Bukan Sekadar Band Pulang Kantor, Ini Cerita Perunggu

Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Pamulang
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari bervy ahmad yuliyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kita hidup di tengah kesibukan yang seolah tidak pernah berhenti. Pekerjaan, kuliah, hubungan, keluarga, dan berbagai urusan lainnya sering membuat kita lupa untuk berhenti sejenak. Kita sibuk mengejar sesuatu sampai terkadang lupa bertanya kepada diri sendiri, sebenarnya untuk apa semua yang sedang kita jalani?
Hal tersebut membuat lagu “33x” milik Perunggu menarik untuk dibicarakan. Lagu ini menurut saya bukan hanya tentang sebuah cerita, tetapi juga dapat menjadi pengingat tentang bagaimana seseorang menjalani kehidupan di tengah berbagai kesibukan.

Perunggu merupakan grup musik rock alternatif asal Indonesia yang dibentuk pada 2019. Band ini beranggotakan Maul Ibrahim, Adam Adenan, dan Ildo Hasman. Ketiganya memiliki kesibukan sebagai pekerja kantoran, tetapi tetap menyempatkan diri untuk bermusik setelah menyelesaikan pekerjaan. Dari kebiasaan tersebut, Perunggu kemudian dikenal dengan sebutan “Band Pulang Kantor”.
Ketika Kesibukan Menjadi Bagian dari Kehidupan
Menurut saya, cerita di balik Perunggu menarik karena musik mereka berawal dari kehidupan yang cukup sederhana. Mereka tidak meninggalkan pekerjaan hanya untuk bermusik, tetapi justru mencoba menjalankan keduanya secara bersamaan.
Kondisi tersebut terasa dekat dengan kehidupan banyak orang. Ada yang harus kuliah sambil bekerja, ada yang mengejar pendidikan sambil membangun sesuatu yang disukai, dan ada juga yang baru memiliki waktu untuk melakukan hobinya setelah menyelesaikan berbagai kewajiban.
Dari situ saya melihat bahwa kesibukan sebenarnya tidak selalu menjadi alasan untuk meninggalkan hal yang kita sukai. Perunggu menunjukkan bahwa waktu yang terbatas tetap bisa digunakan untuk menghasilkan sesuatu selama ada kemauan untuk menjalaninya.
Perjalanan tersebut kemudian berkembang melalui berbagai karya. Pada 2022, Perunggu merilis album pertama mereka, Memorandum. Pada 2025, Perunggu kembali melanjutkan perjalanan musiknya melalui album kedua berjudul Dalam Dinamika. Album ini membawa cerita mengenai kehidupan, hubungan, perubahan, serta berbagai pengalaman sehari-hari. Menurut saya, album ini menunjukkan perkembangan Perunggu dalam menyampaikan cerita melalui musik. Dalam Dinamika juga mendapat apresiasi melalui nominasi Album Pop Terbaik dalam AMI Awards 2026. Bagi saya, masuknya album tersebut ke dalam nominasi menjadi salah satu pencapaian yang menunjukkan bahwa karya Perunggu mendapat perhatian di industri musik Indonesia.
“33x” dan Pengingat di Tengah Kesibukan
Salah satu lagu Perunggu yang menurut saya memiliki cerita berbeda adalah “33x”. Lagu tersebut membawa nuansa religius yang membuatnya tidak hanya dapat didengarkan sebagai musik, tetapi juga dapat direnungkan pesannya.
Salah satu bagian yang menarik adalah kalimat “Sebutlah namanya, tetap di jalannya.” Bagi saya, bagian tersebut terasa seperti pengingat agar seseorang tidak melupakan Tuhan ketika menjalani kehidupannya.
Kita sering mengingat Tuhan ketika sedang menghadapi masalah, tetapi terkadang lupa ketika kehidupan sedang berjalan dengan baik. Padahal, mengingat Tuhan seharusnya tidak hanya dilakukan pada saat membutuhkan pertolongan.
Pesan tersebut juga dapat dikaitkan dengan QS. Ar-Ra’d ayat 28, yang menjelaskan tentang ketenteraman hati orang-orang beriman melalui mengingat Allah. Namun, lirik “33x” bukan kutipan langsung dari ayat tersebut. Hubungannya lebih kepada pesan tentang pentingnya mengingat Allah dalam menjalani kehidupan.
