpul bukan untuk mengenang masa kuliah atau memperluas jaringan profesional. Mereka diajak melihat kembali makna pendidikan dan tanggung jawab setelah meninggalkan bangku sekolah maupun kampus.
Pesan yang muncul berulang kali cukup menarik: alumni bukan sekadar orang yang pernah belajar di sebuah institusi. Alumni adalah bagian dari misi lembaga pendidikan itu sendiri.
Gagasan tersebut terasa sangat relevan bagi Indonesia.
Ketika Sukses Perlu Didefinisikan Ulang
Selama ini, status alumni sering kali identik dengan jejaring kerja, reuni, atau kebanggaan terhadap almamater. Tidak sedikit yang mengukur keberhasilan alumni dari jabatan, kekayaan, atau popularitas. Padahal, ukuran itu terlalu sempit.
Sebuah kampus tidak hanya dikenang karena gedungnya yang megah atau peringkatnya yang tinggi. Reputasi sebuah kampus justru tercermin dari cara alumninya hadir di tengah masyarakat.
Apakah mereka menjadi pemimpin yang jujur?
Apakah mereka menjadi profesional yang menghormati martabat orang lain?
Apakah ilmu yang diperoleh benar-benar membawa manfaat bagi masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan itu semakin penting di tengah perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat.
AI Tidak Bisa Menggantikan Tanggung Jawab
Kecerdasan buatan (AI) membuat banyak pekerjaan berubah. Dunia kerja menuntut keterampilan baru. Persaingan semakin ketat. Tidak mengherankan jika banyak mahasiswa merasa harus terus mengejar sertifikat, kursus, atau kemampuan teknis agar tidak tertinggal.
Semua itu memang penting.
Namun, dunia juga sedang menghadapi persoalan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan teknologi. Korupsi, kekerasan, intoleransi, perundungan, hingga penyebaran hoaks bukan terjadi karena manusia kurang pintar. Sering kali, masalah muncul karena pengetahuan tidak diimbangi dengan tanggung jawab.
Di sinilah makna menjadi alumni perlu diperluas. Wisuda bukan garis akhir pendidikan. Justru setelah wisuda, seseorang mulai diuji: bagaimana ia menggunakan ilmu, kewenangan, dan kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Belajar Sepanjang Hayat, Mengabdi Sepanjang Hayat
Dalam berbagai kesempatan, kita sering mendengar istilah lifelong learning atau belajar sepanjang hayat. Barangkali kini saatnya kita juga berbicara tentang lifelong responsibility—tanggung jawab sepanjang hayat.
Artinya, seseorang tidak berhenti menjadi bagian dari almamater ketika ijazah diterima. Ia membawa nilai-nilai yang pernah dipelajari ke ruang kerja, keluarga, organisasi, bahkan media sosial.
Di era digital, setiap orang memiliki ruang untuk memengaruhi orang lain. Seorang guru memengaruhi muridnya. Seorang dokter memengaruhi pasiennya. Seorang pengusaha memengaruhi karyawannya. Seorang kreator konten memengaruhi jutaan pengikutnya.
Karena itu, kualitas sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh banyaknya lulusan perguruan tinggi, tetapi juga oleh kualitas kontribusi para alumninya.
Warisan WUJA XI
Indonesia sedang memasuki masa penting menuju Indonesia Emas 2045. Kita sering berbicara tentang pembangunan sumber daya manusia, inovasi, dan daya saing global. Semua itu tentu penting. Namun pembangunan manusia tidak boleh berhenti pada kemampuan menghasilkan produk atau meningkatkan produktivitas.
Yang lebih penting adalah membangun budaya tanggung jawab.
Budaya ketika seseorang merasa terpanggil untuk memberi, bukan sekadar menerima.
Budaya ketika keberhasilan pribadi juga membawa manfaat bagi orang lain.
Budaya ketika ilmu pengetahuan digunakan untuk memperkuat kehidupan bersama.
Inilah pelajaran paling sederhana dari WUJA XI di Yogyakarta.
Pendidikan sejati tidak berakhir ketika seseorang meninggalkan ruang kelas.
Pendidikan baru benar-benar dimulai ketika ilmu yang diperoleh diwujudkan dalam tindakan nyata.
Pada akhirnya, masyarakat tidak akan terlalu mengingat di kampus mana seseorang belajar.
Yang akan diingat adalah bagaimana ia memperlakukan orang lain, bagaimana ia menggunakan pengetahuannya, dan bagaimana ia memberi arti bagi kehidupan bersama.
Barangkali itulah makna terdalam menjadi alumni. Bukan sekadar pernah lulus, melainkan terus bertumbuh, terus belajar, dan terus mengabdi.