Ketika Lagu Tidak Hanya Didengarkan
Menurut saya, sebuah lagu menjadi lebih menarik ketika pendengarnya tidak hanya mendengarkan musiknya, tetapi juga merasakan pesan yang ada di dalamnya.
Hal tersebut dapat terlihat ketika Perunggu membawakan “33x” secara langsung. Dalam penampilan mereka di Ruang Indonesia Festival 2026, sejumlah penonton terlihat mengangkat kedua tangan ketika lagu tersebut dimainkan.
Bagi saya, momen tersebut menarik karena menunjukkan bahwa sebuah lagu bisa memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang. Ada yang mungkin hanya menikmati musiknya, ada yang mengingat pengalaman pribadi, dan ada pula yang menjadikannya sebagai pengingat untuk lebih dekat dengan Tuhan.
Di sinilah menurut saya kekuatan sebuah lagu. Lagu tidak selalu harus memberikan jawaban. Terkadang, lagu hanya perlu membuat seseorang berhenti sebentar dan memikirkan kehidupannya sendiri.
Kita Sering Terlalu Sibuk Mengejar Sesuatu
Kesibukan memang merupakan bagian dari kehidupan. Kita perlu bekerja, belajar, mengejar cita-cita, dan memenuhi berbagai tanggung jawab. Namun, terkadang kita terlalu fokus mengejar tujuan sampai lupa menikmati proses yang sedang dijalani.
Kita mungkin sibuk memikirkan pekerjaan berikutnya, tugas yang belum selesai, atau sesuatu yang ingin dicapai. Tanpa sadar, waktu terus berjalan dan kita jarang memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk beristirahat dan melihat kembali apa yang sebenarnya penting.
Menurut saya, cerita Perunggu sebagai “Band Pulang Kantor” juga bisa dilihat dari sisi tersebut. Mereka menjalani pekerjaan sekaligus tetap memberikan ruang untuk bermusik. Dari sana muncul karya yang kemudian dapat dinikmati banyak orang.
Hal ini membuat saya melihat Perunggu bukan hanya sebagai band yang memiliki lagu-lagu tentang kehidupan, tetapi juga sebagai contoh bahwa kehidupan sehari-hari dapat menjadi sumber cerita dan inspirasi.
Perunggu dan Cerita yang Dekat dengan Kita
Pada akhirnya, menurut saya, daya tarik Perunggu bukan hanya karena mereka dikenal sebagai “Band Pulang Kantor”. Lebih dari itu, mereka mampu membawa pengalaman sehari-hari ke dalam musik.
Cerita tentang pekerjaan, kehidupan, hubungan, kesibukan, hingga mengingat Tuhan merupakan hal-hal yang sebenarnya dekat dengan kehidupan kita. Mungkin itu alasan mengapa lagu-lagu Perunggu terasa mudah diterima oleh pendengarnya.
Kita tidak selalu membutuhkan sesuatu yang besar untuk menemukan makna. Terkadang, sebuah lagu yang kita dengarkan setelah pulang kuliah, pulang kerja, atau ketika sedang sendirian sudah cukup untuk membuat kita berhenti sejenak.
Bagi saya, “33x” bukan hanya sebuah lagu Perunggu, tetapi juga pengingat bahwa di tengah kesibukan mengejar kehidupan, kita tetap perlu mengingat siapa yang menjadi tempat kita kembali.
Penutup
Perunggu menunjukkan bahwa musik dapat lahir dari kehidupan yang sederhana. Dari rutinitas pulang kantor hingga menjadi karya yang didengarkan banyak orang, perjalanan mereka memperlihatkan bahwa kesibukan tidak harus membuat seseorang berhenti melakukan hal yang disukai.
Pada akhirnya, mungkin yang paling penting bukan seberapa sibuk kita atau seberapa jauh pencapaian yang sudah kita dapatkan, tetapi apakah kita masih menyempatkan diri untuk menikmati perjalanan dan mengingat hal-hal yang benar-benar berarti dalam hidup.
